Kabupaten/KotaPendidikan

Dari Ngobrol Puisi di SMPN -2 Kinali, Hingga Minum Teh Telur di Rumah Baca Bunda

Pada Selasa, 10 Februari 2026, saya memenuhi undangan SMP Negeri 2 Kinali dalam kegiatan bedah buku antologi puisi karya guru dan siswa.

409views

BERKUNJUNG -ke Pasaman Barat belum lengkap rasanya kalau tak mampir ke SMP Negeri 2 Kinali. Dari pusat Kota Simpang Empat, perjalanan menuju Kinali menempuh jarak sekitar 23 kilometer, dengan waktu tempuh kurang lebih 35—45 menit.

Kinali merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat, dengan luas wilayah 482,69 kilometer persegi.

Sepanjang perjalanan, hamparan kebun kelapa sawit mendominasi pandangan. Pohon-pohon itu berdiri rapi, seperti barisan yang diam-diam menyimpan denyut kehidupan masyarakat di sekitarnya, termasuk denyut literasi di sekolah-sekolah.

Pada Selasa, 10 Februari 2026, saya memenuhi undangan SMP Negeri 2 Kinali dalam kegiatan bedah buku antologi puisi karya guru dan siswa.

Buku tersebut berjudul “Bersatu dalam Semangat Pancasila”. Sebuah kegiatan sederhana, namun penuh semangat, karena puisi-puisi di dalamnya lahir dari ruang kelas dan pengalaman batin anak-anak usia SMP.

Judul buku itu terasa unik dan kontekstual. Isinya memuat puisi-puisi bertema Pancasila, hasil kolaborasi guru dan siswa SMP Negeri 2 Kinali serta SMP Negeri 5 Kinali.

Buku ini ditulis dan disunting oleh Yulina Wisna Jaya, M.Pd. (Guru SMP Negeri 2 Kinali), Emi Fianti, S.Sos.I., Gr. (Guru SMP Negeri 5 Kinali), bersama para siswa dari kedua sekolah tersebut.

Kolaborasi ini menjadi bukti bahwa semangat berkarya dapat tumbuh subur ketika guru dan siswa berjalan beriringan.

Saya selalu merasa bahagia setiap kali bertemu sekolah-sekolah yang memiliki semangat berliterasi, terlebih ketika muaranya adalah penerbitan buku.

Buku bukan sekadar kumpulan teks, melainkan medium dokumentasi karya yang paling elegan.

Di sana ada proses kurasi, penyuntingan, dan kerja kolektif yang melibatkan banyak tangan terampil sebelum akhirnya sampai ke tangan pembaca.

Dalam diskusi buku tersebut, saya membaca dan menganalisis beberapa puisi karya guru dan siswa, lalu mengaitkannya dengan citraan-citraan puitik.

Memang, tidak semua puisi memuat citraan yang kuat, namun justru di situlah proses belajar berlangsung.

Saya kemudian membagikan tips menulis puisi secara sederhana kepada para siswa, dengan menggunakan objek-objek di sekitar: sekotak tisu, secangkir kopi, dan sebuah vas bunga.

Dari objek-objek itu, lahirlah puisi-puisi segar yang ditulis spontan, lalu saya sunting dan bahas kembali bersama mereka.

Dua puisi yang pertama dikumpulkan ditulis oleh Adilla Adinda Putri dan Pasya Pratama. Ini puisinya:

Adilla Adinda Putri
KESENDIRIAN

malam dingin
angin berembus
di palung kesunyian

aku terpaku
dalam ingatan semu
ditemani secangkir kopi

sekotak tisu
menjaga air mata
yang telah lama kubendung

jiwaku sepi. sepi sekali
seperti vas bunga
yang menyendiri
di sudut rumah ini

Kinali, 2026

Pasya Pratama
SECANGKIR KOPI, TISU, DAN BUNGA

kopi itu pahit
“seperti hidup ini,” kata ayah
ia tatap bunga yang mekar di vas meja

siang beranjak
udara bertuba

dan setelah hening panjang
ayah bergumam, “yang manis
itu hanya kamu.”

