Bandung Raya

FK Unisba Tingkatkan Kapasitas Kader Posbindu Cimekar untuk Perkuat Deteksi Dini PTM

16views

KABUPATEN BANDUNG, bandungpos.id – Upaya pencegahan dan deteksi dini penyakit tidak menular (PTM) membutuhkan keterlibatan masyarakat hingga tingkat desa. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah memperkuat peran Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) sebagai layanan kesehatan yang dekat dengan masyarakat, khususnya dalam membantu mengenali faktor risiko kesehatan sejak dini.

Posbindu memiliki posisi penting dalam mendukung pemeriksaan kesehatan sederhana di tingkat komunitas. Namun, keberadaannya perlu diiringi dengan kemampuan kader yang memadai agar pelayanan dapat dilakukan secara tepat dan berkelanjutan.

Kondisi tersebut menjadi perhatian di Desa Cimekar, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung. Meski Posbindu telah berjalan, masih terdapat sejumlah tantangan, di antaranya keterampilan kader dalam melakukan pemeriksaan sesuai standar, keterbatasan fasilitas pemeriksaan, serta belum optimalnya kesadaran masyarakat untuk melakukan skrining kesehatan secara rutin.

Integrasi kegiatan Posbindu dengan program kesehatan desa juga masih perlu diperkuat agar manfaat pelayanan dapat dirasakan secara berkelanjutan.

Merespons kebutuhan tersebut, Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung (FK Unisba) melalui Program Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Kemitraan melaksanakan pendampingan pemeriksaan kesehatan sederhana bagi kader Posbindu dan masyarakat Desa Cimekar.

Program tersebut tidak hanya diarahkan sebagai kegiatan pemeriksaan kesehatan, tetapi juga menjadi bagian dari proses peningkatan kapasitas kader agar mampu menjalankan pelayanan kesehatan berbasis komunitas secara lebih mandiri.

Tingkatkan Kompetensi Kader melalui Pelatihan

Penguatan layanan kesehatan masyarakat tidak terlepas dari kapasitas kader sebagai pelaksana yang berada paling dekat dengan warga. Karena itu, kegiatan FK Unisba menempatkan kader Posbindu sebagai salah satu fokus utama pemberdayaan.

Tim PKM FK Unisba memberikan pelatihan menggunakan modul yang mengacu pada pedoman Kementerian Kesehatan. Materi kemudian diperkuat melalui pendampingan langsung yang melibatkan dosen dan mahasiswa FK Unisba serta dokter dari rumah sakit jejaring.

Kegiatan pendampingan dan edukasi yang berlangsung pada 16 Juni 2026 tersebut diikuti 43 kader Posbindu dan tujuh petugas ambulans Desa Cimekar.

Melalui pola pelatihan teori dan praktik, kader tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai pemeriksaan kesehatan, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk mengamati, mempraktikkan, serta memperbaiki keterampilan dengan pendampingan tenaga profesional.

Pendekatan tersebut diharapkan membuat keterampilan yang diperoleh dapat diterapkan dalam kegiatan Posbindu secara rutin.

Kegiatan ini sekaligus memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, mahasiswa, masyarakat, dan rumah sakit jejaring. Tim PKM FK Unisba melibatkan mahasiswa program akademik dan profesi serta berkolaborasi dengan RS Al-Islam Bandung sebagai rumah sakit jejaring FK Unisba.

Setelah mendapatkan pembekalan, kader kemudian menerapkan keterampilan melalui pelayanan pemeriksaan kesehatan masyarakat. Kegiatan menggunakan pola lima meja yang umum diterapkan dalam pelayanan Posbindu.

Pada meja pertama dilakukan pendaftaran sekaligus penggalian keluhan kesehatan. Meja kedua digunakan untuk mengukur tinggi dan berat badan. Berikutnya, meja ketiga mencakup pemeriksaan tekanan darah, denyut nadi, suhu tubuh, serta frekuensi pernapasan.

Pemeriksaan dilanjutkan di meja keempat dengan pengecekan kadar gula darah, asam urat, dan kolesterol. Sementara meja kelima difungsikan sebagai tempat konsultasi serta edukasi kesehatan bagi masyarakat.

Sebanyak 200 warga Desa Cimekar mengikuti pemeriksaan kesehatan tersebut. Pelayanan dilakukan oleh kader Posbindu dengan pendampingan dokter spesialis saraf FK Unisba, mahasiswa akademik dan profesi FK Unisba, serta dukungan RS Al-Islam Bandung.

Pelaksanaan pemeriksaan secara langsung memberikan pengalaman kepada kader mengenai bagaimana Posbindu dapat berfungsi sebagai pusat pelayanan kesehatan sederhana sekaligus ruang komunikasi dan edukasi masyarakat.

Pemeriksaan kesehatan menjadi langkah awal untuk mengenali kondisi warga. Pada saat yang sama, masyarakat mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.

Peran Strategis Kader dalam Deteksi Dini PTM

Kedekatan kader dengan lingkungan masyarakat menjadi salah satu kekuatan dalam pelayanan kesehatan berbasis komunitas. Karena merupakan bagian dari masyarakat setempat, kader memiliki peluang lebih besar untuk mengajak warga memanfaatkan fasilitas kesehatan yang tersedia di lingkungannya.

