
Oleh: Ridhazia
DUA gapura menyerupai Candi Bentar mengubah wajah gerbang Gedung Sate Bandung yang dibangun pada era kolonial Belanda
Diberitakan, biaya untuk menduplikasi dua gapura era Kerajaan Majapahit sebagai akses masuk ke kantor Gubernur Jawa Barat itu sekitaran Rp3,9 miliar dari APBD.
Konon, ide gapura ala candi Bentar untuk menegaskan adat Sunda. Sekaligus menjadi ikon budaya Jawa Barat dengan sedikit dimodifikasi. Berbeda dengan bangunan aslinya yang lazim seperti candi yang terbelah dua.
Dari Zaman Majapahit
Arsitektur gapura Candi Bentar sudah ditemukan pada sejumlah situs candi era Majapahit (1293-1527).
Bangunan ini berfungsi sebagai gerbang atau pembatas antara dua area yang berbeda, baik secara fisik maupun simbolis antara bagian luar dan tempat suci (pura).
Selain itu, candi bentar juga memiliki makna filosofis dan simbolis yang mendalam. Antara lain dipercaya bisa melindungi penghuni dari energi negatif dan menjadi simbol keharmonisan.
Merah Bata
Candi Bentar memang artistik dan menarik. Warnanya yang khas merah bata merata di sejumlah tempat tidak ditemukan di tempat lain di dunia.
Sepintas, gapura yang kokoh itu meruncing ke atas. Katanya, secara filosofis untuk menunjukan kepercayaan terhadap Sang Khalik.
Di Tanah Sunda, gapura Candi Bentar banyak ditemui di Cirebon. Awalnya digunakan di Dalem Agung Pakungwati Keraton Kanoman Cirebon. Lalu berkembang menjadi ikon gerbang khas Cirebonan.
Gedung Sate
Sedangkan Gedung Sate yang dibangun atas komando Kol. Geni V.L. Slors tahun 1920 tidak ada hubungan dengan bangunan era Kerajaan Majapahit.
Bangunan pada era kolonial Belanda sepenuhnya untuk persiapan Bandung sebagai Kota Garnesun Meliter Cimahi pada tahun 1895. Sekaligus pemindahan ibu kota Batavia ke Bandung. *
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.




