Musik dan Budaya

Riefki Cipta Dari Jamming ke Karya Orisinal

6views

 

 

BANDUNGPOS (Bandung, 8/5/2026). Di tengah dinamika industri musik yang terus berubah, selalu muncul nama-nama baru yang membawa semangat segar. Salah satunya adalah Riefki Cipta, musisi muda asal Kota Bandung yang mulai menapaki kariernya pada awal pandemi Covid-19 di era 2020-an. Di balik usianya yang relatif muda, tersimpan tekad kuat untuk menjadi musisi yang tidak sekadar tampil, melainkan berkarya dengan dedikasi tinggi.

Mengawali perjalanan bermusik, Riefki menempuh proses yang tidak instan. Ia kerap melakukan sesi jamming bersama grup musik Mat Bitel, membawakan lagu-lagu standar dari The Everly Brothers, The Beatles, hingga berbagai lagu oldies. Fase ini menjadi ajang penjajakan sekaligus validasi untuk mengasah jam terbangnya sebagai musisi.

Memasuki tahun 2020, saat pandemi Covid-19 melanda, Riefki sempat “menghilang” dari panggung. Namun, alih-alih berhenti, ia justru memanfaatkan masa tersebut untuk memperdalam kemampuan vokal dan gitar di bawah bimbingan sang ayah, Sonny Bugytech. Dari proses inilah kemudian lahir grup band Crossroads yang mengusung aliran blues dengan kiblat pada gaya permainan Eric Clapton.

Selama satu tahun penuh, Riefki berlatih secara konsisten hingga mencapai kematangan musikal. Bersama Crossroads, ia mulai aktif sejak 2021 hingga 2025. Band ini tidak hanya tampil sebagai grup biasa, melainkan menghadirkan kualitas permainan yang serius dan berkarakter.

Kekuatan musikal Crossroads semakin terasa melalui sejumlah live recording yang mereka produksi. Dengan sentuhan produksi dari Sonny Bugytech yang berpengalaman di dunia rekaman, hasil rekaman terdengar matang dan enak dinikmati. Materi tersebut kemudian dirilis melalui kanal YouTube resmi mereka dan mendapat respons positif dari pendengar.

Perjalanan Riefki semakin mendapat pengakuan ketika sejumlah musisi senior seperti Benny Soebardja, Fariz RM, Chandra Darusman, hingga Tantowi Yahya memberi kepercayaan untuk tampil bersama dalam berbagai pertunjukan di tanah air.

Berbekal pengalaman tersebut, Riefki terdorong untuk melangkah lebih jauh: menciptakan karya sendiri. Ia kemudian membentuk proyek baru bernama The Neo’s dan merilis tiga lagu orisinal, yakni Impian dan Naungan, Berdansa di Sudut Kota, dan Bukan Itu. Dua lagu terakhir menghadirkan nuansa aransemen khas era 1980-an, dengan sentuhan yang mengingatkan pada gaya musikal Fariz RM dan Chandra Darusman.

Ketiga karya tersebut kini telah tersedia di platform Spotify dan mencatatkan sekitar 63.000 pendengar sebuah capaian yang patut diapresiasi bagi musisi independen yang tengah berkembang.

Sebagai bentuk apresiasi sekaligus ruang diskusi, karya-karya Riefki akan dibedah dalam acara Resonansia yang menghadirkan kurator musik Sonny Bugytech, Gugun Sommah, dan Alda Abdillah. Acara ini digelar pada Sabtu, 25 April 2026, pukul 18.30 WIB di Lima Tujuh Coffee, Jl PHH Mustofa No. 57 Bandung serta akan menampilkan The Neo’s dan Gubby.

Pada akhirnya, perjalanan Riefki Cipta menjadi pengingat bahwa proses, konsistensi, dan keberanian untuk berkarya adalah fondasi penting dalam bermusik. Sebab, sebaik-baiknya membawakan karya orang lain, akan selalu lebih bermakna ketika seorang musisi mampu melahirkan identitasnya sendiri melalui karya orisinal. (kin sanubary/sir)

Leave a Response