OpiniPendidikan

Positive Illusion

Positive Illusion

85views
Oleh: Hamdan Juhannis ( Rektor UIN Alauddin)

Ilusi positif berbeda dengan berpikir positif, yaitu berpikir positif dari suatu kejadian. Sementara ilusi positif memikirkan sisi positif sesuatu yang sama sekali tidak terjadi. Meyakini sisi positif sesuatu yang bertentangan dengan kenyataan yang sebenarnya.

ADA istilah menarik yang berkembang dari bincang subuh dengan jamaah masjid, “ilusi positif”. Kita paham bahwa ilusi itu adalah hayalan, pikiran yang tidak nyata. Jadi apa yang dihayalkan adalah sesuatu yang baik atau positif.

Ilusi positif mungkin berbeda dengan berpikir positif, yaitu memikirkan sisi positif dari suatu kejadian. Sementara ilusi positif memikirkan sisi positif sesuatu yang sama sekali tidak terjadi. Meyakini sisi positif sesuatu yang bertentangan dengan kenyataan yang sebenarnya.

Apa yang menarik dari teman jamaah yang mencetuskan istilah ini dalam diskusi itu. Ternyata ilusi positif sangat bermanfaat untuk mempertahankan keutuhan diri dan menjaga kebersamaan kekompok. Saya mencoba membedah istilah ini dalam perspektif psiko-sosial.

Seseorang yang suka memelihara ilusi positif cenderung percaya diri, tidak mudah merasa rendah diri. Karena dia membayangkan dirinya memiliki kelebihan yang bisa dimanfaatkan dalam interaksi sosialnya. Dia bisa memanfaatkannya untuk bekerja atau berjuang keras karena dia membayangkan dirinya menjadi orang kaya, dihormati, atau terfasilitasi.

Ilusi positif juga bisa membantu bertahannya keberadaan seseorang dalam sebuah kelompok. Ia membayangkan dirinya dibutuhkan dalam kelompok tersebut. Ia melihat dirinya sebagai salah satu orang berjasa pada kelompok tersebut. Dia membayangkan tanpa kehadirannya organisasi itu tidak mungkin berkembang.

Ilusi inilah yang membuat dia merasa nyaman pada kelompok itu. Dia lebuh tanpa berkumpul dengan mereka. Semua yang dia pikirkan adalah sesuatu yang sama sekali tidak terjadi dalam kenyataan kehidupan kelompok tersebut.

Yang paling menarik, adalah pernyataan anggota jamaah ini bahwa sebenarnya keutuhan kehidupan berkeluarga itu sebagian besarnya karena dukungan ilusi positif dari masing-masing pasangan. Isteri selalu meyakini bahwa suami adalah yang paling bermakna dalam hidupnya. Suaminya sangat bertanggung jawab. Suaminya tipe memahami dan sangat pemaaf. Suaminya pendengar yang baik. Pencari nafkah yang andal.

Pada aspek fisik, isterinya meyakini suami adalah orang terganteng se-kompleks atau se-RT. Ia memiliki tubuh yang “sixpack”, rambut yang lebat hitam berombak. Giginya tersusun rapi saat senyumnya merekah. Padahal itu hanyalah ilusi yang bertahan dan sama sekali sudah berlalu.

Demikian pula suami, dia tetap “bucin” pada isterinya, dan selalu mesra pada puluhan tahun kebersamaannya. Yang dibayangkan adalah masa muda pasangannya yang selalu didaur ulang dalam hayalannya. Ilusi positif inilah yang membuat mengapa ada yang terjebak pada cerita nostalgia yang tak berujung. Mengaku saja-lah!** Penulis Rektor UIN Alauddin, bertempat tinggal di Makasar.

Editor: Rianto Muradi

Leave a Response