Olahraga

Audiensi dengan Komisi D, Sejumlah Cabor Tuntut Pengurus KONI Kabupaten Bandung Mundur, Ini Alasannya 

49views

KAB BANDUNG, Bandungpos.id – Perkumpulan Ketua Cabang Olahraga Kabupaten Bandung yang berada di bawah binaan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Bandung menyampaikan sejumlah keluhan kepada Komisi D DPRD Kabupaten Bandung.

Mereka diterima Ketua Komisi D H Cecep Suhendar dan jajarannya di ruang Komisi D Gedung DPRD Kabupaten Bandung, Soreang Kamis (9/4/2026).

Dalam audiensi ini, mereka juga sampaikan aspirasi kepada dewan terkait pengurus KONI Kabupaten Bandung (Ketua. Waketum, Sekum, Bendahara) untuk segera mengundurkan diri dari jabatannya karena dinilai selama ini kepengurusan periode 2021/2027 tidak mampu mengelola organisasi, terutama dalam mengelola anggaran KONI dengan baik.

Sedikitnya ada 10 poin alasan yang disampaikan perkumpulan Ketua Cabor ke Komisi D untuk menurunkan Pengurus KONI. Antara lain:
1. Ketidak mampuan jajaran pimpinan KONI dalam memimpin Lembaga KONI Kabupaten Bandung.
2. Penggunaan Anggaran KONI yang tidak transparan.
3. Kurangnya perhatian dan pembinaan atlet yang berprestasi di Kabupaten Bandung sehingga banyak atlet yang pindah ke daerah lain.
4. Lebih parah lagi pindahnya atlet ke daerah lain atas persetujuan KONI Kabupaten Bandung dan ada indikasi penggantian wang pindah ke daerah lain menyalahi aturan.
5. Cabor-cabor di KONI Kabupaten Bandung pembinaan tidak merata bahkan cabor cabor berprestasi banyak yang di abaikan.
6. Ada Cabor yang rutin menerima dana pembinaan tetapi tidak bisa berangkat BK PORDA karena tidak ada atletnya Lebih parah lagi Pengurus Ketua Cabornya adalah pengurus KONI Kabupaten Bandung.
7. Pembinaan terhadap Cabor di Kabupaten Bandung, di duga menguntungkan Cabor yang menjadi pengurus KONI bukan berdasarkan prestasi.
8. Ada beberapa cabor berprestasi yang tidak diperhatikan oleh KONI Kabupaten Bandung. Atlet berprestasi tidak ada upaya mengikat dan memberikan pembinaan kepada atlet atlet tersebut, sehingga menimbulkan keresahan atlet dan banyak yang pindah ke daerah lain.
10. Puncaknya ada surat pernyataan untuk mengirimkan atlet secara mandiri tanpa dibuntu KONI bagi Cabor yang tidak meraih Medali Emas pada BK PORDA 2024.

“Kami menjaga marwah Kabupaten Bandung dan menyelamatkan nama baik Kabupaten Bandung pada PORDA XV tahun 2026 maka kami melakukan audiensi dengan perwakilan Cabor untuk membahas masalah tersebut,” ungkapnya.

Komisi D Segera Panggil Pengurus KONI

Menanggapi keluhan Perkumpulan Ketua Cabor tersebut, Ketua Komisi D Cecep Suhendar mengatakan, akan segera memanggil pengurus KONI Kabupaten Bandung untuk menjelaskan duduk persoalan yang terjadi di KONI dan para Cabor.

Kaitan itu, Ia meminta pengurus KONI segera menyampaikan persoalan sebenarnya kepada para Cabor.

“Nah tentunya ini saran saya dan sebagai ketua komisi D, minta pengurus KONI segera mensolidkan, berkomunikasi dengan para cabor. Kemudian transparan terhadap semua keadaan yang ada di kita, baik kaitan dengan target, kaitan dengan anggaran, dan hal apapun sehingga cabor merasa diperhatikan,” papar Cecep Suhendar kepada wartawan, usai audiensi.

