Resensi Buku Nexus Way : “Ketika Krisis Bukan Lagi Bencana, Melainkan Sekolah Kehidupan”

Ada satu penyakit yang sering saya lihat ketika sebuah organisasi diterpa masalah : panik lebih dulu, berpikir belakangan. Begitu muncul berita negatif, langsung bikin klarifikasi. Begitu ada unggahan viral, buru-buru rapat. Begitu media bertanya, semua orang ingin bicara. Begitu buzzer menyerang, manajemen ikut terpancing. Seolah-olah dalam krisis, siapa yang paling cepat bereaksi adalah pemenangnya. Padahal belum tentu. Bisa jadi justru sebaliknya : orang yang paling cepat bereaksi adalah orang yang paling cepat membuat kesalahan.

ITULAH– salah satu alasan saya tertarik membaca Nexus Way : 14 Years of Incredible Journey in Handling Issues, Conflicts, and Crises, From Russia-Ukraine War to Kanjuruhan Football Tragedy, karya Firsan Nova dan Aisyah Muftian Mursyid, yang diterbitkan CV Agung Grafika pada Juli 2026. Saya mulai lebih dekat mengenal salah satu penulisnya, Mas Firsan, sejak dua tahun belakangan ini ; tepatnya sejak berkesempatan untuk mengikuti workshop terbatas tentang Crisis Management di kantor Nexus pada tahun 2025. Sejak itulah kami intens berinteraksi dan berdiskusi secara informal hingga saat ini.
Buku setebal 237 halaman ini mendokumentasikan perjalanan Nexus selama 14 tahun menangani isu, konflik, dan krisis. Bagi saya, buku ini menarik bukan karena ia berbicara tentang krisis. Buku tentang crisis management sudah banyak. Yang menarik adalah karena buku ini lahir dari pengalaman berada di dalam badai selama belasan tahun. Nexus memang sejak awal memosisikan diri sebagai konsultan yang fokus pada issues, conflict and crisis—ICC. Perjalanan mereka dimulai pada 2012 dan kemudian bersentuhan dengan berbagai kasus, dari persoalan korporasi sampai konflik sosial dan perang Rusia-Ukraina.
Jadi, Nexus Way bukan buku yang terlalu sibuk mengajari kita bagaimana krisis seharusnya terjadi dan dihadapi. Ia lebih banyak menunjukkan bagaimana krisis benar-benar terjadi di lapangan. Dan itu bedanya besar. Krisis tidak selalu sebesar suara di media sosial. Salah satu gagasan yang menurut saya paling relevan dengan zaman sekarang adalah: jangan mengukur krisis hanya dari kebisingannya. Media sosial memang bisa membuat persoalan kecil terlihat seperti kiamat. Sebuah unggahan viral, ribuan komentar, hashtag yang ramai, lalu manajemen merasa perusahaan sedang menghadapi krisis besar. Padahal pertanyaannya sederhana : apa dampaknya terhadap bisnis dan organisasi?
Nexus Way mengingatkan bahwa ukuran krisis bukan semata-mata seberapa besar suara yang terdengar, tetapi seberapa besar dampaknya. Karena itu, indikator seperti revenue, market share, kepuasan pelanggan, loyalitas, investor, hingga moral karyawan tetap penting untuk diperiksa. Saya kira ini tamparan kecil bagi banyak organisasi yang terlalu mudah menyamakan viral dengan vital. Tidak semua yang trending harus dilawan. Tidak semua komentar harus dijawab. Dan tidak semua kebisingan layak dijadikan agenda direksi. Kadang-kadang, strategi terbaik memang bukan berbicara lebih keras, melainkan mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Analisis dulu. Baru bertindak. Ini mungkin terdengar sederhana. Tetapi justru hal sederhana seperti inilah yang sering dilupakan. Nexus Way menempatkan analyzing sebelum planning, organizing, actuating, dan controlling. Alasannya jelas : strategi yang baik membutuhkan analisis situasi yang baik, dan analisis membutuhkan fakta serta data. Bahkan dalam proses fact finding, fakta yang ditemukan bisa saja tidak menguntungkan klien. Bisa menunjukkan klien benar, berisiko, atau bahkan bersalah.
Saya suka bagian ini karena ada pesan profesional yang cukup keras : konsultan komunikasi bukan tukang pembenar klien. Kalau fakta tidak menguntungkan, fakta tidak boleh dipelintir hanya agar narasi terlihat cantik. Kalau organisasi salah, jangan buru-buru mencari kalimat yang membuatnya terlihat benar. Sebab komunikasi yang bagus tidak akan pernah bisa menyelamatkan fakta yang buruk selamanya.
