Nasional

Selamat Berjuang Kembali Duta Baca Indonesia

9views
Oleh Muhammad Subhan
JAKARTA, Bandungpos,– turut bahagia selempang Duta Baca Indonesia kembali disematkan kepada Gol A Gong, setidaknya hingga Desember 2026 mendatang. Jabatan Gol A Gong sendiri telah berakhir pada 2025, kemudian terbetik kabar, disebabkan oleh efisiensi anggaran negara, jabatan itu ditiadakan untuk tahun berikutnya.
Banyak yang menyayangkan jika Duta Baca Indonesia melalui Perpustakaan Nasional RI akan dihapus, sementara saya tahu ribuan lokus telah dijangkau Duta Baca Indonesia menebarkan semangat berliterasi di tengah rendahnya minat baca masyarakat Indonesia. Indikator rendah itu, sudah terlalu banyak datanya dalam berbagai survei.
Dan, meski tidak turut hadir langsung di acara pengukuhan Duta Baca Indonesia 2026 di Perpustakaan Nasional RI yang disertai Peluncuran Relawan Literasi Masyarakat (RELIMA) 2026 dan Peluncuran Aplikasi Sir5 dan Inlislite versi 3.3, Senin, 18 Mei 2026, saya mengikuti peristiwa itu dari beranda media sosial di tengah perjalanan ke Kabupaten Solok Selatan. Di dinding Facebook-nya, Gol A Gong menulis: “Alhamdulillah, saya melanjutkan amanah sebagai Duta Baca Indonesia hingga Desember 2026. Ini untuk mengisi kekosongan karena efisiensi. Pengukuhannya di Gedung Teater, Perpustakaan Nasional RI, Salemba, Jakarta Pusat, Senin 18 Mei 2026.”
Gol A Gong juga meminta didoakan oleh masyarakat Indonesia agar ia bisa amanah mengemban tugas mulia itu dan selalu dalam keadaan sehat di usianya yang tak lagi muda. Tentu, kita mengucapkan selamat, Duta Baca Indonesia tetap hadir di tengah-tengah kita untuk terus menyalakan lentera literasi yang tak boleh padam.
Agustus 2025 lalu, di halaman Facebook-nya ia menulis catatan berjudul “Sayonara, Duta Baca Indonesia” dan “Usulan untuk Relawan Literasi Masyarakat 2026.” “Sayonara, Duta Baca Indonesia” itu disertai sejumlah agenda literasi Gol A Gong menjelang berakhirnya jabatan sebagai Duta Baca Indonesia yang telah ia emban sejak 2021 hingga akhir 2025.
Sehabis masa jabatannya sebagai Duta Baca Indonesia, Gol A Gong melakukan Safari Literasi ke sejumlah kota di Pulau Jawa dan beberapa negara Eropa sebagai perpisahan dan bentuk rasa syukur karena sepanjang 2021—2025 kegiatan sebagai Duta Baca Indonesia yang dilakoninya berjalan lancar dan dimudahkan.
“Itu karena dukungan dan bantuan semua orang,” ujarnya merendah.
Banyak sudah kota di Indonesia hingga ke pelosoknya yang telah disinggahi dan “dibakar semangat berliterasinya” oleh Duta Baca Indonesia. Saya juga masih ingat sekitar 2016 lalu Gol A Gong sekeluarga datang ke Padang Panjang, mampir ke rumah saya, dalam safari literasi, jauh sebelum menjadi Duta Baca Indonesia. Tahun 2023 ia juga menyinggahi taman bacaan saya di pelosok Kabupaten Pasaman Barat, di kaki Gunung Talamau. Gol A Gong memang luar biasa.
Pendiri Rumah Dunia di Banten yang aktif mengampanyekan “Membaca Itu Sehat, Menulis Itu Hebat” ini sosok pegiat literasi tangguh yang telah lama saya kenal. Gol A Gong seorang pejalan yang tak sungkan mendatangi daerah di pelosok hanya untuk mengajak masyarakat khususnya anak-anak agar mau membaca dan menulis. Bukan hanya mengajak, ia juga mencontohkan sebagai seorang pembaca dan penulis.
Gol A Gong menyadari membaca dan menulis adalah fondasi paling penting dalam membangun gerakan literasi yang utuh, sebelum literasi lainnya tumbuh.
