
Oleh: Wati Susilawati
GUBERNUR Jawa Barat, Dedi Mulyadi resmi melarang siswa SD dan SMP di seluruh Jawa Barat membawa ponsel (HP) mulai 2 Mei 2025.
Tujuan dari kebijakan itu baik. Selain untuk meningkatkan konsentrasi belajar dan performa akademik. Juga mendorong interaksi sosial di lingkungan sekolah tidak terputus karena keberadaan ponsel.
Aksesibilitas Selektif
Kebijakan Gubernur itu pun terukur. Yakni memberi pengecualian untuk mata pelajaran tertentu mengunakan ponsel secara selektif dan terbatas untuk menopang kebutuhan belajar.
Dengan kata lain, ponsel tidak sepenuhnya dilarang digunakan di sekolah. Tapi dianjurkan penggunaanya sepengetahuan pengajar dan seizin pihak sekolah.
Pengecualian ini sangat baik sekaligus mengisyaratkan kalau akses terhadap internet sebagai keharusan untuk percepatan pembelajaran, terutama untuk membuka akses pada sumber belajar.
AI sebagai Sumber Belajar
Kecerdasan Buatan (AI) telah bertransformasi dari sekadar teknologi akademik menjadi sumber belajar yang fundamental dan efektif di dunia pendidikan modern.
Penggunaan AI bukan sebatas alat bantu belajar yang menawarkan pendekatan yang lebih personal, efisien, dan aksesibel.
AI juga mampu menghadirkan akses informasi yang jauh lebih cepat dibandingkan metode tradisional dengan sumber belajar terbatas pada buku teks tercetak dan pengetahuan guru kelas.
Apalagi teknologi pembelajaran memanfaatkan AI di dunia telah berevolusi menjadi ekosistem hibrida yang paling dinamis sekaligus menjadi fondasi proses belajar-mengajar modern yang tidak bisa dihindari lagi.
Persekolahan Jepang dan Amerika misalnya telah lama menggunaka akses ke AI sebagai sumber dan alat bantu belajar. Di kedua negara itu ada kewajiban AI digunakan para guru dalam pembelajaran untuk menopang proses belajar mengajar lebih komprehensif.
Guru dan murid bersama-sama mengeksplorasi bahan ajar dari jurnal ilmiah untuk diringkas menjadi poin-poin penting bahan ajar yang dikemas dalam embelajaran sintetis yang cerdas dan sintetis. Tidak hanya mampu mengidentifikasi teks, tetapi juga memahami konteks.
Guru Era AI
Guru di era AI meniscayakan bukan lagi sekadar pusat pengetahuan (sage on the stage) melainkan sosok yang terbuka dan bertransformasi menjadi mentor, fasilitator, dan arsitek belajar bagi siswanya dengan mengkolaborasikan manusia dan teknologi informasi tanpa harus kehilangan fokus pada pengembangan karakter, emosi, dan kreativitas siswa.*
*Dr Hj Wati Susilawati MPd, alumni UPI Bandung, dosen Fakultas Tarbiyah dan Kependidikan (FTK) dan dosen Program Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung.





