Kabupaten/Kota

Pengabdian Kepada Masyarakat Prodi Ilmu Perpustakaan FISIP UWKS

Sosialisasi dan pelatihan ini diadakan secara luring dan daring, diikuti oleh para pengelola mobil pintar yang merupakan relawan dan staf Yayasan Pondok Kasih, yang mengikuti kegiatan pelatihan bukan hanya dari Kota Surabaya namun juga dari berbagai provinsi, Papua, Sulawesi, Jakarta dan lainnya.

43views

SURABAYA, Bandungpos.id–Pada hari Kamis,24 September 2026 Program Studi Ilmu Perpustakaan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Wijaya Kusuma Surabaya mengadakan Pengabdian Kepada Masyarakat dengan mitra Yayasan Pondok Kasih Keputih Sukolilo Surabaya, bertemakan “Sosialisasi dan Pelatihan Pengelolaan Mobil Pintar”.

Sosialisasi dan pelatihan ini diadakan secara luring dan daring, diikuti oleh para pengelola mobil pintar yang merupakan relawan dan staf Yayasan Pondok Kasih, yang mengikuti kegiatan pelatihan bukan hanya dari Kota Surabaya namun juga dari berbagai provinsi, Papua, Sulawesi, Jakarta dan lainnya.

Anita, sebagai Koordinator mobil pintar menyampaikan, ada Enam titik komunitas yang didampingi dengan jadwal teratur yakni Senin di Petojo, Selasa di Rusun Sumur Welut, Rabu di Makam Mataram, Kamis di Pesisir Kenjeran, Jumat di Rusun Tambak Wedi, dan Sabtu di Keputih. Anak-anak selalu antusias menunggu kakak-kakak relawan pendamping dan mobil pintar, hanya sayang koleksi kami masih kurang, imbuhnya.

Ketua Program Studi Ilmu Perpustakaan Yanuastrid Shintawati menyampaikan mobil pintar perpustakaan keliling perlu dikelola secara profesional, supaya koleksinya tetap terjaga, tepat sasaran, dan sesuai dengan kebutuhan penggunanya.

Bambang Prakoso, sebagai Ketua Pengabdian Kepada Masyarakat mengemukakan bahwasanya mobil pintar perpustakaan keliling Yayasan Pondok Kasih punya peranan strategis dan berdampak konkret, menyalakan harapan anak-anak termarjinalkan di Kota Surabaya yang luput dari perhatian pemerintah.

Prodi Ilmu Perpustakan FISIP UWKS pada tanggal 23 September 2026 juga ikut melakukan pendampingan di Makam Mataram.l, dengan kurang lebih sejumlah seratus anak yang merupakan warga sekitar dengan sukacita mengikuti pendampingan. Mereka bergembira, belajar membaca, dan menceritakan kembali buku yang telah mereka baca.

Makam Mataram tidak lagi menjadi tempat yang magis atau menyeramkan melainkan bertransformasi menjadi tempat berkumpul belajar bersama. Mereka yang hadir dari berbagai latar belakang keluarga, ada anak yatim-piatu, anak yang berorang tua tukang becak, pedagang sekitar makam, pekerja malam, bahkan ada anak dari orang tua dengan gangguan jiwa.

Pengabdian Kepada Masyarakat bagian dari Tri Darma Perguruan Tinggi sudah seyogyanya Kampus bersinergi dengan berbagai element, tidak boleh hanya mengkaji teori, data-data empiris tapi memang harus turun langsung berlumur keringat, melakukan Langkah konkret, sesuai spirit “kampus berdampak” **(RM/BNN)

Leave a Response