Kolom Sosial Politik

Jalan Terjal Psohor: Tidak Otentik, Kesepian, dan Narsis

384views

 

Oleh Ridhazia

Popularitas berasal dari kata populer, artinya tenar. Juga bisa bermakna disukai oleh sebanyak-banyaknya orang lain alias pesohor atau selebritas.

Menjadi pesohor untuk sebagian manusia menjadi keniscayaan hidup. Mungkin, suatu keinginan yang tak terucapkan atau bawah sadar agar setiap bisa dikenal dan dikenang. Tentu saja dengan resiko baik-buruk yang menyertainya.

Tidak Otentik dan Terasing

Pesohor dengan label-label sosial sebagai artis, politisi, pejabat publik, tokoh agama dan status serupa lainnya kerap menambang masalah.

Salah satunya, kepribadian pesohor tidak lagi otentik. Artinya, bukan bawaan dan menampilkan alaminya. Bukan diri seaslinya.

Tindakan, ucapan, maupun perilaku cenderung rekayasa atau berpura-pura yang diidentifikasi sebagai pribadi yang tidak lagi jujur pada diri sendiri. Terasing dari dirinya sendiri dan cenderung mengikuti standar yang ditentukan publik pengagumnya.

Eksklusif dan Narsisme

Mimpi dari ketenaran lazim disertai akses perlakuan istimewa untuk para pesohor. Diagung-diagungkan.

Pemujaan publik itu pada gilirannya menjadikan dia hidup eksklusif. Ia mulai melawan kecenderungan alami manusia yang sesungguhnya bebas dan menyendiri.

Dengan pikiran yang lepas dari kelelahan, bisa melakukan mindfulness selama melakukan kegiatan apa pun sehingga berhasil menghabiskan waktu berkualitas untuk diri sendiri.

Tapi tidak begitu dengan ketenaran. Para pesohor sangat dekat narsisme yakni karakteristik kepribadian yang ditandai dengan rasa penting dengan diri sendiri yang berlebihan. Selain kebutuhan akan kekaguman tapi kurangnya empati terhadap orang lain.

Terisolasi

Narsistik pada para pesohor keniscayaan menjadi kebutuhan abadi untuk menjaga mesin ketenaran agar tetap berputar.

Tapi pada sisi lain narsisme itu pula yang menjadikan terisolasi.
Kesepian dalam kesendiriannya menjadi resiko terbuka terlebih ketika popularitas mulai melandai. *

* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politikl, bermukim di Bandung, Jawa Barat.

Leave a Response