Kabupaten/KotaSeni Budaya

Geliat dan Desahan Indah Literasi di Usia 22 Tahun Pasaman Barat

Sariamin Ismail atau yang lebih populer dengan nama Selasih. Sastrawati ini tercatat sebagai novelis perempuan pertama Indonesia. Ia menerbitkan novel “Kalau Tak Untung” pada 1934 melalui Balai Pustaka

196views

Oleh Muhammad Subhan

Berbicara literasi di Pasaman Barat, mustahil mengabaikan jejak sejarah Sariamin Ismail atau yang lebih populer dengan nama Selasih. Sastrawati ini tercatat sebagai novelis perempuan pertama Indonesia. Ia menerbitkan novel “Kalau Tak Untung” pada tahun 1934 melalui Balai Pustaka. Sariamin bukan sekadar penulis, tetapi juga wartawan.

PASAMAN BARAT merayakan usia ke-22 pada Rabu, 7 Januari 2026. Sebuah usia yang, dalam hitungan sejarah daerah, masih tergolong muda.

Kabupaten ini lahir dari rahim Kabupaten Pasaman melalui pemekaran berdasarkan Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2003. Namun, di balik usia administrasi yang relatif singkat itu, Pasaman Barat menyimpan dorongan kebudayaan dan semangat literasi yang jauh lebih tua, berlapis, dan terus bergerak mengikuti zaman.

Saya pertama kali menjejakkan kaki di Pasaman pada tahun 2000, tak lama setelah menamatkan SMA. Dengan keberanian ala anak muda dan menulis alamat web di tangan pemberian ibu, saya berangkat dari kota Lhokseumawe, Aceh, bersama seorang kawan. Saya tumpangi bus antarprovinsi dan turun di simpang Panti, lalu melanjutkan perjalanan ke Simpang Empat dan berhenti di Pinagar.

Saat itu belum ada teknologi Google Maps. Yang ada hanyalah keberanian bertanya dan keyakinan bahwa jalan selalu menemukan tujuan. Syukurlah, kampung ibu saya di Kajai akhirnya saya temukan. Perayaan keluarga, dan sejak itu Pasaman Barat tak lagi sekadar nama yang sering diceritakan ibu saya, melainkan telah menjadi bagian dari ingatan dan perasaan.

Dua puluh lima tahun berselang, setiap kali hari jadi Pasaman Barat tiba, saya selalu tergerak untuk mengenangnya dengan cara saya sendiri: menulis. Sejak tahun 2018, saya menyimpan sebuah puisi yang saya periksa kembali setiap tahun. Judulnya cukup panjang: “lenguh ombak sasak, hutan perawan talamau, dalam goresan kanvas kenangan”. Puisi itu sengaja saya tulis seluruhnya dengan huruf kapitil, huruf kecil. Kata “kapital” kini sedang viral karena banyak yang baru mengetahui kata itu lawan dari “kapital”, huruf besar.

Puisi itu bentuk syukur saya, sekaligus penanda bahwa Pasaman Barat hidup dalam kanvas kenangan, hutan perawan Talamau, dan panjang ombak pantai Sasak yang tak pernah benar-benar pergi dari bilik pikir dan bilik batin saya.

Berbicara literasi di Pasaman Barat, mustahil mengabaikan jejak sejarah Sariamin Ismail atau yang lebih populer dengan nama Selasih. Sastrawati ini tercatat sebagai novelis perempuan pertama Indonesia. Ia menerbitkan novel “Kalau Tak Untung” pada tahun 1934 melalui Balai Pustaka. Sariamin bukan sekadar penulis, tetapi juga wartawan, pendidik, dan aktivis perempuan yang lantang menyuarakan keadilan, terutama bagi kaum perempuan Minangkabau. Jejak intelektualnya adalah bukti bahwa tanah Pasaman Barat memiliki akar literasi yang kuat, jauh sebelum istilah “gerakan literasi” populer seperti hari ini.

Warisan itu kini menemukan gaungnya dalam berbagai bentuk. Di Pasaman Barat, saya memiliki banyak kawan penulis dan pegiat literasi. Mereka bergerak dengan cara masing-masing, membangun komunitas, membuka ruang diskusi, dan melahirkan forum-forum literasi. Salah satunya adalah Forum Pegiat Literasi (FPL) Pasaman Barat. Ketua FPL, Denni Meilizon, pernah bercerita tentang cita-cita besar mereka: menghadirkan 900 kantong literasi hingga tahun 2030. Sebuah target yang terdengar ambisius, tetapi justru di situlah letak kemuliaannya. Sebab literasi memang tidak lahir dari kemudahan, melainkan dari kesungguhan dan ketangguhan.

