Pendidikan

Sekolah, Kekerasan, dan Jalan Pulang ke Kemanusiaan

Sekolah, Kekerasan, dan Jalan Pulang ke Kemanusiaan

271views

Oleh Muhammad Subhan

KASUS pengeroyokan seorang guru oleh sejumlah siswa di sebuah sekolah menengah kejuruan di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi, di awal tahun 2026, menyedot perhatian publik dan mengejutkan kesadaran kita bersama.

Video yang tersebar luas di media sosial bukan sekadar rekaman peristiwa, namun bersifat ikonik yang membuka persoalan lebih dalam tentang rapuhnya hubungan kemanusiaan di ruang-ruang belajar yang seharusnya ditegakkan.

Insiden itu bermula dari sebuah kejadian di kelas, atau sebuah kesalahpahaman yang kemudian membesar menjadi tindak kekerasan.

Guru berinisial AS melintas di koridor sebuah kelas, ia mendengar suara teriakan “woy” yang disangka ditujukan kepadanya. Ia masuk ke dalam kelas tanpa meminta izin kepada guru siapa yang mengajar, kemudian bertanya kepada siswa yang tertarik pada kata itu.

Seorang siswa berinisial ML maju ke depan kelas, dia mengaku. Spontan, tanpa aling-aling, guru AS melayangkannya ke wajah ML. Itu pengakuan siswa ML melalui video rekaman yang tersebar luas.

Siswa ML merasa diperlakukan tidak adil. Lalu emosi bertemu emosi, dan akal sehat tersisih.

Dalam hitungan jam, sekolah yang seharusnya menjadi taman untuk tumbuh kembang justru berubah menjadi arena konflik.

Dalam video yang lain, guru AS setelah dimediasi guru lainnya berusaha menyampaikan permintaan maaf di hadapan siswa. Namun permintaan maafnya dianggap tidak menyentuh subtansi persoalan. Bahkan menakutkan, guru AS sampai mengancam siswa dengan senjata tajam serupa celurit.

Bagai gunung es, letusan kemarahan siswa pun meledak. Kemudian tampak dalam video itu, kerumunan siswa mendekati guru AS lalu terjadi saling pukul. Bagai sebuah aksi tinju di atas ring tetapi tanpa wasit.

pilu. Dada terasa sesak menyaksikan peristiwa itu di sebuah lembaga pendidikan.

Tentu saja, kami tidak bermaksud menunjuk siapa yang paling salah dan siapa yang paling benar. Sebab dalam setiap konflik, terutama di dunia pendidikan, kebenaran jarang berdiri sendiri. Ada rantai sebab-akibat, ada konteks, ada beban emosi yang dibawa masing-masing pihak.

Yang lebih penting adalah bagaimana kita membaca peristiwa ini sebagai koreksi bersama: tentang cara guru menegur, cara siswa merespons, dan cara sekolah mengelola perbedaan.

Guru, dalam pandangan Ki Hadjar Dewantara, adalah pamong, penuntun. “Ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani.” Di depan memberi teladan, di tengah membangun semangat, di belakang memberi dorongan.

Teguran adalah bagian dari pendidikan, tetapi teladan dan keteduhan jauh lebih menentukan.

Ketika teguran disampaikan dengan emosi, tanpa koreksi, ‘check and recheck’, apalagi dengan kekerasan fisik atau verbal, pesan pendidikan berubah menjadi ancaman.

Di situlah wibawa guru moral justru jatuh, meski niat awalnya mungkin baik: mendisiplinkan.

Di sisi lain, siswa juga sedang belajar menjadi manusia dewasa. Mereka membawa kegelisahan remaja, tekanan sosial, dan kadang-kadang luka-luka yang tidak terlihat. Namun, apa pun alasannya, kekerasan terhadap guru tidak dapat dibenarkan.

Aksi hakim utama sendiri disertai ucapan-ucapan sarkas dengan penyebutan nama-nama hewan tidak sepatutnya disampaikan, apalagi kepada guru yang seharusnya digugu dan ditiru.

Menghormati guru bukan sekedar aturan sekolah, melainkan fondasi peradaban. Di ruang kelas, guru bukan musuh, melainkan mitra dalam perjalanan pengetahuan. Ketika rasa hormat hilang, yang tersisa hanyalah kekacauan.

Peristiwa di Tanjung Jabung Timur ini menunjukkan betapa pentingnya literasi risiko dan manajemen konflik di sekolah. Literasi tidak hanya soal membaca buku, tetapi juga membaca situasi, membaca emosi, membaca potensi bahaya.

Sekolah perlu membekali guru dan siswa dengan keterampilan mengelola konflik: bagaimana menyampaikan penolakan tanpa menyakiti, bagaimana meminta maaf tanpa merasa direndahkan, bagaimana menahan diri saat emosi memuncak.

Mediasi yang dilakukan oleh pihak sekolah, aparat, dan dinas pendidikan adalah langkah yang tepat, tetapi itu baru penanganan di hilir. Di hulu, pendidikan karakter dan keterampilan penyelesaian konflik harus menjadi bagian dari kurikulum kehidupan sehari-hari.

Manajemen konflik bukan berarti menyelesaikan masalah, melainkan mengubahnya menjadi peluang belajar. Setiap penerbitan adalah kesempatan untuk menumbuhkan empati.

Guru belajar bahwa kewibawaan lahir dari keteladanan, bukan dari rasa takut.

Siswa belajar bahwa keberanian sejati bukan mengeroyok, melainkan mengungkapkan kebolehan dengan santun. Sekolah belajar bahwa ketenangan tidak datang dengan sendirinya, tetapi dirawat dengan dialog budaya.

Sekolah, pada hakikatnya, adalah ruang menyemai nilai-nilai kebaikan. Di sanalah benih kejujuran, tanggung jawab, dan welas asih ditanam.

Jika ruang itu dipenuhi teriakan dan kemarahan, benih akan sulit tumbuh.

Ki Hadjar Dewantara mengajarkan bahwa pendidikan adalah proses memerdekakan manusia, bukan memerintah. Kemerdekaan itu mencakup kemandirian dari emosi yang tak terkendali dan kemandirian untuk memilih jalan damai.

Pemulihan pascakejadian sama pentingnya dengan penanganan saat konflik terjadi. Kondisi psikologis guru dan siswa perlu khawatir melalui pendampingan, konseling, dan ruang aman untuk bercerita. Bukan untuk mengorek luka, tapi untuk menyembuhkannya.

Ketika sekolah kembali menjadi rumah yang tenang, kepercayaan dapat dirajut ulang.

Kasus ini mengingatkan kita bahwa pendidikan bukan hanya soal kurikulum dan nilai rapor. Ia adalah manusia yang melompati manusia dengan manusia. Di sana ada perasaan, harapan, dan kerentanan.

Jika kita ingin sekolah kembali menjadi rumah kedua yang meneduhkan, baik bagi guru maupun siswa, kita perlu belajar menahan diri, mendahulukan dialog, dan menghidupkan kembali semangat “tut wuri handayani”, membimbing dengan kasih, bukan dengan kemarahan.

Semoga peristiwa ini tidak berhenti menjadi berita viral, tetapi cermin menjadi refleksi. Agar kita semua—guru, siswa, orang tua, dan pengelola sekolah—berani pulang ke nilai-nilai kemanusiaan: saling menghormati, saling menguatkan, dan bersama-sama menumbuhkan generasi yang berkarakter dan menghormati. [] Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, pendiri Sekolah Menulis elipsis.

 

Leave a Response