
Ketua Umum NPCI Kota Bandung, Yadi Sofyan, mengatakan pihaknya telah melakukan monitoring dan evaluasi (monev) terhadap 10 cabang olahraga. Kegiatan tersebut dilakukan untuk melihat perkembangan persiapan atlet, sekaligus menyerap aspirasi dan kendala yang dihadapi masing-masing cabor menjelang pertandingan.
“Saya sudah 10 cabor keliling, paling tinggal menyisa tujuh mungkin sekarang. Alhamdulillah, dari semua, walaupun kondisi sekarang yang tidak baik-baik saja, morat-marit dalam segi keuangan anggaran, tapi banyak di antara mereka tetap semangat,” ujar Yadi.usai melakukan monitoring dan evaluasi (monev) ke cabor blind judo di komplek GOR Pajajaran Kota Bandung, Senin (14/9/2026)
Menurut Yadi, hasil monev menunjukkan bahwa sebagian besar atlet dan pelatih masih memiliki tekad kuat untuk memberikan kontribusi bagi Kota Bandung. Kondisi tersebut menjadi alasan bagi pengurus NPCI untuk tetap menjaga optimisme meskipun dukungan anggaran belum sesuai dengan kebutuhan persiapan.
“Kita tetap optimistis bisa memberikan yang terbaik untuk Kota Bandung,” katanya.
Yadi mengakui, persoalan anggaran menjadi salah satu tantangan utama yang dirasakan atlet dan pelatih dalam persiapan Peparda kali ini. Keterbatasan dukungan pembiayaan dinilai berpengaruh terhadap kenyamanan dan konsentrasi atlet dalam menjalani program latihan.
“Keluhan-keluhan dari atlet ya wajar. Saya juga yang mengalami atlet dari tahun 2004 sampai sekarang, mungkin kondisi Kota Bandung sekarang ini, kondisi yang menjelang Peparda itu yang sangat-sangat dalam segi keuangan sangat-sangat kurang, sangat-sangat minim,” tuturnya.
Menurutnya, perbedaan anggaran tersebut menjadi tantangan tersendiri karena Kota Bandung kini berstatus sebagai tuan rumah Peparda. Terlebih, target yang dibebankan kepada kontingen Kota Bandung tidak ringan, yakni mempertahankan bahkan meningkatkan prestasi hingga menjadi juara umum.
“Padahal kita tuan rumah. Dikasih Rp11 miliar aja juara ketiga waktu itu, peringkat ketiga. Sedangkan kita Rp7,5 miliar dituntut juara satu,” ujarnya.
Kendati demikian, Yadi menegaskan bahwa keterbatasan anggaran tidak boleh memadamkan semangat perjuangan atlet. Ia memilih untuk tetap mendorong seluruh kontingen agar fokus pada persiapan dan memberikan kemampuan terbaik saat pertandingan berlangsung.
“Tapi tetap, kondisi apa pun saya tetap masih optimistis, saya tetap bertekad, saya tetap semangat untuk memberikan yang terbaik untuk Kota Bandung,” tegasnya.
Dari hasil monitoring terhadap 10 cabor, Yadi menilai kesiapan atlet secara umum telah mencapai lebih dari 90 persen. Persiapan tersebut mencakup aspek fisik, strategi pertandingan, hingga kesiapan mental menghadapi persaingan di Peparda.
Yadi menyebutkan, perhatian terhadap pembinaan olahraga disabilitas tetap ada dari berbagai pihak. Namun, kondisi keuangan daerah yang sedang dihadapi membuat dukungan anggaran belum dapat memenuhi seluruh kebutuhan kontingen.
“Semuanya kalau menurut saya perhatian ke NPCI Kota Bandung. Tapi karena kondisi yang sekarang emang tidak baik-baik saja, mungkin ini yang harus kita terima dan harus kita syukuri,” katanya.
Sebagai atlet tuna netra, ia juga merasakan langsung kebutuhan pendamping ketika mengikuti pertandingan. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari edukasi yang disampaikannya kepada atlet NPCI Kota Bandung agar memahami proses panjang pembinaan olahraga prestasi.
“Apalagi kalau saya tuna netra, ikut turnamen itu kan nggak bisa saya berjalan sendiri. Saya harus ngambil orang atau bayar orang untuk ngantar kita turnamen,” ujarnya.
Selain menjaga semangat atlet, Yadi berharap pemerintah dapat mencari solusi tambahan untuk memenuhi kebutuhan kontingen. Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah besaran uang saku dan transportasi atlet yang dinilai belum memadai untuk mendukung persiapan Peparda.
“Saya juga bermohon kepada Bapak Wali atau pemerintah terkait, mungkin ada solusi lain kalau dari hibah kan nggak mungkin, untuk tambahan kepada mereka. Jangan sampai uang saku, uang transport itu di Rp300 ribu,” harapnya.
Ia menilai besaran uang transportasi tersebut sangat minim apabila dibandingkan dengan kebutuhan atlet selama mengikuti rangkaian persiapan dan pertandingan. Karena itu, NPCI Kota Bandung berharap adanya dukungan dari sumber pendanaan lain, termasuk tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR.
“Itu kurang manusiawi, kalau menurut saya sangat-sangat kurang,” tegas Yadi.
Terkait aspirasi yang disampaikan atlet, Yadi menegaskan bahwa NPCI Kota Bandung akan terus berupaya memperjuangkannya. Namun, ia memilih tidak memberikan janji yang belum tentu dapat direalisasikan, melainkan menyampaikan kondisi secara terbuka kepada seluruh kontingen.
“Ya kita berupaya, tentunya kan kita berupaya. Karena kalau bagi saya, saya nggak mau mudah janji seperti yang kemarin-kemarin. Ketika nggak bisa, tapi kan kita tetap berupaya,” ujar Yadi.
Pada kesempatan itu ,Yadi Sofyan memperkenalkan Manajer blind judo Peparda VII 2026 yaitu Zulkarnaen atau Bang Joel. (den)





