Kabupaten/KotaPendidikan

FISIP UWKS Surabaya Dampingi Perpustakaan SDN Kapasari I Menuju Akreditasi

Sospol UWKS Surabaya Dampingi Perpustakaan SD

73views

SURABAYA –Bandungpos.id– Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS) melalui Program Studi Ilmu Perpustakaan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik ) melaksanakan program pendampingan pengelolaan perpustakaan di SDN Kapasari I Surabaya sebagai upaya meningkatkan kualitas layanan dan mempersiapkan perpustakaan sekolah menuju akreditasi.

Program pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan selama tiga bulan ini mencakup pelatihan standar akreditasi perpustakaan, pendampingan teknis pengelolaan koleksi, pembenahan administrasi, serta pemberian bantuan sarana berupa dua unit lemari buku.
Kegiatan tersebut dilatarbelakangi oleh sejumlah kendala yang dihadapi perpustakaan sekolah, mulai dari penataan koleksi yang belum menggunakan sistem klasifikasi secara optimal, keterbatasan sarana penyimpanan, administrasi layanan yang belum tertata, hingga pemahaman pengelola mengenai standar akreditasi yang masih perlu ditingkatkan.

Tim pengabdian UWKS yang terdiri atas Yanuastrid Shintawati, Bambang Prakoso, dan Daniel Pandapotan melibatkan mahasiswa Program Studi Ilmu Perpustakaan dalam proses pendampingan. Keterlibatan mahasiswa ini sekaligus menjadi sarana pembelajaran praktis untuk menerapkan ilmu kepustakawanan secara langsung di lingkungan pendidikan.

Dalam pelaksanaannya, tim memberikan pelatihan mengenai Standar Nasional Perpustakaan, komponen penilaian akreditasi, klasifikasi koleksi menggunakan Dewey Decimal Classification (DDC), administrasi perpustakaan, layanan sirkulasi, serta pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan perpustakaan.
Pengelola perpustakaan juga mendapatkan pendampingan langsung dalam menata koleksi berdasarkan subjek, memberikan label klasifikasi, menyusun dokumen inventaris, mencatat kunjungan, serta memperbaiki pencatatan peminjaman dan pengembalian buku.

Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta mengenai pengelolaan dan standar akreditasi perpustakaan sebesar 40 persen berdasarkan hasil pre-test dan post-test. Sementara itu, observasi satu bulan setelah kegiatan menunjukkan peningkatan kunjungan siswa ke perpustakaan sekitar 30 persen.
Perubahan juga terlihat pada penataan koleksi yang menjadi lebih terstruktur, administrasi yang mulai tertib, serta pemanfaatan perpustakaan oleh guru sebagai sumber belajar. Guru mulai memberikan tugas yang mendorong siswa mencari referensi secara langsung melalui perpustakaan sekolah.
Pemberian dua unit lemari buku turut membantu meningkatkan kapasitas penyimpanan dan membuat koleksi lebih mudah ditata serta diakses.

Perbaikan ini diharapkan mampu memperkuat fungsi perpustakaan, tidak sekadar sebagai tempat penyimpanan buku, tetapi juga sebagai pusat sumber belajar dan pengembangan budaya literasi siswa.
Meski menunjukkan perkembangan positif, program ini juga menemukan sejumlah tantangan yang masih perlu ditangani, antara lain keterbatasan tenaga perpustakaan berkualifikasi, kebutuhan penambahan koleksi, serta akses internet yang belum memadai untuk mendukung penerapan sistem otomasi perpustakaan.
Karena itu, tim merekomendasikan pendampingan berkelanjutan, pelatihan lanjutan bagi pengelola, pengembangan sistem otomasi yang dapat digunakan secara luring (offline), serta kerja sama dengan pemerintah daerah, perpustakaan, dan komunitas literasi untuk mendukung pengembangan koleksi maupun fasilitas.

Melalui program ini, UWKS menegaskan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah dalam meningkatkan mutu pengelolaan perpustakaan. Pendampingan yang memadukan pelatihan, praktik langsung, dan dukungan sarana diharapkan dapat menjadi contoh bagi sekolah lain yang menghadapi tantangan serupa dalam meningkatkan kualitas perpustakaan.

Program tersebut didokumentasikan dalam artikel ilmiah berjudul “Pendampingan Perpustakaan Menuju Perpustakaan Terakreditasi (Sekolah Dasar Negeri 1 Kapasari Surabaya)”, yang diterbitkan dalam jurnal Abdimasku, Volume 9, Nomor 2, Mei 2026, halaman 693–702.
Dengan pengelolaan yang semakin tertata dan dukungan berbagai pihak, perpustakaan sekolah diharapkan dapat berkembang menjadi ruang belajar yang inklusif, nyaman, dan mendukung peningkatan literasi serta kualitas pendidikan. **( RM/BNN)

Leave a Response