
BANDUNG, Bandungpos.id – Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Harakah Badan Koordinasi Mubaligh Indonesia (BAKOMUBIN) Jawa Barat periode 2026–2031 resmi dilantik dalam rangkaian pelantikan, ta’aruf, dan penetapan garis besar program kerja yang digelar di Rooftop DPRD Jawa Barat, Minggu (12/7/2026).
Ketua DPW Harakah BAKOMUBIN Jawa Barat, Prof. Dr. Moh Najib, M.Ag., menegaskan soliditas organisasi menjadi modal utama untuk memperkuat dakwah dan mengembangkan organisasi selama lima tahun ke depan. Ia mengaku menerima amanah kepemimpinan setelah mendapat dorongan dari para pengurus dan Majelis Syuro.
Menurut Najib, BAKOMUBIN harus memiliki arah perjuangan dan identitas yang jelas di tengah banyaknya organisasi kemasyarakatan Islam yang telah memiliki bidang garapan masing-masing. Karena itu, organisasi dituntut menghadirkan program yang memberi manfaat nyata bagi umat.
“Ketika banyak organisasi Islam telah memiliki program yang jelas, maka BAKOMUBIN juga harus memiliki identitas dan bidang pengabdian yang tegas agar keberadaannya dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Najib menjelaskan, makna mubaligh tidak hanya terbatas pada penceramah di mimbar. Setiap Muslim, katanya, memiliki tanggung jawab menyampaikan nilai-nilai Islam sesuai kemampuan yang dimiliki. Hal itu, menurutnya, sejalan dengan ajaran Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad SAW yang mendorong umat untuk menyampaikan ajaran agama meski hanya satu ayat.
Ia menegaskan tugas utama seorang mubaligh adalah menyampaikan ajaran Allah dan Rasul-Nya secara benar, jelas, dan berkesinambungan. Sementara keberhasilan dakwah bukan menjadi ukuran utama, melainkan kesungguhan dalam menjalankan kewajiban.
“Yang menjadi kewajiban kita adalah menyampaikan ajaran Allah dan Rasul secara jelas. Adapun hasilnya, itu menjadi urusan Allah SWT,” katanya.
Sementara itu Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Setda Provinsi Jawa Barat, Andrie Kustria Wardana menegaskan bahwa nilai nilai kesundaan memiliki arti yang sangat komplek dalam menjaga kerukunan umat untuk saling menghargai.
“Kita kenal dalam Sunda silih asah, silih asih, silih asuh, dan silih wangikeun. Inilah simbol bahasa yang harus kita maknai dan memiliki nilai nilai luhur,” ucap Andrie Kustria Wardana.
Dan nilai nilai kesundaan itu harus kita lestarikan dalam lingkungan kehidupan, baik keluarga, lingkungan masyarakat hingga lingkungan dimana kita bekerja.
“Inilah yang harus kita lestarikan dalam kehidupan,” tandasnya. (adem/BNN)