Peningkatan kemampuan kader pun tidak hanya berdampak pada kapasitas individu. Keterampilan tersebut dapat mendukung penguatan fungsi Posbindu sebagai layanan kesehatan berbasis masyarakat.

Kemampuan melakukan pemeriksaan sederhana dan memberikan edukasi kesehatan diharapkan dapat membantu menjadikan deteksi dini sebagai bagian dari kebiasaan masyarakat.

Dukungan akademisi dan rumah sakit jejaring juga memberikan tambahan penguatan bagi kader. Pendampingan secara langsung diharapkan dapat menjadi bagian dari proses pembinaan yang berkelanjutan, bukan hanya berlangsung selama kegiatan pengabdian masyarakat.

Pemeriksaan kesehatan sederhana memiliki peran penting dalam mengenali sejumlah faktor risiko PTM. Pemeriksaan tekanan darah, indeks massa tubuh, kadar gula darah, kolesterol, serta parameter kesehatan lainnya dapat memberikan gambaran awal mengenai kondisi seseorang.

Namun, informasi dari hasil pemeriksaan perlu dipahami dengan baik. Karena itu, konsultasi dan edukasi kesehatan menjadi bagian penting dari rangkaian pelayanan.

Melalui konsultasi, masyarakat memiliki kesempatan untuk memperoleh penjelasan mengenai kondisi kesehatannya serta langkah yang dapat dilakukan untuk mempertahankan atau meningkatkan kesehatan.

Bagi kader, kegiatan tersebut juga menjadi pengalaman untuk mengintegrasikan pemeriksaan dengan komunikasi dan edukasi kesehatan. Dengan demikian, pelayanan tidak berhenti pada pencatatan hasil pemeriksaan, tetapi berlanjut pada peningkatan kesadaran masyarakat.

Program di Desa Cimekar menunjukkan bahwa pemberdayaan kesehatan masyarakat membutuhkan kerja sama berbagai pihak. Perguruan tinggi berperan memberikan dukungan keilmuan dan pendampingan, mahasiswa memperoleh pengalaman belajar langsung di lapangan, kader menjadi pelaksana pelayanan komunitas, sedangkan rumah sakit jejaring memberikan dukungan profesional.

Pemerintah desa juga memiliki peran dalam mendukung keberlangsungan kegiatan. Kepala Desa Cimekar, Iwan Dharmawan, menyampaikan dukungannya terhadap program pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan, terutama dalam upaya pencegahan penyakit tidak menular dan peningkatan kesehatan warga, termasuk kelompok lanjut usia.

Kolaborasi tersebut memperlihatkan bahwa penguatan Posbindu tidak dapat hanya mengandalkan kader. Diperlukan dukungan berupa peningkatan pengetahuan, keterampilan, sarana pemeriksaan, serta jejaring pelayanan agar kader dapat menjalankan tugasnya secara optimal.

Membangun Posbindu yang Lebih Berdaya

Program Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Kemitraan FK Unisba diarahkan untuk meningkatkan kemampuan kader dalam melakukan pemeriksaan kesehatan sederhana sekaligus mendorong masyarakat Desa Cimekar agar lebih rutin melakukan skrining kesehatan.

Lebih dari sekadar pemeriksaan, program ini menjadi bagian dari proses membangun kapasitas masyarakat. Kader didorong untuk menjadi pelaksana pelayanan kesehatan sederhana di lingkungan komunitas, sementara masyarakat diharapkan semakin aktif mengenali kondisi kesehatannya sejak dini.

Keberlanjutan program menjadi salah satu aspek penting setelah kegiatan pengabdian selesai. Keterampilan kader perlu terus dipraktikkan dalam kegiatan Posbindu. Dukungan lintas sektor juga perlu dipertahankan agar pelayanan dapat berlangsung secara konsisten.

Integrasi Posbindu dengan berbagai program kesehatan desa dapat menjadi salah satu langkah untuk memperkuat keberlanjutan pelayanan sekaligus memperluas manfaatnya bagi masyarakat.

Pengalaman di Desa Cimekar memperlihatkan bahwa pelayanan kesehatan sederhana dapat menjadi pintu masuk bagi pemberdayaan masyarakat. Ketika kader memiliki keterampilan, masyarakat memperoleh akses pemeriksaan dan edukasi, serta perguruan tinggi dan jejaring pelayanan kesehatan hadir sebagai mitra, Posbindu dapat berkembang menjadi salah satu kekuatan kesehatan berbasis komunitas.

Pada akhirnya, ketahanan kesehatan masyarakat bukan hanya dibangun melalui fasilitas pelayanan kesehatan. Pengetahuan, keterampilan, akses terhadap pemeriksaan, serta kesempatan masyarakat untuk terlibat aktif juga menjadi bagian penting dalam membangun kesadaran dan kemandirian kesehatan di tingkat komunitas.(dr. Waya Nurruhyuliawati, SpN., M.H., dr. Alya Tursina, SpN., MH.Kes., dan Dr. Cik Elber, SpN.)

Leave a Response