Musik & Budaya

Ngopi Sewarung, ‘Pion Kecill’, di Balik Kekuatan Proxy Besar

Mereka adalah bagian dari granddisain kekuatan global yang sedang berusaha mencegah agar Nusantara tidak bisa tumbuh dan berjaya kembali seperti yang pernah terjadi di masa sebelumnya. Idiom-idiom serta bahasa agama sengaja dipakai dan dipilih sebagai alat dakwah, agitasi dan propaganda, karena dianggap paling efektif seperti yang pernah dipraktekkan oleh Snoeck Horganje saat penjajah Belanda berhasil menaklukan Nusantara.

172views

Ngopi Sewarung:

‘Pion Kecill’, di Balik Kekuatan Proxy Besar

Mereka adalah bagian dari granddisain kekuatan global yang sedang berusaha mencegah agar Nusantara tidak bisa tumbuh dan berjaya kembali seperti yang pernah terjadi di masa sebelumnya. Idiom-idiom serta bahasa agama sengaja dipakai dan dipilih sebagai alat dakwah, agitasi dan propaganda, karena dianggap paling efektif seperti yang pernah dipraktekkan oleh Snoeck Horganje saat penjajah Belanda berhasil menaklukan Nusantara.

ADA  kelompok agama atau kelompok orang yang rajin membawa nama agama dan ayat-ayat Tuhan dengan motif untuk kepentingan duniawi (kepentingan politik). Misi mereka bukan membawa kebenaran atau menuju dan mencari kebenaran, melainkan mencari dan melakukan pembenaran atas apapun yang menjadi tujuan duniawi mereka. Ayat-ayat suci dipotong-potong dicari yang yang sesuai dengan tafsir keinginan dan tujuan mereka. Hadist bisa diutak-atik dan dipilih sesuai interpretasi keinginan, kalau perlu membuat hadist baru atau membuang hadist yang sekiranya tidak menguntungkan tujuan. Jika ada kelompok orang atau individu yang kurang sejalan dengan tujuan dan keinginan, maka mereka menyerangnya menggunakan ayat-ayat Tuhan dan bahasa agama yang dipilih sendiri. Kalimat kafir, murtad, sesat, dzolim, dst paling sering dan gampang mereka pakai untuk menyerang, menekan bahkan memfitnah pihak yang tak sejalan. Sejauh ini mereka sangat fokus menyerang kelompok atau individu yang sungguh-sungguh sedang berjuang menghidupkan kembali Marwah dan akar religi serta budaya bangsa Nusantara. Karena itu, tokoh figur seperti Kang Dedi Mulyadi (KDM) dan Presiden Ketujuh Joko Widodo yang jadi simbol semangat kebangkitan spirit Nusantara terus menerus menjadi sasaran kritik dan fitnah.

Mereka adalah bagian dari granddisain kekuatan global yang sedang berusaha mencegah agar Nusantara tidak bisa tumbuh dan berjaya kembali seperti yang pernah terjadi di masa sebelumnya. Idiom-idiom serta bahasa agama sengaja dipakai dan dipilih sebagai alat dakwah, agitasi dan propaganda, karena dianggap paling efektif seperti yang pernah dipraktekkan oleh Snoeck Horganje saat penjajah Belanda berhasil menaklukan Nusantara. Atau seperti yang dilakukan pihak Barat (Amerika dan Eropa) saat menaklukkan negara-negara penghasil minyak di kawasan Timur Tengah lewat pembentukan jaringan proxy ISIS, boneka Usamah bin Laden, dll. Pola dan strategi yang dimainkan di tanah air saat ini hampir sama persis seperti yang mereka mainkan di kawasan Timur Tengah sebelum sebagian negara di kawasan tersebut hancur lebur. Cara yang mereka gunakan diantaranya ialah memaksimalkan kecanggihan sistem algoritma media sosial dan mengisinya dengan konten-konten hoaks politik, hoaks agama, adu domba antar kelompok umat dan anak bangsa, pendangkalan nilai ideologi negara, pelemahan semangat nasionalisme, penyempitan pemikiran dan pemahaman ajaran agama, dll. Kasus ijasah Jokowi yang saat ini viral hanya contoh langkah kecil dari sekian banyak modus yang akan dan sedang dimainkan untuk membuat kegaduhan (tepatnya kekacauan) di dalam negeri. Mereka memanfaatkan berbagai masalah dan isu sensitif yang sedang viral sebagai kendaraan atau pintu masuk (entry point). Dan Roy Suryo Cs hanya pion kecil saja yang sedang dimainkan oleh kekuatan proxy besar atau yang populer disebut “orang besar.”

Get the feeling
Mr. Ten

Leave a Response