Kolom Sosial Politik

Negeri Kekerasan Narasi

144views

 

Oleh: Ridhazia

SUNGGUH  luar biasa kekerasan narasi di negeri yang disebut Indonesia. Padahal penduduknya dikenal ramah.

Kekerasan narasi sebagai bahasa tulis atau lisan di platform publik sudah kehilangan hati dan akal sehat. Bukan saja pesan konten saling merendahkan dan menghinakan. Juga saling mencabik-cabik.

Rasanya, tidak ada lagi alasan untuk memilih frasa lugas berstatus. Apalagi untuk sekedar santun dan beretika. Inginnya tegas dan ngegas saja. Jika mungkin sampai memporak-porandakan wacana lawannya.

Pendek kata kekerasan narasi tidak lagi mampu mengidetifikasi perbedaan usia dan gender. Tidak pula mengenal perbedaan suku, ras, keyakinan dan agama.

Semisal kasus Resbob yang mengucapkan kalimat bernada makian kepada kelompok Viking, suporter Persib Bandung. Selain melontarkan hinaan yang ditujukan kepada suku Sunda.

Tidak lagi ramah se-Dunia

Fenomena kekerasan narasi secara teori terjadi karena anonimitas. Merasa tidak dikenal identitasnya. Padahal jejak digital itu mudah ditemukan.

Ada benarnya hasil riset Digital Civility Index (DCI) Microsoft. Sejak 2020 penduduk Indonesia menempati peringkat terbawah dalam hal kesopanan dan keramahan berkomunikasi di media sosial

Skor terburuk sepanjang sebenua Asia-Pasifik memalukan. Bukan prestasi baik. Tapi dalam kegemaran menebar hoax, dan ujaran kebencian dibanding penduduk negeri lain.

Dengan kata lain, penduduk negeri ini diposisi terpuncak dalam hal meluapkan frustrasi, marah, protes, dan kebencian di media sosial tanpa risi dan rasa takut lagi.*

  * Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.

Leave a Response