Kolom Sosial Politik

Kisruh NU Kisruh Tambang?

304views

 

Oleh: Ridhazia

GUS Yahya diberhentikan dari jabatan Ketua Umum PBNU pada pukul 00.45 WIB, Rabu, 26 November 2025.

Mantan Juru Bicara Istana era Presiden Gus Dur itu tidak lagi memiliki wewenang dan hak menggunakan atribut, fasilitas dan/atau hal-hal yang melekat pada jabatan Ketua Umum PBNU.

Pemberhentian Gus Yahya tertuang dalam Surat Edaran PBNU Nomor 4785/PB.02/A.II.10.01/99/11/2025 yang ditandatangani oleh Wakil Rais Aam, KH. Afifuddin Muhajir dan Katib Syuriah, KH. Tajul Mafakhir.

Tidak ada Pemakzulan

Berbanding terbalik dengan pemberitaan di ruang publik.

Dalam rapat Silaturahim Alim Ulama di Kantor PBNU, Minggu (23/11) malam, PBNU menyepakati bahwa kepengurusan harus selesai selama satu periode.

Juga tidak ada pemakzulan Ketua Umum Yahya Cholil Staquf.

Hal yang serupa yang pernah dikemukakan Gus Yahya dalam rapat daring dengan Ketua-ketua PWNU dan PCNU sehari setelah Rapat Harian Syuriyah memecatnya

Ia menegaskan dirinya tidak akan mundur dan menganggap keputusan pemakzulan merupakan keputusan sepihak tanpa memberi kesempatan memberikan klarifikasi.

Tambang NU

Kisruh internal itu tiba-tiba direspons sang mantan Mengkopolhukam Mahfud MD. Katanya, hulu dari semua perpecahan di dalam organisasi umat Islam tersebut terkait urusan tambang bara yang dikelola NU.

Publik sebelumnya sudah mengetahui kalau Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sudah membentuk badan usaha PT Berkah Usaha Muamalah Nusantara (BUMN).

Badan usaha itu untuk mengelola tambang batu bara eks PT Kaltim Prima Coal (KPC) seluas l26 ribu hektare (Ha).

Yenny versus Ulil

Masalah tambang batubara itu sudah lama menjadi sumber perbedaan pendapat antara kubu internal PBNU antara kubu Yenny Wahid versus kubu diwakili Ulil Abshar Abdalla.

Dalam aakun Instagram Yenny sebagai Ketua Badan Pengembangan Inovasi Strategis (BPIS) NU tegas menolak tambang nikel di Raja Ampat. “Saya orang NU, saya mendukung pelestarian Raja Ampat,” ujar Yenny Wahid tegas.

Malah pada unggahannya itu, Yenny juga mengapresiasi Greenpeace dan Walhi yang terus menyuarakan penolakannya pada penambangan.

Dalam dialognya dengan Rosi Silalahi di Kompas TV, Ulil sebagai Ketua PBNU berkata sebaliknya. Ia tidak menolak tambang, bahkan mengelola tambang juga adalah kemaslahatan atau kebaikan.

“Ini anugerah Allah, pohon anugerah, tambang anugerah, mari kita kalkulasi kebaikan dan keburukannya,” tegasnya. Menurutnya menjaga lingkungan itu penting, tapi mengelola tambang itu juga kebaikan.

Pada kesempatan itu juga Ulil mengkritik aktivis Greenpeace dan LSM-LSM lingkungan lain yang terlalu ekstrim dan seolah-oleh mengelola tambang itu dengan sendirinya adalah kejahatan.

Islah

Saya sih percaya, Islah diantara pihak yang berpecah bakal terjadi pada NU ketimbang tercabik-cabik. Apalagi tokoh agama pada organisasi terbesar umat Islam ini mengetahui formula perdamaian yang disebut islah.

Islah adalah perbaikan, rekonsiliasi, dan penyelesaian sengketa secara damai. Tujuannya membawa perubahan dari keadaan buruk menjadi lebih baik dan harmonis.*

* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.

Leave a Response