Kolom Sosial Politik

Inilah GURU GEMBUL

1.4kviews

 

Oleh Ridhazia

Guru Gembul itu guru sungguhan. Kesehariannya mengajar. Belakangan pria berbadan gempal dan berkacamata minus ini memuncak popularitasnya bukan hanya di depan murid-muridnya. Justru sebagai konten kreator.

Tak tanggung – tanggung subscriber atau viewer-nya lebih dua juta. Otomatis ia langsung naik daun di seantero Indonesia. Dan, yang luar biasa lagi rejekinya melimpah.

Miliaran!

Kanal Guru Gembul memang fenomenal. Apalagi setelah pernyataannya bukan saja mencerdaskan. Juga kerap kontroversial. Pernah disomasi teman seprofesinya tapi berakhir damai. Satu di antara yang masih hangat dibicarakan ketika ia “menguliti” ikhwal Habib, entitas keturunan Nabi Muhammad.

Ia kini menjadi guru yang berpenghasilan miliaran. Berdasarkan kalkulasi Rusdi Febriadi dalam tulisan “Mengenal YouTuber Guru Gembul dan Hasil Pendapatannya Di YouTube” pak Guru Gembul menerima keuntungan Rp26.134.100 sampai Rp372.026.600. Atau dalam setahun sekitar Rp313.609.200 sampai Rp5.013.135.300.

Mengapa Gembul

Publik tidak mengetahui identitas asli Guru Gembul. Ia sangat tertutup menjelaskan dirinya. Termasuk dugaan nama aslinya sebagai Johan Riyadi, Jafar Rohadi, atau Jafar Riyadi. Ketiganya dibantah.

Dan, mengapa memilih identitas sebagai gembul, ia pun berkomentar ringan karena postur tubuhnya gendut atau gempal. Mungkin boros makanan sejak kecil. Padahal hidup sederhana.

Tapi saking misterius, publik justru menduga-duga kata gembul singkatan dari ‘gemar ngibul’. Alias asal ngomong. Bahkan berbohong.

Tapi senyatanya dugaan itu berbanding terbalik dengan konten-konten ilmiah dan filsafat sosialnya di awal ia merintis konten kreator yang pertama kali diunggah pada 7 April 2019.

Guru Gembul juga cukup produktif ketimbang teman seprofesinya. Ia sudah memproduksi 566 video.

Tapi jumlah subscribers menambah hingga tembus jutaan setelah ia menjadi tamu di kanal YouTube Close the Door milik Deddy Corbuzier dan di kanal Helmy Yahya Bicara.

Sesuatu banget…. *

* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati Bandung, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.

Leave a Response