Bandung Raya

Penghapusan Siaran PERSIB vs PSIM, Antara Diskriminasi Digital dan Pengkhianatan Rakyat Kecil

15views

KOTA BANDUNG, Bandungpos. Id – Amarah dan kekecewaan mendalam meledak di seantero jagat maya maupun dunia nyata, membuat hati jutaan Bobotoh se-Jawa Barat. Laga krusial PERSIB Bandung menghadapi PSIM Yogyakarta yang digelar Senin (4/5/2026) pukul 15.30 WIB di Stadion GBLA, secara mengejutkan dicabut hak siarnya di televisi nasional. Keputusan Indosiar yang justru mengalihkan frekuensi untuk menayangkan duel lain seolah menjadi pendengaran keras, menandakan bahwa basis suporter terbesar di Indonesia ini seolah tidak lagi layak dinikmati secara gratis oleh rakyat kecil. Bagi mereka yang tinggal di pelosok, ini bukan sekadar pergantian jadwal, melainkan sebuah pelanggaran ekosistem terhadap loyalitas.

Di Kabupaten Kuningan, kemarahan itu terwakili melalui suara Sanudin. Baginya, keputusan ini adalah bentuk hukuman bagi mereka yang secara ekonomi maupun geografis tidak memiliki akses yang layak. “Apakah karena kami tidak dapat berlangganan aplikasi berbayar? Karena sinyal di desa kami lemah, lalu hak kami untuk menyaksikan waktu lisensi dicabut?” katanya dengan nada tajam. Ia menegaskan bahwa banyak di antara komunitasnya yang bahkan asing dengan sistem berlangganan digital. Ini, menurutnya, adalah murni diskriminasi digital, di mana warga daerah diposisikan sebagai penonton kelas dua.

Sementara itu, di Batujajar, Sumarna, yang selama lebih dari satu dekade menjadi penjaga tradisi menonton bersama bagi warga sekitar, merasa kehilangan ruh pergerakannya. “Selama ini kami hadir sebagai satu kesatuan: tukang ojek, buruh, petani, semua berteriak dan berduka bersama. Kini, layar yang biasa menyatukan kami dipadamkan paksa. Yang tersisa hanyalah suara dari radio dan kebisuan,” keluhnya. Baginya, stasiun televisi telah menayangkan kepercayaan akar rumput yang selama ini menjadikan siaran sepak bola sebagai ritual sosial yang mempersatukan.

Inti dari kemarahan ini bukan sekadar soal akses, melainkan soal keadilan dan prinsip. Mengapa klub dengan basis massa terbesar harus dikorbankan demi kepentingan platform komersialisasi? Dukungan loyalitas seolah diperas untuk penjualan tiket dan merchandise, namun saat momen penentu tiba, mereka justru dikurung di balik tembok pembayaran. Sepak bola yang seharusnya menjadi milik rakyat, perlahan bertransformasi menjadi komoditas eksklusif yang hanya bisa dinikmati oleh kalangan tertentu yang memiliki kemampuan finansial dan teknologi.

Protesnya pun tak terelakkan di media sosial. Tagar dan komentar pedas membanjiri akun resmi penyiar dan liga, menuntut kejelasan dan keberpihakan. Suara-suara keras transmisi agar hak siar dikembalikan ke saluran yang lebih berpihak pada tradisi dan rakyat. Namun hingga kini, respons yang datang hanyalah kebisuan yang semakin mempertegas rasa dikhianati.

Pada akhirnya, cinta Bobotoh pada PERSIB tak akan pernah mati, namun kini cinta itu bercampur dengan getir dan luka. Mereka akan tetap mendukung, meski hanya lewat radio gelombang atau mengobrol di warung kopi tanpa layar. Namun satu pertanyaan besar menggantung: Apakah sepak bola kini benar-benar telah lepas dari tangan rakyat? Jika penjelasannya ya, maka jangan heran jika suatu saat stadion akan sepi, bukan karena tak ada cinta, tapi karena rakyat sudah lelah dijadikan alat, lalu disingkirkan saat tak lagi dianggap menguntungkan. ( Tanya/Id )***

Leave a Response