
Sepuluh Kesalahan Arah Proses Pendidikan di Indonesia
Titel dan gelar jadi target pendidikan tidak disertai tanggungjawab ilmiah yang mumpunMateri pelajaran dan buku pelajaran ditulis dengan cara menyampingkan faktor praktek dan teori serta teknologi. Manajemen pendidikan menekankan tanggungjawab penyelenggaraan pendidikan kepada pemerintah bukan kepada seluruh masyarakat, orang tua, guru, siswa
SELAMA ini Keberhasilan pendidikan hanya diukur kemampuan kognitif, nyaris tak menghiraukan potensi afektif dan psikomotorik Evaluasi pendidikan terutama Pengajaran di sekolah cenderung menapikan pola pikir konvergen. Akibatnya siswa tidak berpikir kreatif, imajinatif dan inovatifProses pendidikan berganti wajah menjadi Pengajaran. Maksudnya, materi pelajaran tidak relevan dengan dunia nyata Kemampuan menguasai pengetahuan tidak diikuti dengan Kegemaran belajar. Akibatnya, lembaga elit asing bagi kehidupan sehari-hari
Sedangkan Titel dan gelar jadi target pendidikan tidak disertai tanggungjawab ilmiah yang mumpunMateri pelajaran dan buku pelajaran ditulis dengan cara menyampingkan faktor praktek dan teori serta teknologi. Manajemen pendidikan menekankan tanggungjawab penyelenggaraan pendidikan kepada pemerintah bukan kepada seluruh masyarakat, orang tua, guru, siswa
Sementara Profesi guru terkesan profesi ilmiah dan kurang disertai bobot kemanusiaan Problem nasional ikut serta memengaruhi sarana prasarana dan lemahnya political will Kompetensi literasi guru belum menjadi agenda Nasional ikut serta mendukung hadirnya Satuan pendidikan berbasis Literasi Mumpuni. Maksudnya, siswa dididik melek literasi, sementara guru belum menjadi target utama sasaran literasi berbasis Kompetensi Literasi Guru( KLG). Parangtambung, Tgl 25 September 2026





