
Oleh: Ridhazia
PRAKTIK tumbal lelaki merupakan bagian dari ritual kepercayaan era kuno. Tapi bukan dalam peradaban moderen.
Apalagi dikaitkan dengan pernyataan Menteri PPPA Arifah Fauzi mengusulkan pemindahan gerbong khusus wanita ke tengah rangkaian KRL terkait kecelakaan kereta terjadi di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat (Jabar) yang terjadi pada Senin (27/4/2026) malam.
Penyataan itu menuai kritik publik karena memberi kesan lelaki bisa menjadi “tumbal” kecelakaan. Padahal senyatanya keselamatan semua penumpang, tanpa memandang gender.
Tumbal Lelaki
Tumbal lelaki mengingatkan peradaban Minoa, peradaban tertua di Eropa (sekitar 3000 SM – 1450 SM) yang berkembang sebelum Yunani Kuno yang ditemukan oleh tim arkelogi di Pulau Kreta.p
Praktik “tumbal” serupa juga ditemukan di peradaban dunia bangsa Maya sebagaimana buktinya ditemukan 127 tulang di gua keramat Chichen Itz
Tim arkelogi menemukan sekitar 80 persen adalah anak laki-laki berusia 3-11 tahun jadi korban ritual.Bukan gadis perawan seperti anggapan sebelumnya.
Bahkan di Jepang, praktik tumba lelaki yang disebut Hitobashira atau “pilar manusia” dilakukan dengan menanam manusia dalam struktur bangunan atau proyek (seperti jembatan/bendungan) untuk menenangkan dewa.*
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.