Dukungan infrastruktur juga mulai terlihat. Gedung Perpustakaan Daerah Pasaman Barat kini berdiri megah di jantung kabupaten itu. Beberapa kali saya diundang menjadi narasumber pelatihan dan bimbingan teknis penulisan buku. Yang membuat saya terkesan bukan semata gedungnya, melainkan semangat para pustakawan dan pemustaka. Guru, pustakawan, dan pegiat literasi datang dengan tekad yang sama: membaca, menulis, menerbitkan, dan meninggalkan jejak pengetahuan bagi generasi berikutnya.

Di tingkat sekolah, denyut literasi itu terasa semakin nyata. Seorang kepala sekolah yang juga penulis, Rospiadi, atau yang akrab saya sapa Ustaz Adi, menjadi contoh bagaimana literasi bisa hidup di ruang pendidikan, terutama madrasah. Di SMP IT Cahaya Makkah pimpinannya, ia secara khusus mengundang saya untuk mendampingi siswa dan guru menulis. Dari sekolah itu telah lahir beberapa buku, sementara Ustaz Adi sendiri aktif menulis cerpen dan puisi.

Sekolah tidak lagi sekadar tempat belajar mata pelajaran, tetapi ruang aktif mengembangkan imajinasi dan keberanian berpikir. Ketika semangat guru dan siswa bertemu dari sekolah akan melahirkan banyak karya.

Pengalaman paling personal bagi saya adalah ketika mendirikan Rumah Baca Aia Tayo di Kampung Pasir, Nagari Kajai, di kaki Gunung Talamau. Gagasan itu lahir dari luka dan duka. Gempa bumi berkekuatan 6,1 Mw yang mengguncang Pasaman Barat pada 25 Februari 2022 merobohkan banyak rumah dan memaksa ribuan orang mengungsi. Saya datang menjenguk keluarga yang turut eksodus ke lapangan kantor bupati. Saya sedih. Dan perasaan tak berdaya itu kemudian saya ubah dengan mendirikan taman bacaan. Bersama keluarga besar di Pasaman Barat, kami sepakat untuk menemani anak-anak belajar, membaca, dan menulis.

Hingga kini, Rumah Baca Aia Tayo masih berdiri sebagai pengingat bahwa literasi juga bisa lahir dari puing-puing reruntuhan pascabencana. Dan saya bersyukur, gedung rumah baca itu dibangun melalui donasi ribuan orang baik melalui sebuah lembaga kemanusiaan di Jakarta.

Pasaman Barat adalah wilayah yang kaya sumber daya. Perkebunan kelapa sawit membentang luas, menjadi penopang ekonomi utama daerah. Namun, kemajuan materi tanpa kemajuan literasi akan timpang. Sawit memberi penghidupan, tetapi buku memberi arah. Di balik gerakan literasi menemukan relevansinya: sebagai penyeimbang antara pembangunan fisik dan pembangunan sumber daya manusia.

Ke depan, gerakan literasi Pasaman Barat tidak boleh dibiarkan berjalan sendirian. Ia membutuhkan dukungan nyata dari pemerintah daerah melalui kolaborasi lintas organisasi perangkat daerah. Program-program OPD dapat dibawa ke kantong-kantong literasi, dipadukan dengan kegiatan membaca, menulis, dan berdiskusi. Kampanye “Pasaman Literat”, “Pasaman Membaca”, dan “Pasaman Menulis” perlu terus digaungkan, agar literasi menjadi gerakan bersama, bukan kerja segelintir orang.

Di usia ke-22 ini, Pasaman Barat semakin kuat mengenali diri dan membenahi segala potensinya. Di antara fluktuasi ladang-ladang sawit, banyaknya gedung baru, dan ingatan akan bencana gempa bumi, literasi hadir sebagai benang merah yang mengikat masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Selama masih ada orang-orang yang percaya pada kekuatan kata, Pasaman Barat sendiri akan terus menulis sejarahnya dan membaca dengan penuh harapan. Dan, dengan literasi, semua itu tak mustahil. []

Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, pendiri Sekolah Menulis elipsis.

Leave a Response