Dalam amatan dan catatan saya, Gol A Gong sosok duta baca dari kalangan pegiat literasi masyarakat yang ideal. Jika satu periode jabatan duta baca telah ia jalani, saya menaruh harapan kalau masih ada kesempatan, ia dapat menjabat kembali posisi itu, meskipun barangkali ia akan menolak disebabkan faktor usia atau lebih memberi kesempatan kepada tokoh-tokoh lainnya. Tapi syukurlah satu tahun ke depan Duta Baca Indonesia masih dapat digerakkannya.
Jika jabatan Duta Baca Indonesia hilang atau dihilangkan, saya juga menyayangkan, sebab duta baca telah menjadi produk ikonik Perpustakaan Nasional yang teladannya dapat menjadi api penyemangat pegiat-pegiat literasi lainnya.
Gerakan literasi Indonesia yang masih panjang ini tetap membutuhkan sosok duta baca yang berdiri di garda terdepan, menjadi ‘role model’. Tidak dipungkiri bahwa dua dekade terakhir gerakan literasi Indonesia tumbuh pesat, meski tak sedikit rintangan dan tantangan yang dihadapi, tapi bukan berarti kerja telah selesai. Mengutip Chairil Anwar, “kerja belum selesai, belum apa-apa.”
Gol A Gong adalah Duta Baca Indonesia di luar kalangan artis yang dipilih Perpustakaan Nasional RI. Ia menggantikan duta baca yang juga presenter kondang Najwa Shihab (2016—2020). Sebelum Najwa ada Andy F. Noya (2011—2015) dan Tantowi Yahya (2006—2010). Gol A Gong sendiri sebagai Duta Baca Indonesia sejak 2021—2025 punya harapan kalau produk ikonik Perpustakaan Nasional RI ini tidak berhenti sampai di titik eksistensinya saja hanya gara-gara efisiensi anggaran. Jika pun dihapus sebab efisiensi anggaran, Gol A Gong pribadi tidak rugi apa-apa, tapi sangat disayangkan tentu ketika tren literasi baca-tulis di lapangan sedang baik, duta baca dihilangkan. Jika benar-benar itu terjadi, pasti akan berimbas pada duta baca-duta baca di daerah yang berkemungkinan jabatan itu juga akan hilang ditelan waktu disebabkan kebijakan.
Selain duta baca, Perpusnas RI saat ini memiliki eksistensi Relawan Literasi Masyarakat (Relima), dan saat ini pegiat-pegiatnya tengah berada di berbagai daerah di Indonesia mengemban tugas literasi mereka. Di tahun 2026, Gol A Gong berharap Relima juga datang ke sekolah-sekolah, menyapa mereka. Relima harus proaktif dan produktif mengampanyekan literasi. Selain jadi fasilitator, Relima juga menjadi teladan literasi baca-tulis. Menurut Gol A Gong, Relima jangan sekadar administrasi, mereka harus jadi parameter literasi baca-tulis di masyarakat. Ada karya berbentuk buku yang mereka tulis, terutama dari gagasan di lapangan sepanjang menjadi relawan literasi.
Kita sering menghakimi anak-anak Gen Z atau Gen Alpha bahwa literasi baca-tulis mereka rendah. Terutama kita terlalu menghamba pada hasil riset PISA. Datangnya Relima ke sekolah-sekolah, tidak hanya ke TBM, kampus, atau di ruang seminar saja, dampaknya akan makin meluas bagi gerakan literasi.
“Berikan wawasan tentang manfaat membaca dan ajari mereka menulis. Jika mereka diajari menulis, otomatis mereka akan membaca dengan baik. Kata pepatah Cina, menulis adalah membaca dua kali,” ujar Gol A Gong suatu hari.
Di titik inilah kita perlu menegaskan kembali bahwa menulis adalah salah satu pilar utama peradaban. Dengan menulis, pengetahuan tidak sekadar lewat seperti angin, tapi terekam, terwariskan, dan melahirkan generasi pembelajar. Menulis menjadikan seseorang tidak hanya sebagai konsumen informasi, melainkan produsen pengetahuan. Anak-anak yang sejak dini dibiasakan menulis akan terbiasa berpikir runtut, kritis, sekaligus kreatif. Mereka tidak mudah terombang-ambing oleh arus informasi instan, karena telah memiliki keterampilan memilah dan merangkai gagasan.