ibu tersipu
ia meraih selembar tisu
sementara di kepalanya
bersarang tungku api
yang belum menyala
sejak pagi

Kinali, 2026

Dua puisi sederhana itu menarik. Puisi “Kesendirian” karya Adilla Adinda Putri menunjukkan keberanian batin seorang siswa dalam mengekspresikan perasaan sepi melalui citraan sederhana. “Malam dingin”, “secangkir kopi”, “sekotak tisu”, hingga “vas bunga yang menyendiri”, semuanya hadir sebagai simbol kesunyian yang tertata rapi.

Puisi ini berhasil memanfaatkan benda-benda konkret untuk menghadirkan suasana emosional yang utuh, meski ditulis dengan diksi yang sangat hemat.

Sementara itu, puisi “Secangkir Kopi, Tisu, dan Bunga” karya Pasya Pratama menawarkan narasi yang lebih dialogis. Ada percakapan ayah dan ibu, ada pahit kopi yang dianalogikan dengan hidup, dan ada kehangatan cinta keluarga yang disampaikan secara lirih.

Penutup puisi ini terasa kuat meski kontras dan getir, terutama pada metafora “tungku api yang belum menyala”, yang memberi ruang tafsir sekaligus kedalaman makna.

Dari proses ini, para siswa menyadari bahwa untuk tahap awal, menulis itu ternyata tidak sesulit yang dibayangkan.

Menulis bisa dimulai dari gagasan objek benda-benda di sekitar, dari pengalaman sehari-hari, dan dari keberanian untuk jujur pada perasaan sendiri.

Puisi menjadi pintu masuk yang ramah untuk mengenal dunia literasi.

Seusai acara bincang buku di SMP Negeri 2 Kinali, saya diajak kawan-kawan menuju Rumah Baca Bunda, yang juga berada di wilayah Kinali.

Rumah baca itu berdiri di tengah hamparan kebun sawit, seolah menjadi oase kecil bagi siapa saja yang rindu bacaan dan percakapan.

Pegiat literasi yang mendampingi saya siang itu adalah Suria Tresna dan Puspa Dani, keduanya peserta Sekolah Menulis elipsis (SMe) yang saya ampu, serta Yani Sestria, penulis dan pegiat literasi Pasaman Barat.

Di Rumah Baca Bunda, kami disambut hangat oleh keluarga Fera Susanti. Jamuan makan siang telah terhidang. Di meja ada ikan bakar, sambal terasi, rebusan pucuk ubi, asam gulai durian, dan aneka lauk lain yang menggugah selera.

Makan siang terasa lebih nikmat karena disertai obrolan tentang buku, anak-anak, dan mimpi-mimpi yang dirawat bersama.

Saat tiba di beranda taman bacaan itu, pandangan saya tertumbuk pada tiga anak yang tengah tekun membaca buku. Mereka duduk bersila, larut dalam halaman demi halaman, seolah dunia di sekitarnya menghilang. Pemandangan itu sederhana, namun menggetarkan.

Di tengah lahan sawit, tumbuh kebiasaan membaca yang dirawat dengan penuh kesabaran.

Sehabis makan, putri Fera Susanti, Nada, membawakan segelas teh telur. Ia letakkan di meja saya. Saya mengucapkan terima kasih.

Perut sudah kenyang, dapat teh telur pula. “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” Seolah ada suara yang berbisik di telinga saya. Tak habis-habis saya bersyukur.

Teh telur, minuman khas Minang itu, bukan sekadar pelepas dahaga, tetapi juga simbol keakraban dan kebersamaan. Di SMP Negeri 2 Kinali dan di Rumah Baca Bunda hari itu, saya menemukan semangat keakraban dan kekeluargaan.

Terima kasih atas sambutan dan jamuannya, SMP Negeri 2 Kinali dan Rumah Baca Bunda. Teruslah berkarya melahirkan generasi emas Indonesia. **Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis

Leave a Response