Opini

Menavigasi Ulang Gerakan Literasi

16views

 

Oleh Muhammad Subhan

Gerakan literasi juga kerap digugat karena dianggap hanya melahirkan “duta”, “relawan”, atau “pegiat”, bukan pembaca riil. Pandangan ini abai bahwa pada wilayah-wilayah dengan akses bacaan yang timpang, figur-figur inilah yang berdiri di garda terdepan, menjadi penyambung lidah antara teks dan pembaca baru. Mereka bukan sekadar pemanis di permukaan, tapi jembatan kehidupan yang menghubungkan masyarakat terpencil dengan dunia luar.

ADANYA beranggapan bahwa gerakan literasi di tanah air hanya terjadi di permukaan dan “lebih banyak melahirkan pembicara dibandingkan pembaca” di belakang ini membuat nyaring terdengar. Sinisme ini sepintas memikat, tapi pandangan ini didikte oleh premis yang salah.

Ada dikotomi yang dipaksakan, seolah-olah seminar, pelatihan, dan diskusi adalah musuh laten dari aktivitas membaca, bukan bagian dari ekosistemnya. Gugatan semacam ini meleset karena melihat kegiatan membaca dan pembicaraan tentang membaca sebagai dua kutub yang saling menegasi.

Dalam bentangan praktik pendidikan dan kebudayaan, literasi tidak pernah tidak terlindungi. Literasi selalu membutuhkan perantara seperti guru, perpustakaan, komunitas, penerbit, hingga percakapan di ruang-ruang publik. Minat baca tidak tiba-tiba jatuh dari langit, tapi disemai lewat ajakan, kebiasaan sosial, dan infrastruktur kultural yang justru sering kali dipantik oleh rangkaian acara yang sering disebut “sekadar seremonial” itu.

Kita perlu mengurai kekeliruan klasik ini, yaitu mengukur budaya baca hanya dari apa yang kasatmata. Membaca adalah proses kontemplatif yang paling minim publikasi. Tidak ada panggung megah, tidak ada dokumentasi visual yang dramatis, tidak ada sorak-sorai penonton. Ketika seseorang menyimpulkan masyarakat “lebih banyak berwacana daripada membaca”, ia terjebak pada bias pengamatan karena apa yang tampak dianggap mewakili seluruh kenyataan dan yang tak terlihat tidak ada. Ketiadaan bukti visual disalahartikan sebagai ketiadaan praktik.

Gerakan literasi juga kerap digugat karena dianggap hanya melahirkan “duta”, “relawan”, atau “pegiat”, bukan pembaca riil. Pandangan ini abai bahwa pada wilayah-wilayah dengan akses bacaan yang timpang, figur-figur inilah yang berdiri di garda terdepan, menjadi penyambung lidah antara teks dan pembaca baru. Mereka bukan sekadar pemanis di permukaan, tapi jembatan kehidupan yang menghubungkan masyarakat terpencil dengan dunia luar.

Mungkinkah budaya membaca tumbuh subur tanpa ada pihak yang memulainya dengan bicara? Tanpa kampanye, tanpa kelas-kelas komunitas dan intansi, tanpa ajakan, atau bahkan tanpa slogan yang menempel di dinding sekolah dan kampus?

Sejarah literasi modern di negara-negara maju justru menunjukkan potret sebaliknya. Bangsa dengan tingkat literasi tinggi memiliki tradisi panjang dalam melembagakan pembicaraan tentang buku, mulai dari kebijakan perpustakaan publik hingga program membaca nasional. Semua itu adalah bentuk “percakapan tentang membaca” yang dikelola secara sistematis, bukan pengalih perhatian dari esensi membaca itu sendiri.

Kelemahan lain dari sinisme terhadap gerakan literasi adalah penyederhanaan kausalitas. Rendahnya budaya baca sering disebut sebagai imbas dari mahalnya buku, karut-marutnya akses, dan minimnya fasilitas. Namun, pada saat yang sama, gerakan literasi disalahkan karena dianggap gagal mencetak pembaca. Ini penalaran yang melompat. Ketika infrastruktur budaya melelempem, gerakan kerelawanan hadir perbaikan, namun kehadirannya malah merupakan penyimpangan.