Di sisi lain, keberadaan perpustakaan sebagai rumah besar pengetahuan harus terus dihidupkan. Perpustakaan bukan hanya gudang penyimpan buku, tapi juga ruang hidup, tempat dialog, pusat kreativitas, dan arena kebudayaan. Tanpa perpustakaan yang aktif, literasi hanya menjadi jargon kosong. Karena itu, setiap pegiat literasi, termasuk Duta Baca Indonesia maupun Duta Baca Daerah, sejatinya adalah perpanjangan tangan pemerintah dalam usaha mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana amanat konstitusi.
Mereka menjembatani masyarakat dengan perpustakaan, menghadirkan buku ke tangan pembaca, dan menyalakan semangat menulis pada generasi muda. Apabila jabatan duta baca ditiadakan, maka gerakan literasi kehilangan wajah ikoniknya. Duta Baca adalah simbol sekaligus motor penggerak, yang mampu menggerakkan publik dengan keteladanan. Perpustakaan Nasional RI harus mempertahankan eksistensi Duta Baca, bahkan memperkuatnya. Sebab justru di tengah derasnya gelombang digitalisasi, kehadiran figur nyata yang menyapa sekolah, kampus, TBM, hingga kampung-kampung literasi semakin penting.
Harapan saya, Duta Baca Indonesia jangan dihapus. Duta baca harus terus ada, harus menjadi estafet panjang yang tidak terputus, dari generasi ke generasi, dari pusat hingga daerah. Para Duta Baca Daerah yang telah mengakar di banyak provinsi dan kabupaten/kota pun perlu dijaga keberadaannya. Dengan begitu, gerakan literasi tidak hanya menjadi wacana nasional, tapi gerakan nyata yang hadir di rumah-rumah, di ruang-ruang kelas, di desa-desa, di warung kopi, dan di lorong-lorong negeri ini. (MUHAMMAD SUBHAN)
(Sumber foto dari halaman Facebook Gol Agong Heri Harris Golagong dan laman Duta Baca Indonesia 2021-2026)
Oleh Muhammad Subhan
SAYA turut bahagia selempang Duta Baca Indonesia kembali disematkan kepada Gol A Gong, setidaknya hingga Desember 2026 mendatang. Jabatan Gol A Gong sendiri telah berakhir pada 2025, kemudian terbetik kabar, disebabkan oleh efisiensi anggaran negara, jabatan itu ditiadakan untuk tahun berikutnya.
Banyak yang menyayangkan jika Duta Baca Indonesia melalui Perpustakaan Nasional RI akan dihapus, sementara saya tahu ribuan lokus telah dijangkau Duta Baca Indonesia menebarkan semangat berliterasi di tengah rendahnya minat baca masyarakat Indonesia. Indikator rendah itu, sudah terlalu banyak datanya dalam berbagai survei.
Dan, meski tidak turut hadir langsung di acara pengukuhan Duta Baca Indonesia 2026 di Perpustakaan Nasional RI yang disertai Peluncuran Relawan Literasi Masyarakat (RELIMA) 2026 dan Peluncuran Aplikasi Sir5 dan Inlislite versi 3.3, Senin, 18 Mei 2026, saya mengikuti peristiwa itu dari beranda media sosial di tengah perjalanan ke Kabupaten Solok Selatan. Di dinding Facebook-nya, Gol A Gong menulis: “Alhamdulillah, saya melanjutkan amanah sebagai Duta Baca Indonesia hingga Desember 2026. Ini untuk mengisi kekosongan karena efisiensi. Pengukuhannya di Gedung Teater, Perpustakaan Nasional RI, Salemba, Jakarta Pusat, Senin 18 Mei 2026.”
Gol A Gong juga meminta didoakan oleh masyarakat Indonesia agar ia bisa amanah mengemban tugas mulia itu dan selalu dalam keadaan sehat di usianya yang tak lagi muda. Tentu, kita mengucapkan selamat, Duta Baca Indonesia tetap hadir di tengah-tengah kita untuk terus menyalakan lentera literasi yang tak boleh padam.
