Kolom Sosial Politik

Fenomena Singlehood

276views

 

Oleh: Ridhazia

FENOMENA  memilih untuk tetap melajang menerpa Indonesia. Terbukti dari data BPS. Angka pernikahan di Indonesia menurun signifikan hingga jutaan orang.

Dan, penurunan ini sudah terjadi sejak enam tahun lalu. Memuncak pada tahun 2021-2023 hingga menyusut dua juta orang. Angka itu cenderung bertambah pada dua tahun terakhir 2024-2025.

Tren ini terjadi hampir di semua daerah di Indonesia. Terutama di perkotaan yang padat penduduk. Di Jakarta, jumlah penduduk yang membujang tembus 4 ribu orang.

Demikian juga di beberapa kota di Jawa Barat penurunan angka pernikahan menembus angka 29 ribu orang. Sedangkan di Jawa Tengah yang menyusut hingga 21 ribu orang dan Jawa Timur berkisar 13 ribu orang.

Gangguan Psikologis

Jika selama ini ada dugaan memilih tidak menikah karena alasan ekonomi, juga takut berkomitmen sebagai pasangan malah ingin menikmati kebebasan dan kemandirian dari status lajang.

Tenyata secara psikologi menunda dan tidak menikah terkait erat gangguan psikologi. Setidaknya pengalaman traumatis dalam keluarga.

Gamophobia

Istilah untuk seseorang yang tidak mau menikah bukan populer dengan sebutan melajang atau single. Juga terkait kondisi psikologis.

Salah satu paling populer menurut studi psikologis adalah gamophobia yakni takut menikah. Bahkan istilah yang lebih spesifik lagi yaitu misogamis yaitu benci pernikahan.

Perbaiki Trauma

Pendek kata, mengapa seseorang menunda atau tidak menikah, sekarang jelas alasannya. Tenyata ada dalam diri sendiri. Begitu kata hasil studi psikologi.

Jadi bukan doa tidak menembus langit, atau tidak ditakdirkan Tuhan, tapi perbaiki dulu urusan psikologisnya. Konsul saja pada ahli psikologi untuk mencairkan gangguan dan trauma.*

* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.

Leave a Response