Buku ini semakin menarik ketika masuk ke wilayah abu-abu. Nexus Way tidak berpura-pura bahwa dunia komunikasi selalu bersih dan ideal. Ada buzzer. Ada serangan digital. Ada konflik kepentingan. Ada permintaan klien untuk melakukan doxing, menyebarkan hoaks, menyerang orang, mengorkestrasi buzzer, bahkan take down berita. Penulis secara terbuka mengakui bahwa pekerjaan konsultan komunikasi memiliki potensi diseret ke wilayah semacam itu. Tetapi kemudian muncul prinsip yang menurut saya justru paling penting : You can win without doing evil.
Kalimat ini seharusnya dipasang besar-besar di banyak ruang kantor konsultan komunikasi. Sebab kemenangan tidak selalu harus diperoleh dengan menghancurkan lawan. Menang tidak harus berarti membuat orang lain kalah secara brutal. Dan profesionalisme bukan kemampuan melakukan apa pun demi klien. Profesionalisme justru terlihat ketika kita tahu kapan harus berkata tidak.
Bab keempat menyajikan 31 studi kasus, mulai dari Tragedi Kanjuruhan, Mie Gacoan, Sritex, konflik PLTA, BTS 4G, asuransi, Ukraina, ACT, Mario Dandy, minyak goreng, vaksin COVID-19, hingga kebocoran gas di Cilegon. Di sinilah kekuatan utama buku ini. Krisis tidak lagi dibicarakan sebagai konsep abstrak.
Pembaca dibawa melihat bagaimana sebuah isu bisa bergerak dari satu arena ke arena lain : operasional menjadi reputasi, reputasi menjadi opini publik, opini publik menjadi persoalan politik, bahkan bisa masuk ke wilayah hukum.
Tak ada gading yang tak retak. Harus saya sampaikan, buku ini menurut juga ada beberapa titik kelemahannya. Misalnya, ada banyak framework ditampilkan—dan itu memperkaya buku—namun pembaca bisa bertanya lebih lanjut : mana yang benar-benar “Nexus Way” dan mana yang merupakan adaptasi dari teori atau model yang sudah dikenal selama ini?
Begitu pula dengan pemaparan sejumlah kasus. Sebagian terasa lebih kuat sebagai case story daripada case study yang benar-benar dibedah dari diagnosis masalah utamanya, alternatif strategi, keputusan, implementasi hingga outcome yang terukur. Bisa jadi, ini kebiasaan subjektif saya yang terpola menjalani cara pekerjaan sebagai seorang Strategic Planner. Menurut saya, justru di situlah ruang pengembangan buku ini ke depan.
Bagian terbaiknya justru ada di pengakuan yang sangat jujur secara profesional. Ada tiga confession yang membuat buku ini tiba-tiba menjadi jauh lebih manusiawi. Salah satunya mempertanyakan sesuatu yang sangat mendasar : setelah bertahun-tahun merasa sedang melakukan hal yang benar, bagaimana kalau suatu hari kita justru tidak lagi yakin siapa yang benar dan siapa yang salah? Ini pertanyaan besar. Karena problem terbesar konsultan krisis bukan hanya : “Apakah kita bisa menyelamatkan klien?” Tetapi : “Dalam proses menyelamatkan klien, apakah kita masih tahu siapa diri kita yang sebenarnya?”
Buku ini kemudian ditutup dengan The End Is Inevitable, dan perjalanan 14 tahun itu akhirnya dirayakan melalui My Way—sebuah refleksi bahwa yang paling penting bukan hanya hasil akhir, tetapi jalan panjang yang sudah ditempuh. Dan mungkin, di situlah inti Nexus Way. Buku ini bukan resep anti-krisis. Tidak ada organisasi yang kebal krisis. Yang ada adalah organisasi yang lebih siap, pemimpin yang lebih tenang, tim yang lebih solid, keputusan yang lebih berbasis fakta, dan profesional yang masih memiliki kompas moral ketika keadaan mulai kacau.
Maka saya tidak membaca Nexus Way sebagai buku yang mengatakan, “Kami tahu cara mengalahkan semua krisis.” Saya membacanya sebagai pengakuan yang jauh lebih rendah hati : Kita tidak pernah bisa mengendalikan seluruh badai. Tetapi kita bisa mempersiapkan bagaimana kita berdiri ketika badai itu datang. Terakhir, izinkan saya menutup resensi ini dengan sebait puisi :
Badai tak pernah bertanya
siapa yang siap, siapa yang gentar
Ia datang…..
mengguncang arah, menguji pijakan
Namun kita belajar :
tak semua badai harus dilawan
tak semua riuh harus dijawab
Kadang, kemenangan
adalah tetap jernih ketika dunia gaduh,
tetap manusiawi ketika kuasa menggoda
tetap tegak ketika kenyataan tak berpihak
Sebab pada akhirnya…..
kita tak memilih badai yang datang
tetapi kita memilih
bagaimana tetap berdiri di dalamnya
Bekasi, 7 September 2026 M Kh Rachman Ridhatullah Founder & Managing Director QUARTIAN Creative Change Management Specialist
Editor : Rianto Muradi





