

PARIAMAN BARAT, Bandungpos--Beberapa bulan lalu, saya diundang oleh guru-guru Kabupaten Pasaman Barat yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Indonesia SMP/MTs/MA se-Kabupaten Pasaman Barat untuk mengisi Workshop Menulis Puisi.
Peserta pelatihan itu tidak banyak, hanya sekitar 15 guru yang benar-benar berminat. Namun, dari jumlah yang terbatas itu, 12 di antaranya konsisten menulis hingga sepakat membukukan karya-karya mereka. Dari komitmen bersama inilah lahir sebuah buku apik berisikan puisi beragam tema bertajuk “Lelaki dari Rahimku”. Masing-masing guru menyumbang dua hingga tiga judul puisi.
Saya menyaksikan semangat yang luar biasa dari para pendidik di MGMP Bahasa Indonesia Pasaman Barat ini. Pertama, sebagian dari mereka berasal dari wilayah pelosok dengan jarak tempuh dua hingga tiga jam perjalanan darat menuju Simpang Empat, pusat kota. Saya memahami betul beratnya medan geografis tersebut karena ibu saya berasal dari Pasaman Barat. Bahkan, demi mengikuti workshop ini, seorang peserta mengalami kecelakaan—sepeda motornya tergelincir hingga kakinya terluka. Saat itu saya menyarankan agar ia tidak memaksakan diri melanjutkan pelatihan dan segera berobat ke rumah sakit terdekat. Semoga beliau kini telah pulih sepenuhnya.
Hal luar biasa kedua, tidak banyak guru yang mau meluangkan waktu untuk menulis di tengah himpitan beban kerja yang padat, terutama tumpukan urusan administrasi dan jam mengajar yang menyita energi. Padahal, guru adalah benteng utama keteladanan. Ketika guru membaca dan menulis, perilaku literatif tersebut akan diserap dan ditiru oleh murid-muridnya secara alami. Menulis bagi guru bukan sekadar penyaluran hobi, melainkan bentuk perjuangan menjaga kewarasan pikiran serta mengasah kepekaan empati pedagogis di tengah beban formalitas persekolahan.
Satu dekade terakhir, gerakan literasi di Kabupaten Pasaman Barat memang tumbuh dengan baik. Di daerah ini, banyak sahabat penggerak literasi—mulai dari penulis, guru, pustakawan, hingga pengelola taman bacaan masyarakat—yang konsisten merawat nyala membaca dan menulis. Kehadiran buku “Lelaki dari Rahimku” menjadi bukti konkret bagaimana ekosistem literasi lokal mampu melahirkan karya yang tidak sekadar puitis, tetapi juga sarat dengan cerminan realitas sosial serta pergulatan batin para pendidik.
Pergulatan tersebut terpancar kuat dalam puisi-puisi di buku ini. Puisi “Aku, Suara yang Tak Didengar” karya Amsal (Guru MAN 3 Pasaman Barat), misalnya, secara emosional merekam jeritan hati pendidik yang menghadapi degradasi profesi. Lewat kontras antara keindahan idealisme masa lalu (2001) dan realitas pahit masa kini (2025), penyair mengkritik beban administrasi yang tumpang tindih, rendahnya apresiasi finansial, serta hilangnya rasa hormat dari masyarakat.
Kita kutip sebait puisi itu: //Negeriku, katanya menjunjung guru/ tapi di balik pidato yang megah/ dan spanduk ucapan ‘Pahlawan Tanpa Tanda Jasa’/ aku… menangis dalam diam.//
Bait di atas menjadi puncak kritik sosial, menggambarkan kontras tajam antara retorika manis penghargaan dan penderitaan nyata di lapangan. Dengan bahasa yang lugas namun menyayat hati, puisi ini menjadi refleksi kritis atas pudarnya empati terhadap ketulusan seorang pendidik.
Sementara itu, puisi “Mega di Balik Malang” karya Ani Sofia menggambarkan nostalgia penuh kehangatan sekaligus perjuangan hidup sederhana sebuah keluarga. Melalui rentetan ingatan masa kecil, seperti sepatu rusak, seragam kehujanan, asap tungku kayu, hingga penerangan lampu teplok yang remang, penyair membawa pembaca merasakan pahit manisnya kenangan masa lalu. Kita baca: //Ibu meniup kayu basah di perapian/ Asap mengepul seisi ruang, menusuk mata/ Lampu teplok dipaut dengan gagahnya/ Namun, cahaya bertamu remang/ Dulu sekali…//Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis
Editor : rianto muradi





