Disabilitas

Kembali Kepada Rutinitas Dunia yangTidak Pernah Jeda

KEMBALI KE RUTINITAS. DUNIA TAK PERNAH JEDA, PUN KITA!

85views

Oleh Farhan Helmy

Hari pertama kembali ke meja kerja setelah Idul Fitri terasa seperti melanjutkan percakapan yang sempat tertunda. Tumpukan buku ini masih sama: ekonomi, etika, neurodiversitas, hukum, hingga kebijakan publik, dan lainnya. Sumber inspirasi yang mewakili perjalanan intelektual untuk memahami dunia bukan sebagai potongan-potongan terpisah, tetapi sebagai satu sistem yang saling terhubung.

Kesetaraan gender, disabilitas, dan inklusi sosial (GEDSI) bukan sekadar kerangka kerja; ia menuntut cara berpikir lintas disiplin, karena eksklusi adalah persoalan sistemik.

Niat hati ingin jeda sejenak dari semua ini. Namun jeda itu terasa tidak pernah benar-benar ada.

Di tengah momen refleksi, kita tetap menyaksikan konflik, ketidakpastian, dan krisis yang terus berlangsung. Kita melihat sesuatu yang mungkin tak pernah kita bayangkan, dalam peradaban manusia yang konon “maju”, kebiadaban justru mengemuka dalam keseharian.

Ia dipertontonkan tanpa sungkan, sekaligus disembunyikan. Bahkan dicari pembenarannya. Di semua lini, dan geografi tanpa kecuali.

Nilai etika dan moral perlahan dinormalisasi ulang, seolah inilah bentuk kemajuan, dan mereka yang tidak mengikutinya dianggap tertinggal. Akal sehat dan nalar telah dibajak.

Sekukaritas dalam kehidupan. Membedakan antara teori dan praktek, tidak menjembataninya dan berupaya menjelaskannya untuk memperbaiki kehidupan.

Dunia tidak berhenti. Dan realitas ini mengingatkan bahwa isu inklusi, keadilan, dan keberlanjutan bukanlah wacana yang bisa ditunda.

Justru disanalah keterkaitannya menjadi semakin jelas: struktur yang mengecualikan kelompok rentan sering kali adalah struktur yang sama yang mendorong krisis ekologis. Termasuk berbagai bencana yang kini membayang-bayangi keseharian kita.

Kembali ke rutinitas, bagi saya, bukan sekadar kembali bekerja. Ini adalah kembali pada upaya menghubungkan titik-titik: antara pengetahuan dan praktik, antara inklusi dan krisis iklim, antara kebijakan dan realitas hidup.

Perjalanan yang tidak sederhana. Melelahkan, namun juga mengasyikkan.

Masih ada setitik harapan. Sahabat saya menyebutnya “hilal”, seberkas cahaya dalam kegelapan bila kita tercerahkan.

Idealisme itu masih hidup di antara halaman-halaman buku ini. Yang tak lekang dimakan zaman, terus mencari sintesa dari dialektika yang terus menguji tesa dan antinya dalam keseharian.

Terus belajar, menghubungkan, dan bertindak, kita bisa perlahan membangun dunia yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Tetap semangat dan produktif selalu. **Penulis President Dilans Indonesia, alumni ITB dan bertempat tinggal di Kota Bandung

Editor : Rianto Muradi

Leave a Response