
Oleh: Ridhazia
LAPANGAN Gasibu yang berada tepat berseberangnya dengan Gedung Sate setahun mendatang mungkin sudah terintegrasi.
Kedua peninggalan era kolonial Belanda bakal menjadi kawasan ruang publik terbuka hijau yang luas. Nanti, kedua tempat bersejarah itu tidak lagi terpisahkan Jalan Diponogoro.
Night Run
Selama ini lapangan seluas 25.956 meter persegi masih menjadi pilihan favorit . Terutama untuk penyuka “Night Run” yakni olahraga lari pada malam hari.
Lintasan lari (jogging track) di Gasibu tergolong mewah, sintetik dengan standar internasional sepanjang 400 meter.
Sejak Kolonial
Lapangan Gasibu pada era kolonial Belanda dikenal sebagai Wilhelmina Plein atau Lapangan Wilhelmina.
Semula dibangun sebagai fasilitas ruang terbuka Gedung Sate sebagai kantor pusat Departemen Perusahaan Pemerintah (Department van Gouvernementsbedrijven).
Selain untuk kegiatan upacara militer, upacara, juga area berkumpul bagi warga Eropa di tengah udara dingin malam khas Kota Bandung.
Gedung Sate mulai dibangun pada 27 Juli 1920 dan selesai pada 1924. Gedung ikonik ini dirancang oleh arsitek Belanda bernama Ir. J. Gerber, yang dibantu oleh Kolonel Purnawirawan V.L. Slors dan arsitek Eh. De Roo. *
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.




