Bandung Raya

Bedah Dua Buku Daddy Rohanady: Kritik Pembangunan Jabar hingga Pesan Keras untuk Generasi Muda

61views

BANDUNG, Bandungpos.id – Dua buku buah tangan Drs. Daddy Rohanady dibongkar habis dalam kegiatan bedah buku bertajuk “Bersama Literasi Mewujudkan Jabar Istimewa untuk Semua” di Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah (Dispusipda) Jawa Barat, Jalan Kawaluyaan Indah II No. 4, Jatisari, Kecamatan Buahbatu, Kota Bandung, Selasa (15/9/2026).

Bukan sekadar membedah isi buku, Daddy yang juga Anggota Komisi IV DPRD Jawa Barat itu menyodorkan pesan keras: generasi muda tak boleh memutus mata rantai pengalaman. Apa yang sudah dilakukan generasi terdahulu harus dibaca, dipelajari, lalu diteruskan dengan gagasan yang lebih segar.

Dua buku yang ditulis Daddy sama-sama bersinggungan dengan dunia politik, tetapi memiliki sudut pandang berbeda. Buku pertama lebih banyak mengupas pemerintahan dan pembangunan, sementara buku lainnya berbicara tentang partai politik tempat dirinya bernaung.

Bagi Daddy, kedua buku tersebut bukan sekadar catatan perjalanan hidup. Buku itu sengaja ditinggalkan sebagai bahan belajar bagi generasi berikutnya.

“Saya ingin generasi muda belajar dari mereka yang terdahulu. Kebetulan umur saya sudah 64 tahun. Apa yang saya miliki, apa yang saya tahu, setidaknya spiritnya diwarisi oleh generasi muda,” ujar Daddy.

Daddy menegaskan, generasi muda merupakan calon pemegang tongkat estafet bangsa. Tak seorang pun bisa memastikan akan menjadi apa dirinya di masa depan.

Karena itu, ia mendorong anak-anak muda untuk memperkuat budaya membaca. Pesan tersebut bahkan ditujukannya secara khusus kepada wartawan.

“Baca, baca dan baca. Apalagi wartawan. Wartawan kalau tidak baca, di mata saya tulisannya pasti kering. Tulisan pasti katanya itu lagi, itu lagi,” katanya.

Dari Puisi hingga Kritik Kertajati
Salah satu buku Daddy memiliki cara unik dalam menyampaikan gagasan. Kritik, pandangan dan catatan mengenai pembangunan Jawa Barat dikemas melalui puisi dan sajak.

Berbagai persoalan pembangunan disentuh, mulai dari perhubungan, bina marga, lingkungan hidup, sumber daya mineral hingga Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati.

Daddy sengaja memilih bahasa sederhana agar gagasannya tidak berhenti di kalangan tertentu.

“Kalau kita pakai bahasa yang rumit, disuruh baca anak-anak SMA, mereka harus menafsirkan sendiri. Saya ingin sederhana supaya poin-poinnya mudah dipahami,” tuturnya.

Tulisan-tulisan tersebut sekaligus menjadi ruang bagi Daddy untuk menyampaikan kritik terhadap kebijakan pembangunan Jawa Barat.
Kertajati menjadi salah satu persoalan yang mendapat sorotan. Daddy berharap bandara tersebut mampu menjadi “jendela besar” Jawa Barat sekaligus pengungkit perekonomian daerah.

Ia bahkan mengaku memiliki ikatan emosional dengan pembangunan Kertajati sejak proses groundbreaking pada era Presiden Joko Widodo.

“Saya senang ketika Pak Jokowi melakukan groundbreaking. Saya pikir kita punya jendela besar, bisa pergi dari dan ke Jawa Barat lewat Kertajati. Ternyata kemudian berubah,” katanya.

Tak Harus ke Bandung, yang Penting Terus Belajar

Daddy juga membuka cerita perjalanan hidupnya. Menjadi anggota legislatif bukanlah cita-cita yang sejak awal ia rancang.
Saat masih duduk di sekolah dasar, keinginannya justru sederhana: bisa terus bersekolah hingga Bandung.

Namun, menurutnya, perkembangan pendidikan di Jawa Barat kini telah membuka peluang lebih luas bagi generasi muda. Mereka tidak selalu harus datang ke Bandung untuk mendapatkan pendidikan berkualitas.

“Sekarang di Cirebon sudah ada ITB. Ada Unpad juga. Jadi tidak harus pergi ke Bandung. Yang penting bagaimana anak-anak muda terus belajar,” ujarnya.

Bagi Daddy, setiap gagasan yang lahir dari lapangan bisa dituangkan melalui berbagai bentuk tulisan. Ada yang menjadi puisi, ada pula yang dikemas sebagai esai maupun opini.

Melalui bedah dua buku tersebut, Daddy ingin literasi tidak berhenti pada aktivitas membaca.
Lebih jauh, literasi harus melahirkan keberanian untuk berpikir, menulis, mengkritik dan menyampaikan gagasan demi kemajuan Jawa Barat.

Sebab, menurut Daddy, generasi muda bukan sekadar penonton perjalanan pembangunan.
Merekalah pemegang tongkat estafet berikutnya. (adem/BNN)

Leave a Response