Bandung Raya

HPN 2026: Studi Banding JITU, Tumbuhkan Eksistensi Media Cetak

171views

KAB. BANDUNG, Bandungpos Id.
Media cetak berupa koran, majalah, dan tabloid tetap menjadi pilihan utama bahan bacaan masyarakat, meskipun jumlah distribusi dan pembacanya mulai menurun sejak tahun 2014 akibat pergeseran ke arah media online. Menanggapi fenomena ini, Organisasi Profesi Jurnalis Independen Bersatu melakukan studi banding ke berbagai media cetak di Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur – baik secara digital maupun dengan mengamati langsung proses produksi hingga distribusi dan jangkauan pembaca.

Studi banding pertama dilakukan ke redaksi Majalah Risalah, yang diterbitkan oleh Lajnah Ta’lif wan Nasyr Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Majalah ini memiliki jaringan publikasi hingga luar negeri melalui cabang istimewa NU, serta menjangkau pembaca di desa-desa pegunungan dan pesisir melalui anak ranting NU tingkat desa.

Selanjutnya, tim mengunjungi Majalah Mangle yang diterbitkan oleh Pusat Budaya Sunda Universitas Padjadjaran. Majalah berbahasa Sunda ini telah mengalami perubahan pengelolaan keredaksian, dengan kepemimpinan di tangan para akademisi perguruan tinggi.

Ketiga, studi dilakukan ke Majalah Ancas di Banyumas, Jawa Tengah. Sebagai satu-satunya media literasi berbahasa dialek Banyumasan (Bahasa Penginyongan) yang terbit rutin sejak 2010, majalah ini berperan sebagai media perjuangan untuk mengangkat kearifan lokal sosial budaya masyarakat Banyumas. Saat ini masih dikelola oleh sastrawan terkemuka Ahmad Tohari bersama K.H. Ahmad Sobri, sebagai wujud darma bhakti dan upaya menjadikan bahasa Banyumasan sebagai warisan generasi.

Keempat, tim mengunjungi Majalah Jaya Baya di Surabaya, Jawa Timur. Sebagai kalawarti (majalah mingguan) berbahasa Jawa terkemuka yang berdiri sejak tahun 1945 (didirikan oleh Tadjib Ermadi), majalah ini fokus pada pelestarian bahasa dan budaya Jawa, sekaligus memuat berita aktual, cerita misteri, dan sastra – menjadikannya salah satu penjaga budaya Jawa tertua di Indonesia.

Berbagai media cetak tersebut telah berulang kali menerima penghargaan dari pemerintah daerah, pemerintah pusat, maupun berbagai kementerian atas upaya pelestarian bahasa daerahnya. Selain itu, media cetak yang masih eksis memiliki peran penting yang dapat dioptimalkan untuk mendukung program nasional Trigatra Bangun Bahasa dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Program ini bertujuan menjaga identitas dan daya saing bangsa melalui tiga pilar utama: 1) Utamakan bahasa Indonesia, 2) Lestarikan bahasa daerah, dan 3) Kuasai bahasa asing.

Studi banding juga menelusuri kontribusi penulis dari kalangan pesantren, antara lain Uswatun Hasanah, S.H.I., M.Pd. (Pengasuh Pondok Pesantren Al-Azhar Mojokerto, yang aktif mengkaji Fikih Perempuan) serta Dr. KH. Fathul Bari, S.S., M.Ag. (Pengasuh Pondok Pesantren Wisata An-Nur II Malang).

Dari seluruh proses studi banding, disimpulkan bahwa untuk kemajuan media cetak di masa depan diperlukan beberapa langkah strategis: menambah jumlah penulis karismatik sebagai daya tarik media, meningkatkan kualitas karya jurnalistik, memperluas promosi ke berbagai lapisan masyarakat, membangun kerjasama dengan lembaga yang fokus pada edukasi publik, serta membuka halaman khusus untuk menjalin relasi baru dengan pembaca dan pihak terkait. (Ask/Id)***

Penulis / Tim Studi Banding;
Dwi Arifin (Kepala Pusat Pengembangan Relasi Media Massa), Yadi Karyadipura (Staf Ahli Pelestarian Bahasa Daerah), Subina Fikri (Staf Ahli Bahasa Asing) – Organisasi Profesi Jurnalis Independen Bersatu

Leave a Response