
SundaNews (2/10/2025). Selasa, 30 September 2025, Gedung Kesenian Rumentang Siang kembali bergeliat lewat pementasan Longser Kabayan Ngalalana. Pertunjukan ini menjadi istimewa karena dihadiri Wakil Wali Kota Bandung, H. Erwin, bersama para guru kesenian se-Kota Bandung.
Kabayan, tokoh rakyat Sunda yang cerdas sekaligus polos, tampil sebagai poros cerita. Kehadirannya bukan hanya membangkitkan nostalgia, melainkan juga menegaskan relevansi budaya Sunda di tengah derasnya hiburan digital dan budaya instan.
“Menjaga eksistensi longser berarti menjaga jati diri budaya Sunda. Semoga generasi muda semakin mencintai seni tradisi kita,” ujar Wakil Wali Kota Erwin dalam sambutannya.
Pementasan ini dengan jelas menyatakan: seni tradisi Sunda tidak sekadar bertahan, tetapi terus berkembang dan mampu menjawab tantangan zaman.
Kabayan dan Mesin Waktu
Dalam versi terbaru ini, Kabayan tampil dengan wajah berbeda: Profesor Kabayan, penemu mesin waktu. Melalui temuannya, ia terseret dalam perjalanan lintas zaman, dari kisah Sangkuriang dan Dayang Sumbi di Bandung purba, ke Batavia era Kompeni, hingga jauh ke tahun 2750 ketika Bandung kembali menjadi danau.
Di balik kisah fantasi itu, hadir refleksi mendalam: bagaimana orang Sunda membaca masa lalu, menafsir masa kini, sekaligus membayangkan masa depan. Jawabannya disampaikan melalui satire, humor, kritik sosial, serta balutan nostalgia dan harapan.
Pertemuan Longser dan Sandiwara Sunda
Kabayan Ngalalana bukan sekadar pementasan ulang longser atau sandiwara Sunda. Keduanya dipertemukan dalam satu panggung sebagai teks hidup yang terbuka pada tafsir baru. Improvisasi khas longser berpadu dengan disiplin dramatik sandiwara Sunda, diperkuat musik karawitan yang berdialog dengan bunyi kontemporer, tari tradisi yang melebur dalam gerak teatrikal, serta silat yang dikoreografi secara modern.
Hasilnya adalah pengalaman multisensorial: ruang di mana tradisi dan modernitas bertemu dalam harmoni.
Dramaturgi Kolase
Pertunjukan ini dirancang dengan dramaturgi kolase. Fragmen cerita, improvisasi, musik, tari, dan humor rakyat hadir silih berganti, membentuk mosaik besar tentang perjalanan budaya Sunda lintas zaman. Longser bukan lagi sekadar nostalgia, melainkan energi yang terus tumbuh dan berdenyut menembus generasi.
Rumentang Siang: Ruang Hidup Tradisi
Sebagai rumah teater legendaris Bandung, Rumentang Siang kembali menegaskan fungsinya bukan hanya sebagai panggung seni, tetapi juga laboratorium kebudayaan. Lewat program rutin LOBA, ruang ini mempertemukan seniman senior dan muda, bahasa Sunda dan Indonesia, karawitan dan musik eksperimental semuanya berpadu dalam satu napas kreatif.
Regenerasi dan Kebersamaan
Daya tarik Kabayan Ngalalana juga hadir dari kolaborasi lintas komunitas: sanggar tari, kelompok musik, komunitas teater, hingga para pesilat muda. Kehadiran mereka menguatkan energi regenerasi. Longser tampil bukan hanya sebagai seni pertunjukan, tetapi juga ruang kebersamaan tempat kritik sosial dan tawa hidup berdampingan.
Di antara komunitas yang terlibat adalah Sanggar Sawarna Bandung, Sanggar Senapati, Lamda Art Production, Sanggar Alam Purnama, Komunitas Bumi Sastra, Sanggar Pratala Tandang, Creamerbox, Kotak Hitam Audiomotif, hingga Kelompok 282.
Tradisi yang Menyala
Di tengah gempuran hiburan digital, Kabayan Ngalalana hadir sebagai penanda penting: seni tradisi Sunda bukan sekadar bertahan, tetapi mampu relevan dan berkembang. Ia bukan romantika masa lalu, melainkan bukti bahwa budaya Sunda hidup di sini, kini, dan akan terus menyala di masa depan.
Hingga Desember 2025, pertunjukan ini akan hadir rutin di Rumentang Siang setiap Selasa, dua kali sehari pukul 13.00 WIB dan 16.00 WIB. Setiap kali tirai dibuka, Kabayan terus ngalalana, menyusuri waktu, menertawakan dunia, sekaligus mengingatkan bahwa tradisi adalah perjalanan panjang yang tak pernah berhenti.
Tim Garap
Sutradara/Penulis Naskah: Rosyid E Abby
Asisten Sutradara & Pimpinan Panggung: Agus Injuk
Penata Musik: Sakti Mustika
Penata Tari: Zawra Pratala
Penata Artistik: Dadan Darto Ramdani
Penata Busana & Rias: Ajo Sumarjo & Kory Yoseph Iskandar
Aktor: Agus Injuk, Eka CW, Deden Bejo, Darto Ramdani, Lala M. Dara, Laras Yoseph Iskandar, Sanggita Puspa Gumiwang, Ajo Halimun, Bah Adhiew, Abu Ridho, Ata Drumime, Kori Yoseph Iskandar, Diks Jafar, Apip Catrixs, Rasyid Vanadi, Zaki, Arejon
Penari: Zawra, Mutiara, Syafa, Sherin
Pesilat: Difa, Phasa, Lukman
Pemusik: Sakti Mustika, Dara Gisca, Teza, Feby Firta, Ryan Ali, Eki, Sefrial Anggia
Pimpinan Produksi: Apip Catrix
Marketing & Tiketing: Ipan Garmawan
Pubdok: Bob Teguh
Komunitas Pendukung: Sanggar Sawarna Bandung, Sanggar Senapati, Lamda Art Production, Sanggar Alam Purnama, Komunitas Bumi Sastra, Sanggar Pratala Tandang, Creamerbox, Kotak Hitam Audiomotif, Kelompok 282.
“Dalam setiap tawa Kabayan yang ngalalana, kita diajak menyadari bahwa tradisi bukan sekadar warisan, melainkan perjalanan yang merawat ingatan, menyalakan harapan, dan menjaga budaya Sunda tetap hidup hari ini, esok, dan seterusnya.” (Kin Sanubary)





