Dosen Unisba Jadi Guest Lecturer di Coventry University, Bahas Dinamika Ekstremisme di Indonesia

METRO BANDUNG, bandungpos.id – Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Bandung, Muhamad Imam Pamungkas, S.Pd.I., M.Ag., Ph.D., dipercaya menjadi dosen tamu (guest lecturer) dalam perkuliahan internasional di Coventry University. Kegiatan tersebut berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting pada Senin (30/3/2026).
Dalam kuliah tersebut, Imam mengangkat topik “The Evolution of Terrorism and Extremism in Indonesia: Education, Moral Formation, and Ideological Resilience.” Ia mengulas secara komprehensif perkembangan ekstremisme di Indonesia, sekaligus menyoroti pentingnya peran pendidikan, pembentukan moral, dan ketahanan ideologi dalam upaya pencegahan.
Imam menjelaskan bahwa undangan ini berawal dari jejaring akademik yang telah ia bangun sejak menempuh studi di luar negeri. Ia menerima undangan tersebut pada pertengahan November 2025 setelah direkomendasikan oleh kolega untuk mengisi kelas besar di Coventry University.
Topik yang disampaikannya juga selaras dengan disertasi doktoralnya yang mengkaji pencegahan ekstremisme melalui pendidikan agama Islam. Menurutnya, pihak kampus tertarik dengan riset tersebut yang telah tersedia di perpustakaan akademik, kemudian meminta pengembangan materi terkait dinamika terbaru ekstremisme di Indonesia, khususnya dalam kaitannya dengan pendidikan dan pembentukan moral.
Perkuliahan ini diikuti oleh mahasiswa magister (S2) bidang Arts and Humanities dengan konsentrasi Global Affairs. Setiap sesi dihadiri sekitar 50 peserta, termasuk mahasiswa asal Indonesia. Diskusi yang berlangsung menempatkan isu ekstremisme dan radikalisme sebagai persoalan global yang membutuhkan pendekatan lintas disiplin ilmu.
Dalam pemaparannya, Imam menegaskan bahwa ekstremisme di Indonesia tidak muncul secara instan. Fenomena ini, menurutnya, merupakan hasil dari proses panjang yang dipengaruhi sejarah, perubahan sosial, serta arus ideologi, yang kini semakin kompleks dengan kehadiran ruang digital. Bentuknya pun terus berkembang, dari gerakan yang terstruktur hingga pola yang lebih fleksibel dan tersebar di dunia maya.
Ia juga menekankan bahwa penanganan ekstremisme tidak bisa hanya mengandalkan pendekatan keamanan semata. Pendidikan memiliki peran strategis dalam membentuk pola pikir kritis, sikap toleransi, serta kemampuan individu untuk menolak narasi kekerasan dan ideologi ekstrem.
Lebih jauh, Imam menilai keikutsertaannya dalam forum internasional ini memberikan nilai strategis bagi Unisba. Kegiatan tersebut dinilai mampu memperkuat posisi perguruan tinggi sebagai institusi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berperan dalam pembinaan moral dan karakter.
Ia juga menyoroti pentingnya peran Unisba dalam menginternalisasi nilai keislaman dan kebangsaan, termasuk melalui program pesantren mahasiswa serta implementasi konsep 3M yang menjadi ciri khas kampus tersebut.
Menurutnya, materi yang disampaikan dalam forum internasional ini dapat berkontribusi dalam membangun lingkungan akademik yang lebih tangguh terhadap intoleransi, radikalisme, dan ekstremisme. Hal ini dapat diwujudkan melalui penguatan kurikulum, diskursus ilmiah, pembinaan karakter, serta peningkatan literasi kritis di kalangan mahasiswa.
Di akhir sesi, Imam turut memberikan pesan kepada sivitas akademika, khususnya alumni luar negeri, agar terus menjaga dan mengembangkan jejaring internasional. Sementara bagi akademisi yang belum memiliki koneksi global, ia mendorong untuk aktif mencari peluang melalui kolaborasi riset maupun program hibah internasional yang kini semakin terbuka luas.(ask)***