Agustus 2025 lalu, di halaman Facebook-nya ia menulis catatan berjudul “Sayonara, Duta Baca Indonesia” dan “Usulan untuk Relawan Literasi Masyarakat 2026.” “Sayonara, Duta Baca Indonesia” itu disertai sejumlah agenda literasi Gol A Gong menjelang berakhirnya jabatan sebagai Duta Baca Indonesia yang telah ia emban sejak 2021 hingga akhir 2025.
Sehabis masa jabatannya sebagai Duta Baca Indonesia, Gol A Gong melakukan Safari Literasi ke sejumlah kota di Pulau Jawa dan beberapa negara Eropa sebagai perpisahan dan bentuk rasa syukur karena sepanjang 2021—2025 kegiatan sebagai Duta Baca Indonesia yang dilakoninya berjalan lancar dan dimudahkan.
“Itu karena dukungan dan bantuan semua orang,” ujarnya merendah.
Banyak sudah kota di Indonesia hingga ke pelosoknya yang telah disinggahi dan “dibakar semangat berliterasinya” oleh Duta Baca Indonesia. Saya juga masih ingat sekitar 2016 lalu Gol A Gong sekeluarga datang ke Padang Panjang, mampir ke rumah saya, dalam safari literasi, jauh sebelum menjadi Duta Baca Indonesia. Tahun 2023 ia juga menyinggahi taman bacaan saya di pelosok Kabupaten Pasaman Barat, di kaki Gunung Talamau. Gol A Gong memang luar biasa.
Pendiri Rumah Dunia di Banten yang aktif mengampanyekan “Membaca Itu Sehat, Menulis Itu Hebat” ini sosok pegiat literasi tangguh yang telah lama saya kenal. Gol A Gong seorang pejalan yang tak sungkan mendatangi daerah di pelosok hanya untuk mengajak masyarakat khususnya anak-anak agar mau membaca dan menulis. Bukan hanya mengajak, ia juga mencontohkan sebagai seorang pembaca dan penulis.
Gol A Gong menyadari membaca dan menulis adalah fondasi paling penting dalam membangun gerakan literasi yang utuh, sebelum literasi lainnya tumbuh.
Dalam amatan dan catatan saya, Gol A Gong sosok duta baca dari kalangan pegiat literasi masyarakat yang ideal. Jika satu periode jabatan duta baca telah ia jalani, saya menaruh harapan kalau masih ada kesempatan, ia dapat menjabat kembali posisi itu, meskipun barangkali ia akan menolak disebabkan faktor usia atau lebih memberi kesempatan kepada tokoh-tokoh lainnya. Tapi syukurlah satu tahun ke depan Duta Baca Indonesia masih dapat digerakkannya.
Jika jabatan Duta Baca Indonesia hilang atau dihilangkan, saya juga menyayangkan, sebab duta baca telah menjadi produk ikonik Perpustakaan Nasional yang teladannya dapat menjadi api penyemangat pegiat-pegiat literasi lainnya.
Gerakan literasi Indonesia yang masih panjang ini tetap membutuhkan sosok duta baca yang berdiri di garda terdepan, menjadi ‘role model’. Tidak dipungkiri bahwa dua dekade terakhir gerakan literasi Indonesia tumbuh pesat, meski tak sedikit rintangan dan tantangan yang dihadapi, tapi bukan berarti kerja telah selesai. Mengutip Chairil Anwar, “kerja belum selesai, belum apa-apa.”
Gol A Gong adalah Duta Baca Indonesia di luar kalangan artis yang dipilih Perpustakaan Nasional RI. Ia menggantikan duta baca yang juga presenter kondang Najwa Shihab (2016—2020). Sebelum Najwa ada Andy F. Noya (2011—2015) dan Tantowi Yahya (2006—2010). Gol A Gong sendiri sebagai Duta Baca Indonesia sejak 2021—2025 punya harapan kalau produk ikonik Perpustakaan Nasional RI ini tidak berhenti sampai di titik eksistensinya saja hanya gara-gara efisiensi anggaran. Jika pun dihapus sebab efisiensi anggaran, Gol A Gong pribadi tidak rugi apa-apa, tapi sangat disayangkan tentu ketika tren literasi baca-tulis di lapangan sedang baik, duta baca dihilangkan. Jika benar-benar itu terjadi, pasti akan berimbas pada duta baca-duta baca di daerah yang berkemungkinan jabatan itu juga akan hilang ditelan waktu disebabkan kebijakan.
