Uncategorized

Menteri ESDM: Pemerintah Pastikan Ketahanan Energi Nasional Aman Di Tengah Dinamika Global

49views

JAKARTA, Bandungpis Id. – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa pemerintah memastikan ketahanan energi nasional tetap terjaga dengan kokoh, meskipun terjadi dinamika geopolitik global yang kompleks, khususnya di kawasan Timur Tengah. Penegasan substansial tersebut disampaikan secara resmi pada hari Selasa, 3 Maret 2026, setelah menyelesaikan rapat koordinasi bersama Dewan Energi Nasional (DEN) di Gedung Kementerian ESDM, Jakarta Pusat; rapat tersebut secara khusus membahas perkembangan terkini dan tantangan strategis di sektor energi nasional.

Menurut analisis Bahlil, ketegangan geopolitik yang melibatkan Israel, Amerika Serikat, dan Iran telah menimbulkan signifikansi terhadap jalur strategi Selat Hormuz; jalur tersebut menjadi lalu lintas bagi sekitar 20,1 juta barel minyak mentah per hari dalam perdagangan global. Kondisi geopolitik yang tidak disebutkan tersebut berpotensi memberikan dampak yang luas terhadap rantai pasok energi dunia secara keseluruhan, termasuk Indonesia yang secara historis mengimpor sebagian volume minyak mentah dari kawasan Timur Tengah.

Namun demikian, pemerintah telah merencanakan dan menyiapkan langkah-langkah mitigasi yang komprehensif, salah satunya dengan melakukan diversifikasi sumber impor minyak mentah secara terstruktur. Sebagian besar pasokan volume besar telah dialihkan secara bertahap dari kawasan Timur Tengah ke Amerika Serikat dan negara-negara lain di kawasan yang lebih stabil; Hal ini dilakukan guna menjamin kepastian pasokan energi bagi kebutuhan dalam negeri. Sedangkan untuk impor bahan bakar minyak (BBM) jenis bensin dengan angka RON 90, 93, 95, dan 98, telah dipastikan sepenuhnya tidak bergantung pada sumber dari kawasan Timur Tengah, sehingga ketersediaannya relatif aman dari gangguan geopolitik.

Di sektor gas cair (LPG), kebutuhan impor Indonesia pada tahun ini diperkirakan mencapai sekitar 7,8 juta ton. Secara komposisi, sebanyak 70 persen dari total pasokan berasal dari Amerika Serikat, sedangkan 30 persen sisanya diperoleh dari kawasan Timur Tengah, termasuk pasokan dengan Saudi Aramco. Dalam rangka mengantisipasi potensi risiko, pemerintah tengah melakukan kajian mendalam terkait opsi penyesuaian sumber pasokan; langkah ini bertujuan untuk meminimalkan risiko gangguan pada distribusi dan ketersediaan LPG bagi masyarakat.

Terkait dengan harga minyak mentah dunia, Bahlil menyampaikan bahwa asumsi harga Harga Minyak Mentah Indonesia (ICP) yang digunakan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun ini ditetapkan sebesar 70 dolar Amerika Serikat per barel. Pada periode saat ini, harga minyak mentah dunia berada di kisaran 78 hingga 80 dolar Amerika Serikat per barel; Kenaikan harga ini secara ekonomi berpotensi menambah beban anggaran subsidi energi, namun di sisi lain juga memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan penerimaan negara dari hasil produksi minyak nasional, yang saat ini mencapai sekitar 600 ribu barel per hari.

Pemerintah secara tegas memastikan bahwa stok BBM dan LPG di tingkat nasional saat ini berada di atas standar minimum yang ditetapkan, yaitu lebih dari 21 hari konsumsi. Ke depan, pemerintah akan terus memperkuat kapasitas infrastruktur penyimpanan energi hingga sejalan dengan standar internasional yang berlaku; Upaya strategis ini bertujuan untuk meningkatkan ketahanan energi nasional secara menyeluruh dan memberikan kepastian pasokan yang optimal bagi seluruh lapisan masyarakat, terutama menjelang periode puncak konsumsi menjelang Hari Raya Idulfitri. ( Tanya/Id) .***

Leave a Response