Kolom Sosial Politik

Brian: “Jangan Panggil Profesor”

5views

 

Oleh: Ridhazia

MENTERI  Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto mengkritik kultur orang Indonesia yang gemar dipanggil dengan gelar-gelar akademik seperti sebutan profesor.

Alumni ITB Bandung yang juga profesor — dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto pada 19 Februari 2025 sebagai menteri — itu mengungkapkan kalau kultur menyapa dan memanggil profesor semacam itu tak ada di negara lain.

Sudah Kultur Dunia

Gugatan Mendikristek ini tidak beralasan kalau panggilan profesor itu hanya terjadi dan menjadi kultur di Indonesia.

Sebab, secara histori kultur memanggil seseorang akademisi kampus dengan sebutan “profesor” berakar dari sejarah, tradisi hierarki akademik yang panjang.

Di dunia akademik profesor adalah jabatan akademik tertinggi bagi dosen, yang disebut Guru Besar.

Dengan kata lain bukan sekadar gelar tapi bentuk penghormatan terhadap ketekunan dan keahlian tertinggi bagi para pendidik di perguruan tinggi yang berlaku universal.

Posisi ini pun diraih melalui proses panjang  melalui  sejumlah penelitian dan publikasi ilmiah yang memakan waktu belasan hingga puluhan tahun.

Simbol

Di banyak budaya pendidikan tinggi di dunia penyebutan gelar dan jabatan merupakan bagian dari penghargaan terhadap dedikasi intelektual.

Meski tercatat dalam sejarah gelar profesor yang diberlakukan sejak abad ke-16 di Inggris diinisiasi oleh Raja Henry VIII sebagai jabatan resmi bagi seserorang pengajar spesialis di bidang teologi, kedokteran, dan hukum di lingkaran Istana.

Sedangkan berdasar asal usul kata profesor dari bahasa Latin profiteri — yang berarti pengakuan terbuka bagi seseorang yang memiliki keahlian — di bidang tertentu yang terbatas jumlahnya.

Masih 3 persen

Jumlah profesor di perguruan tinggi di Indonesia masih di kisaran 2-3 persen dari total 350 ribu dosen.

Sedangkan di negara lain seperti Amerika dan Inggris sudah dikisaran 10-15 persen dari keseluruhan populasi dosen . Malaysia dikisaran 10 persen dan Korea Selatan tembus 20 persen.*

*Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.

Leave a Response