
Oleh: Ridhazia
DIBERITAKAN, Persib Bandung masih berpotensi kuat untuk juara Liga 1 2025/2026 dibanding Borneo FC Samarinda.
Meski sama-sama mengantongi 66 poin, Persib saat ini masih berada di posisi puncak karena unggul head-to-head (H2H) atas Borneo FC.
Jangan Persija!
Jika Persib Bandung harus tersingkir oleh Borneo FC Samarinda di akhir liga tak apalah. Asal bukan dimenangkan Persija Jakarta yangenduduki klasemen ketiga .
Bagi Bobotoh, melihat Persija mengangkat trofi adalah hal yang sangat berat untuk diterima. Sejarah panjang konflik antar suporter yang terlalu kelam.
Perseteruan Maung Bandung dengan Macan Kemayoran yang disebut-sebut salah satu yang terpanas di Asia Persija itu selalu membawa beban sejarah rivalitas yang tak pernah padam.
Apalagi sentimen negatif di media sosial sering kali memperpanas situasi semakin emosional. Kemarahan antar suporter kerap melampaui batas.
Sejak 1930
Rivalitas Persib Bandung dan Persija Jakarta sudah ada sejak era kolonial Belanda tahun 1930-an.
Saat itu kedua klub masih bernama BIVB (Bandoeng Inlandsche Voetbal Bond) dan VIJ (Voetbalbond Indonesische Jacatra).
Persaingan ini semakin memanas pada era Perserikatan Era Perserikatan antara tahu. 1950-an-1980-an. Pertandingan antara Persib dan Persija sering dianggap sebagai laga prestise.
Hal serupa terulang hingga memasuki era Liga 1 sejak 2017 yang bertransformasi menjadi BRI Super League pada musim 2025/2026.*
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.