Maraknya seminar dan diskusi literasi justru merupakan reaksi atas kerentanan ekosistem membaca, bukan biang keladinya. Kita tentu tidak menutup mata bahwa ada segelintir oportunisme yang memanfaatkan momentum demi penyerapan anggaran atau formalitas birokrasi. Namun, menjadikan anomali tersebut sebagai vonis umum adalah kekeliruan besar. Ruang-ruang diskusi itu lahir dan diperbanyak justru sebagai benteng darurat untuk memicu lahirnya kebiasaan baru di tengah masyarakat yang masih asing dengan buku.

Tentu saja, risiko kegiatan literasi menjadi sekadar ajang seremonial dan berburu takaran administratif tetap ada. Kritik pada titik itu sangat valid dan harus tetap dipertahankan. Namun, menggeneralisasi risiko tersebut untuk membubarkan seluruh gerakan ikhtiar adalah langkah yang gegabah. Sama saja seperti mengutuk sistem sekolah hanya karena melihat beberapa lembaga pendidikan gagal mendidik muridnya.

Membaca memang aktivitas pribadi, tapi merawat budaya membaca adalah kerja sosial. Bahkan saat seseorang membenamkan diri dalam lembar-lembar buku di kamar terasing, pilihan bacaan dan ketajaman analisisnya dibentuk oleh lingkungan sosial di luarnya. Literasi adalah praktik sosial yang kompleks, bukan sekedar urusan biologi saat mata mengungkapkan huruf dan otak menerjemahkan teks.

Tanpa bahasa, tanpa diskusi, dan tanpa percakapan publik, aktivitas membaca akan selamanya terlindungi, tercerai-berai, dan gagal membentuk jaringan kultural yang kuat. Begitupun dengan keberadaan pelatihan menulis instan yang sering dicibir sebagai gejala pendangkalan mutu. Di lapangan, format “instan” ini harus dilihat secara proporsional sebagai pemantik awal atau pintu masuk yang inklusif, bukan hasil akhir dari sebuah proses kepenulisan. Penulis-penulis berbobot tidak selalu lahir secara organik dari ketekunan membaca mandiri selama puluhan tahun; Banyak di antara mereka yang mulanya membutuhkan bimbingan taktis dan pedagogis yang terstruktur untuk mengurai kemacetan gagasan, sebelum akhirnya berproses secara panjang dan mandiri.

Ada kecenderungan romantisasi yang keliru, bahwa kualitas hanya sahih jika lahir dari proses soliter yang alamiah tanpa sentuhan institusi. Padahal, dunia modern memanfaatkan institusi, termasuk workshop dan seminar, sebagai instrumen untuk mendongkrak kualitas secara massal dan terukur.

Transformasi budaya tidak pernah berjalan lurus dan mulus. Prosesnya tidak melompat dari “tanpa seminar” langsung menuju “masyarakat gila baca”, namun harus melewati fase-fase transisi yang seringkali tampak canggung dan tidak ideal. Dalam fase perantara inilah, berbagai aktivitas yang dinilai tidak berdampak langsung pada letak fondasi jangka panjang.

Pertanyaan krusialnya kini bukan lagi “mengapa terlalu banyak orang membicarakan literasi?”, tapi justru “apa yang akan terjadi jika tidak ada lagi orang yang sudi membengkak?”

Menjelajahinya jauh lebih luas, di mana kita tidak hanya akan kehilangan pembaca, tapi juga kehilangan kesadaran kolektif bahwa membaca adalah fondasi penting sebuah bangsa.

Gerakan literasi di Indonesia memang jauh dari sempurna. Ada kalanya ia dangkal, salah kelola, atau terjebak formalitas. Namun, mentempelnya sebagai gerakan yang salah arah adalah kesimpulan yang terburu-buru. Kita tidak memerlukan sinisme total, melainkan navigasi ulang, yaitu mempererat hubungan antara wacana dan praktik, antara kemeriahan acara dan kemudahan akses, serta antara diskusi dan buku yang benar-benar dipegang lalu dibaca.

Tanpa adanya percakapan, membaca akan kehilangan ruh lalu perlahan menghilang dari ruang publik. Pada hari itu tiba, kita tidak hanya kehilangan sebuah gerakan, tapi juga kehilangan masa depan generasi pembacanya. ** Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, pendiri Sekolah Menulis elipsis

Editor : Rianto Muradi

Leave a Response