Pendidikan

Jejak Visual: Evolusi Fotografi dan Videografi

54views

 

BANDUNGPOS (12/10/2026). Fotografi bukan sekadar urusan kamera dan kecanggihan teknologi. Di balik setiap gambar, ada cerita, proses kreatif, dan upaya merekam jejak zaman. Dari kamera lubang jarum hingga videografi modern, teknologi visual menjadi medium penting untuk menyimpan ingatan dan mendokumentasikan perjalanan manusia.

Perspektif tersebut mengemuka dalam paparan Ray Bachtiar Dradjat, praktisi fotografi sekaligus pendiri Komunitas Lubang Jarum Indonesia (KLJI), dalam talkshow bertajuk “Jejak Visual: Evolusi Fotografi dan Videografi” di Museum Mandiri, kawasan Kota Tua, Jakarta.

Ray dikenal melalui kiprahnya memperkenalkan fotografi lubang jarum, teknik sederhana yang mengandalkan prinsip dasar cahaya untuk membentuk gambar tanpa lensa. Melalui pendekatan ini, fotografi dapat dipelajari siapa saja, sekaligus mengajak orang memahami pentingnya kesabaran, ketelitian, dan proses kreatif dalam menghasilkan sebuah citra.

Namun, fotografi bukan hanya persoalan teknik dan estetika. Dalam paparannya, Ray menyoroti peran penting fotografi dalam merekam sejarah bangsa, khususnya melalui karya Frans dan Alex Mendur yang mengabadikan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Mendur Bersaudara, Saksi Visual Kemerdekaan

Berkat keberanian dan karya Mendur Bersaudara, generasi sekarang masih dapat menyaksikan jejak visual salah satu peristiwa terpenting dalam sejarah Indonesia. Foto-foto proklamasi bukan sekadar gambar dokumenter, melainkan bukti sejarah yang menjaga ingatan kolektif bangsa.

Frans Soemarta Mendur, lahir di Kawangkoan, Minahasa, pada 16 April 1913, merupakan fotografer jurnalistik yang bersama kakaknya, Alex Mendur, merekam momen bersejarah pembacaan proklamasi oleh Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta.

Pada 2 Oktober 1946, keduanya bersama sejumlah fotografer mendirikan Indonesian Press Photo Service (IPPHOS), lembaga yang turut berperan dalam perkembangan jurnalisme foto Indonesia.

Frans meninggal dunia pada 24 April 1971. Atas jasa mereka, Frans dan Alex Mendur masing-masing dikenang sebagai bagian penting dari sejarah fotografi perjuangan Indonesia. Keduanya menerima penghargaan Bintang Jasa Utama pada 2009 dan Bintang Mahaputera Nararya pada 2010.

Paparan Ray mengingatkan bahwa di balik foto-foto bersejarah, terdapat fotografer yang mempertaruhkan kemampuan dan keberanian agar sebuah peristiwa tidak lenyap dari ingatan. Tanpa dokumentasi Mendur Bersaudara, generasi berikutnya akan kehilangan salah satu sumber visual penting untuk memahami detik-detik lahirnya Indonesia merdeka.

Dari Foto Diam ke Gambar Bergerak

Perkembangan teknologi kemudian membawa fotografi menuju videografi, yang memadukan gambar bergerak, suara, dan waktu untuk membangun cerita. Kini, kamera digital dan telepon pintar membuat proses merekam semakin mudah. Namun, pemahaman mengenai prinsip fotografi, nilai dokumentasi, dan cerita di balik gambar tetap penting.

Dalam konteks ini, museum dapat menjadi ruang belajar yang mempertemukan teknologi, seni, sejarah, dan kebudayaan. Foto maupun rekaman visual bukan hanya menyimpan peristiwa, tetapi juga membantu generasi masa kini memahami kehidupan pada masa lalu.

Perspektif tersebut menjadi bagian dari talkshow “Jejak Visual: Evolusi Fotografi dan Videografi” yang berlangsung pada Minggu, 11 Oktober 2026, pukul 13.00–14.00 WIB, di Aula Majapahit, lantai dasar Museum Mandiri. Diskusi menghadirkan Ray Bachtiar Dradjat dengan moderator Agustin Saptono.

Sementara itu, pameran “Dalam Lensa dan Pita” dijadwalkan berlangsung pada tanggal 2 hingga 24 Oktober 2026 di Aula Sriwijaya, lantai satu Museum Mandiri. Pameran ini mengajak masyarakat menelusuri perkembangan fotografi dan videografi dari masa ke masa, dengan akses gratis bagi pengunjung.

Pada akhirnya, fotografi dan videografi bukan semata-mata tentang teknologi, melainkan tentang bagaimana manusia merekam peristiwa, menyampaikan cerita, dan merawat ingatan. Seperti yang ditunjukkan oleh karya Mendur Bersaudara, sebuah foto dapat melampaui zamannya menjadi saksi sejarah yang terus berbicara kepada generasi berikutnya. (kin sanubary/sir)

Leave a Response