Cecep menilai, persoalan ini kalau tidak segera diliuruskan akan berpengaruh juga terhadap target raihan 100 medali emas pada Porvop 2026.

“Ini saya menilai, baik ketika sebelum terjadi, karena target kita emasnya kan 100 nih, target emas 100. Itu target ketua KONI, ada target bupati, termasuk target dewan dong di situ,” ungkap Cecep.

Namun adanya aksi dari para Cabor ini, Cecep menilau, ini hal positif untuk mengevaluasi keberadan KONI.

“Nah ketika ada hal yang dianggap akan mengganggu terhadap target tersebut, ini sesuatu yang bagus. Jadi saya menilai positif dan baik bahwa sebelum terjadi, ini ada info-info yang bisa menghalangi pencapaian 100 emas tersebut.,” katanya.

Bahkan, lanjut Cecep,  mereka (cabor) bilang kalau hal ini dibiarkan, yakin target 100 emas hanya akan tercapai 30 medali emas.

“Nah, ini kan saya kecewa kalau begitu.
Jadi saya tetap ingin 100 emas. Sehingga saya menyarankan pengurus KONI segera kuatkan barisan, ajak komunikasi cabor, sampaikan semua permasalahan dengan transparan,” kata Cecep Suhendar.

Cecep menjelaskan, persoalan atau keluhan para Cabor yang masuk ke pimpinan DPRD dan didisposisi untuk dibahas di Komisi D. Antara lain, satu dianggap tidak transparan. Kemudian ketidakmampuan jajaran pengurus KONI dalam memimpin lembaga KONI. Kurangnya perhatian dan pembinaan atlet yang berprestasi di Kabupaten Bandung. Terus yang lebih parah lagi ada atlet yang pindah.

Kemudian, imbuhnya, cabor-cabor di Kabupa Bandun dalam uang pembinaannya tidak merata. Bahkan ada cabor yang berprestasi banyak yang diabaikan. Ada cabor yang rutin menerima dana pembinaan tetapi tidak bisa berangkat BK Porda. Pembinaan terhadap cabor di Kabupaten Bandung diduga lebih menguntungkan cabor yang dipegang oleh pengurus KONI, mereka lebih diprioritaskan.

Selain itu, ada beberapa cabor yang berprestasi yang tidak diperhatikan oleh KONI dan tidak ada upaya pembinaan kepada atlet berprestasi. Sehingga menimbulkan keresahan atlet dan banyak yang pindah ke daerah lain. Puncaknya ada surat pernyataan untuk mengirimkan atlet secara mandiri tanpa dibantu oleh biaya KONI.

Menurut Cecep, persoalan lain adanya pemberian biaya operasional terhadap cabor yang harus diterangkan KONI, karena beberapa cabor berbeda perlakuan atau besarannya.

“Ini harus dijelaskan dan diterangkan, kemudian termasuk sarana-prasarana. Ada diskriminasi cabor karena munculnya realisasi cabang olahraga yang akan diprioritaskan untuk menjadi peserta di Porda XVI atau PORPOP 15 sehingga disitu ada 4 level,” kata Cecep.

Seperti halnya level 1 yang mendapat 4 emas atau di atas 4 emas akan mendapat prioritas dan mendapat anggaran KONI. Sedangkan yang level 2 (3 emas ke bawah), kemudian level 3 (2 emas dan satu emas) biayanya mandiri.

“Ini perlu klarifikasi dari pengurus KONI dan jajarannya, karena mereka mengaku disodorkan surat pernyataan. Bahwa ketika yang level di bawah atau di atas satu, itu harus menggunakan dana pribadi untuk membiayai keberangkatan di Porda. Jadi di bawah 4 itu sendiri dalam biayanya,” terang Cecep. (Ads)

Leave a Response