Opini

Menggugat Eksistensi Asosiasi Profesi Komunikasi di Indonesia : Berfungsi Sebagai Penjaga Industri atau Sekadar Organisasi Seremonial

15views

Oleh : M Kh Rachman Ridhatullah Wakil Ketua Departemen Kerjasama Asosiasi Profesi PP ISKI 2026-2030 Founder & Managing Director QUARTIAN KREASI DIGITAL

Transformasi digital telah mengubah hampir seluruh wajah industri komunikasi di Indonesia. Public Relations tidak lagi sekadar mengurus media relations. Periklanan tidak lagi hanya bicara billboard dan iklan televisi. Media tidak lagi dimonopoli ruang redaksi. Bahkan event management kini berkembang menjadi experiential communication yang terintegrasi dengan media sosial, data digital, dan ekonomi kreator.

DI tengah perubahan besar tersebut, satu pertanyaan penting mulai muncul : apakah asosiasi profesi di industri komunikasi Indonesia saat ini masih benar-benar relevan? Pertanyaan ini penting karena selama puluhan tahun asosiasi profesi dianggap sebagai “rumah besar” industri. Organisasi seperti PERHUMAS, APPRI, P3I, AMSI, IVENDO dan sebagainya pernah menjadi simbol legitimasi profesi sekaligus ruang konsolidasi industri komunikasi nasional. Namun realitas hari ini menunjukkan kondisi yang jauh lebih kompleks. Banyak asosiasi profesi mulai menghadapi krisis relevansi. Mereka tetap eksis secara administratif, tetapi pengaruh substantifnya terhadap perkembangan industri semakin dipertanyakan.

Masalah paling mendasar adalah banyak asosiasi masih terjebak dalam pola lama : terlalu birokratis, terlalu seremonial, dan terlalu nyaman menjadi klub elite profesi. Kegiatan mereka sering kali berhenti pada seminar, pelantikan pengurus, pemberian penghargaan, forum diskusi formal, atau aktivitas networking eksklusif. Semua terlihat aktif di permukaan, tetapi minim dampak strategis terhadap perubahan dan penjagaan industri yang makin berlangsung sangat cepat.

Padahal dunia komunikasi saat ini sedang bergerak brutal. Disrupsi digital melahirkan content creator, influencer economy, AI-generated content, media independen, personal branding consultant, hingga creative freelancer yang bekerja tanpa batas organisasi formal. Mereka bergerak cepat, cair, fleksibel, dan sangat adaptif terhadap teknologi.

Sementara sebagian asosiasi masih bekerja dengan pola lama yang lamban dan hierarkis. Akibatnya, asosiasi mulai kehilangan kedekatan dengan generasi baru industri komunikasi. Banyak profesional muda merasa asosiasi tidak memberi manfaat praktis bagi perkembangan karier mereka. Mereka lebih memilih belajar melalui komunitas digital, forum kreatif, LinkedIn, Discord, Telegram, atau jejaring kolaboratif informal yang dianggap lebih relevan dengan realitas industri saat ini.

 Alarm Serius.

Sebab ketika asosiasi tidak lagi menjadi pusat pengetahuan dan inovasi, maka eksistensinya perlahan hanya berubah menjadi simbol administratif. Organisasi tetap ada, kepengurusan tetap berjalan, acara tetap berlangsung, tetapi pengaruhnya terhadap arah industri semakin mengecil.

Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah krisis regenerasi. Banyak asosiasi profesi di Indonesia masih didominasi pola senioritas dan lingkaran elite yang sulit ditembus generasi baru. Jabatan organisasi sering kali lebih dipahami sebagai simbol prestise dan legitimasi sosial dibanding ruang transformasi industri. Akibatnya, ide-ide baru sulit masuk. Kepemimpinan berjalan stagnan. Organisasi kehilangan daya inovasi. Bahkan dalam beberapa kasus, asosiasi terlihat lebih sibuk menjaga struktur internal dibanding membaca perubahan masa depan.

Fase Paling Disruptif.

Artificial Intelligence mulai mengambil alih banyak pekerjaan komunikasi : copywriting, media monitoring, desain visual, customer engagement, analisis sentimen, hingga produksi konten otomatis. Dalam beberapa tahun ke depan, sebagian profesi komunikasi bahkan berpotensi mengalami redefinisi besar-besaran. Ironisnya, belum banyak asosiasi profesi di Indonesia yang benar-benar serius membangun roadmap menghadapi era AI tersebut.

Sebagian masih sibuk membicarakan sertifikasi formal, sementara industri justru bergerak menuju kompetensi berbasis portofolio, kreativitas, dan kemampuan adaptasi teknologi. Di sinilah kritik paling tajam terhadap asosiasi profesi sebenarnya berada: mereka terlalu fokus menjaga struktur organisasi, tetapi kurang agresif membangun ekosistem masa depan.

Padahal seharusnya asosiasi memiliki posisi strategis yang sangat penting. Asosiasi idealnya menjadi : pusat riset industri, laboratorium tren komunikasi, penghubung regulator dan pelaku industri, penjaga etika profesi, pusat pengembangan future skills, sekaligus ruang kolaborasi lintas sektor.

Apalagi di era banjir informasi, hoaks, manipulasi digital, dan krisis kepercayaan publik, industri komunikasi membutuhkan institusi yang mampu menjaga standar etika dan integritas profesi. Komunitas informal mungkin bisa membangun kreativitas dan networking, tetapi tidak semuanya mampu menciptakan standardisasi profesi dan advokasi kebijakan industri secara sistematis. Di titik inilah asosiasi sebenarnya masih sangat dibutuhkan.

Masalahnya, kebutuhan terhadap asosiasi tidak otomatis membuat asosiasi menjadi relevan. Relevansi harus diperjuangkan melalui transformasi nyata. Asosiasi profesi komunikasi tidak bisa lagi hanya menjadi organisasi administratif yang hidup dari iuran anggota dan acara tahunan. Mereka harus berubah menjadi knowledge ecosystem yang aktif memproduksi gagasan, riset, data industri, pelatihan future skills, hingga advokasi kebijakan digital. Mereka juga harus membuka ruang lebih besar bagi generasi muda, kreator digital, startup komunikasi, dan profesi-profesi baru yang lahir dari perkembangan teknologi.

Jika tidak, maka asosiasi cenderung hanya akan menjadi “museum profesi” : dihormati karena sejarahnya, tetapi tidak lagi menentukan arah masa depan industrinya. Sebab, masa depan industri komunikasi tidak akan menunggu organisasi yang lambat berubah. Karena itu, pertanyaan besar hari ini bukan lagi : “Apakah asosiasi profesi masih penting?” Jawabannya : masih. Tetapi pertanyaan yang jauh lebih penting adalah : “Apakah asosiasi profesi mampu berevolusi dalam memberikan kontribusi konkret pada industri?” Jika jawabannya tidak, maka industri komunikasi Indonesia akan bergerak tanpa mereka. Dan ketika itu terjadi, asosiasi hanya akan menjadi penonton dari perubahan besar yang seharusnya mereka pimpin sendiri. **( Penulis Wakil Ketua Departemen Kerjasama Asosiasi Profesi PP ISKI 2026-2030 Founder & Managing Director QUARTIAN KREASI DIGITAL)

Editor : Rianto Muradi

Leave a Response