Menghidupkan Kembali Majalah Versi Cetak di Sekolah
Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, pendiri Sekolah Menulis elipsis.


KELAS–satu SMP saya melihat karya teman-teman di mading sekolah. Mading itu hanya sebuah papan kayu yang ditutupi kaca. Namun, melihat karya teman-teman di kelas lain muncul di sana, saya sangat tertarik untuk menulis.
Lalu, saya paksakan menulis. Menulis apa saja, terutama puisi. Akhirnya, karya-karya saya menghiasi mading sekolah, hingga tamat SMP.
Di SMA, saya mendapat amanah mengelola program literasi sekolah. Dulu, istilah “literasi” belum populer. Kami menerbitkan sebuah majalah. Mesin cetaknya stensilan. Seorang guru juga menyuruh saya mengirim tulisan ke koran. Ketika karya saya terbit di koran, saya senang sekali.
Gara-gara kebiasaan dan kesukaan menulis sejak SMP dan SMA, hingga kini saya memilih hidup dan bekerja di industri tulis-menulis.
Saya katakan industri, pekerjaan itu tidak hanya menulis secara sich, tetapi juga pekerjaan lain di sekitarnya yang tidak jauh dari tulis-menulis. Ternyata, menulis itu asyik. Ada cuannya juga.
Senin, 12 Januari 2026, sekolah pertama yang saya singgahi di tahun baru ini adalah Perguruan Thawalib Putri Padang Panjang. Saya undangan memenuhi kepala sekolahnya untuk memberikan workshop menulis kreatif sekaligus mempersiapkan penerbitan majalah santri. Sebelum zaman pandemi, beberapa kali saya mampir ke madrasah ini, dan majalah perdananya serta saya meredam publikasinya.
Sejak era digital kian menguat, majalah sekolah versi cetak satu per satu berguguran. Banyak sekolah memilih beralih sepenuhnya ke media yang berani dengan alasan efisiensi, kecepatan, dan keterbatasan anggaran. Padahal, hilangnya majalah cetak bukan sekadar kehilangan produk media, melainkan juga menyusutnya satu ruang penting pembelajaran literasi yang selama ini berperan besar dalam membentuk kebiasaan membaca, menulis, dan berpikir kritis siswa.
Dari sisi literasi, majalah sekolah sejatinya adalah laboratorium belajar yang konkret. Siswa tidak hanya membaca dan menulis sebagai tugas akademik, tetapi menjalani proses nyata: mencari ide, membaca referensi, melakukan wawancara, menulis, menunting, hingga mempertanggungjawabkan karya yang dipublikasikan.
Proses ini melatih literasi baca-tulis, kemampuan berbahasa, berpikir kritis, serta kepekaan membedakan fakta dan opini. Lebih dari itu, majalah sekolah memberi ruang bagi siswa untuk menemukan suara dan identitasnya sendiri.
Di tengah gempuran digital, majalah cetak justru memiliki kelebihan yang tidak tergantikan. Membaca versi cetak mendorong fokus dan kedalaman. Tidak ada notifikasi atau gangguan, sehingga pembaca berinteraksi lebih utuh dengan teks. Bagi siswa yang terbiasa membaca cepat dan memahami lewat gawai, pengalaman ini menjadi latihan penting membaca dengan sabar dan reflektif.
Majalah cetak juga bukti menjadi fisik proses belajar. Kesalahan tidak bisa dihapus begitu saja; ini mendidik ketelitian, disiplin, dan tanggung jawab.
Selain itu, majalah cetak berfungsi sebagai arsip dan identitas sekolah. Ia menjadi dokumentasi perjalanan sekolah, rekaman suara siswa lintas angkatan, dan jejak budaya literasi yang dapat dibaca bertahun-tahun kemudian. Nilai simboliknya pun kuat.
Melihat nama tercetak di majalah memberi rasa bangga dan pengakuan bagi siswa, pengalaman literasi awal yang sering kali membekas seumur hidup. Dari sisi akses, majalah cetak juga lebih inklusif karena tidak bergantung pada gawai dan kuota.
Namun, kenyataan anggaran seringkali menjadi penghambat utama. Banyak sekolah mengeluhkan minimnya dana untuk mencetak majalah.
Di sini diperlukan perubahan strategi.
Majalah cetak tidak harus tebal dan mewah. Terbit tipis, berkualitas, dan menyorot, misalnya satu atau dua edisi tematik per tahun, jauh lebih realistis. Cetak terbatas untuk arsip, perpustakaan, guru, dan tamu, sementara siswa dapat mengakses versi digital (PDF) sebagai pendamping.
Dengan cara ini, biaya bisa ditekan tanpa menghilangkan nilai cetak.
Kunci lainnya adalah mengintegrasikan majalah sekolah ke dalam program resmi: Program Literasi Sekolah, Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), atau pembelajaran Bahasa Indonesia dan mata pelajaran lain. Ketika majalah diposisikan sebagai produk pembelajaran, bukan kegiatan tambahan, dukungan anggaran dan perhatian manajemen sekolah akan lebih kuat.
Potensi internal sekolah juga perlu dimaksimalkan. Siswa menulis dan membayang, guru berperan sebagai editor pendidik. Selain hemat biaya, proses ini justru memperkaya pengalaman belajar.
Di era digital, pendekatan paling sehat bukanlah memilih antara media cetak atau digital, melainkan menggabungkan keduanya. Versi digital unggul dalam jangkauan, kecepatan, dan terkecil. Ia efektif untuk promosi, distribusi luas, dan konten multimedia.
Sementara versi cetak berfungsi sebagai media literasi mendalam, arsip, dan simbol keseriusan berkarya. Model hybrid—cetak terbatas yang berkualitas, digital sebagai pendukung—adalah jalan tengah yang relevan.
Tantangan berikutnya adalah mengajak sekolah lain kembali peduli pada majalah cetak. Ajakan tidak cukup melalui wacana, tetapi harus melalui contoh nyata.
Majalah yang benar-benar terbit, tulisan siswa yang layak dibaca, dan dampak positifnya akan berbicara lebih lantang daripada slogan.
Forum MGMP, KKG, atau pertemuan kepala sekolah dapat menjadi ruang berbagi praktik baik. Penting pula membingkai majalah cetak sebagai program pengembangan mutu dan pembentukan karakter, bukan nostalgia masa lalu.
Untuk menyiapkan siswa menjadi penulis andal, majalah sekolah harus diposisikan sebagai “tangga awal” menuju dunia kepenulisan. Tulisan terbaik bisa dikurasi, dikirim ke media lokal atau nasional, atau dihimpun dalam antologi. Apresiasi—sertifikat, peluncuran majalah, pameran karya—akan menumbuhkan motivasi dan kepercayaan diri.
Guru pembina memegang peran sentral sebagai pendamping yang membimbing proses kreatif sekaligus menjaga kualitas.
Majalah sekolah versi cetak bukan sekadar lembaran kertas. Ia adalah ruang belajar, arsip budaya, dan simbol peradaban kecil di lingkungan sekolah.
Digital penting dan tak terelakkan, tetapi cetak memberi kesan yang lebih dalam dan tahan waktu.
Jika sekolah mampu memosisikan majalah cetak secara strategis, mengelolanya secara realistis, dan menyimpannya dengan tujuan pendidikan, maka majalah sekolah tidak hanya akan hidup kembali, tetapi juga menjadi ladang subur lahirnya penulis-penulis muda yang kritis, berkarakter, dan berdaya saing.***Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, pendiri Sekolah Menulis elipsis.