Selain duta baca, Perpusnas RI saat ini memiliki eksistensi Relawan Literasi Masyarakat (Relima), dan saat ini pegiat-pegiatnya tengah berada di berbagai daerah di Indonesia mengemban tugas literasi mereka. Di tahun 2026, Gol A Gong berharap Relima juga datang ke sekolah-sekolah, menyapa mereka. Relima harus proaktif dan produktif mengampanyekan literasi. Selain jadi fasilitator, Relima juga menjadi teladan literasi baca-tulis. Menurut Gol A Gong, Relima jangan sekadar administrasi, mereka harus jadi parameter literasi baca-tulis di masyarakat. Ada karya berbentuk buku yang mereka tulis, terutama dari gagasan di lapangan sepanjang menjadi relawan literasi.
Kita sering menghakimi anak-anak Gen Z atau Gen Alpha bahwa literasi baca-tulis mereka rendah. Terutama kita terlalu menghamba pada hasil riset PISA. Datangnya Relima ke sekolah-sekolah, tidak hanya ke TBM, kampus, atau di ruang seminar saja, dampaknya akan makin meluas bagi gerakan literasi.
“Berikan wawasan tentang manfaat membaca dan ajari mereka menulis. Jika mereka diajari menulis, otomatis mereka akan membaca dengan baik. Kata pepatah Cina, menulis adalah membaca dua kali,” ujar Gol A Gong suatu hari.
Di titik inilah kita perlu menegaskan kembali bahwa menulis adalah salah satu pilar utama peradaban. Dengan menulis, pengetahuan tidak sekadar lewat seperti angin, tapi terekam, terwariskan, dan melahirkan generasi pembelajar. Menulis menjadikan seseorang tidak hanya sebagai konsumen informasi, melainkan produsen pengetahuan. Anak-anak yang sejak dini dibiasakan menulis akan terbiasa berpikir runtut, kritis, sekaligus kreatif. Mereka tidak mudah terombang-ambing oleh arus informasi instan, karena telah memiliki keterampilan memilah dan merangkai gagasan.
Di sisi lain, keberadaan perpustakaan sebagai rumah besar pengetahuan harus terus dihidupkan. Perpustakaan bukan hanya gudang penyimpan buku, tapi juga ruang hidup, tempat dialog, pusat kreativitas, dan arena kebudayaan. Tanpa perpustakaan yang aktif, literasi hanya menjadi jargon kosong. Karena itu, setiap pegiat literasi, termasuk Duta Baca Indonesia maupun Duta Baca Daerah, sejatinya adalah perpanjangan tangan pemerintah dalam usaha mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana amanat konstitusi.
Mereka menjembatani masyarakat dengan perpustakaan, menghadirkan buku ke tangan pembaca, dan menyalakan semangat menulis pada generasi muda.
Apabila jabatan duta baca ditiadakan, maka gerakan literasi kehilangan wajah ikoniknya. Duta Baca adalah simbol sekaligus motor penggerak, yang mampu menggerakkan publik dengan keteladanan. Perpustakaan Nasional RI harus mempertahankan eksistensi Duta Baca, bahkan memperkuatnya. Sebab justru di tengah derasnya gelombang digitalisasi, kehadiran figur nyata yang menyapa sekolah, kampus, TBM, hingga kampung-kampung literasi semakin penting.
Harapan saya, Duta Baca Indonesia jangan dihapus. Duta baca harus terus ada, harus menjadi estafet panjang yang tidak terputus, dari generasi ke generasi, dari pusat hingga daerah. Para Duta Baca Daerah yang telah mengakar di banyak provinsi dan kabupaten/kota pun perlu dijaga keberadaannya. Dengan begitu, gerakan literasi tidak hanya menjadi wacana nasional, tapi gerakan nyata yang hadir di rumah-rumah, di ruang-ruang kelas, di desa-desa, di warung kopi, dan di lorong-lorong negeri ini. (MUHAMMAD SUBHAN)
(Sumber foto dari laman Duta Baca Indonesia 2021-2026)
Editor : rianto Muradi

Leave a Response