Kampusiana

Prof. Mulyana Dikukuhkan Jadi Guru Besar UPI Bidang Ilmu Karakter dan Nilai Pencak Silat

405views

 

Bandung, BANDUNGPOS.ID – Prof. Dr. Mulyana, M.Pd. dari Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan (FPOK) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dikukuhkan menjadi Guru Besar  Bidang Ilmu Karakter dan Nilai Pencak Silat.

Prof. Mulyana  merupakan Dosen di Pendidikan Kepelatihan Olahraga UPI dan pernah menjadi manajer tim silat PON XX Jawa Barat, dikukuhkan sebagai Guru Besar bersama 11 dosen di lingkungan UPI, dalam Upacara Pengukuhan Guru Besar Tahun 2025 di Gedung Achmad Sanusi Jalan Dr. Setiabudhi Nomor 229 Kota Bandung. Kegiatan ini berlangsung selama 2 hari, yaitu Selasa dan Rabu (4-5/11/2025).

Pengukuhan hari pertama terdapat enam orang Guru Besar yang dikukuhkan diantaranya Prof. Dr. Erlina Winayarti, M.Pd. (FPIPS), Prof. Dr. Juhanaini, M.Ed. (FIP), Prof. Dr. Diding Nurdin, M.Pd. (FIP), Prof. Dr. Ernawulan Syaodih, M.Pd. (FIP), Prof. Dr. Mulyana, M.Pd. (FPOK), dan Prof. Dr. Mamat Supriatna, M.Pd. (FIP)

Sementara upacara pengukuhan dihari kedua, guru besar yang akan dikukuhkan diantaranya Prof. Dr. Supriadi, M.Pd. (UPI Kampus Serang), Prof. Gin Gin Gustine, M.Pd., Ph.D. (FPBS), Prof. Ika Lestari Damayanti, M.A., Ph.D. (FPBS), Prof. Dr. Andhy Setiawan, S.Pd., M.Si. (FPMIPA), Prof. Dr. Elah Nurlaelah, M.Si. (FPMIPA) dan Prof. Dr. Heni Mulyani, M.Pd. (FPEB).

Usai dikukuhkan sebagai Guru Besar, Prof. Mulyana mengucap syukur alhamdulilah. Baginya ini adalah perjuangan panjang.

“Saya berupaya untuk mengangkat nama bela diri tradisional pencak silat dikancah akademik tertinggi. Mudah-mudahan langkah awal ini bisa terus saya lanjutkan sampai pencak silat menuju Olimpiade,” ujar Prof. Mulyana sesaat usai acara pengukuhan, Selasa (4/11/2025).

Prof. Mulyana melihat sisi lain dari pencak silat. Dalam penilaiannya pencak silat tidak hanya sisi fisik. Karena  di pencak silatpun  punya sisi pendidikan karakter  dan mengembangkan aspek moral.

“Saya sekarang sedang mengusulkan pusat keunggulan pencak silat dalam upaya untuk mendukung road to Olimpik. Selain itu saya juga akan memberikan suporting  dari data-data, misalnya bagaimana pencak silat itu hidup di masyarakat kemudian bagaimana pencak silat itu bisa mendidik masyarakat, mengembangkan moral dan juga menjadi cabang olahraga yang disuka dunia,” ujar Wakil Ketua II KONI Kota Bandung ini.

Action pertama yang akan dilakukan Prof. Mulyana adalah pengumpulan hasil-hasil riset pencak silat dan berkesinambungkan dengan pendidikan karakter . Prof. Mulyana mengakui pencak silat ada hubungannya dengan politik.

“Sekarang ini kita sedang mencari dukungan dari federasi-federasi olahraga internasional. Kalau mereka sudah mengakui pencak silat maka kita akan diakui secara resmi. Mudah-mudahan tahun 2038 Indonesia menjadi tuan rumah Olimpiade dan pencak silat bisa langsung bertanding di kancah itu (Olimpiade),” tutur Prof. Mulyana.

Untuk mewujudkan hal tersebut – urai Prof. Mulyana, pihak yang pertama dirangkul adalah Departemen Luar Negeri kemudan PB. IPSI. Bagi Prof. Mulyana saat ini momentumnya tepat karena Presiden Prabowo Subianto adalah orang silat . Dengan demikian perjuangan Presiden Prabowo membawa pencak silat di pentas Olimpade bisa lebih power full.

“Pencak silat yang merupakan warisan budaya tak benda merupakan pintu gerbang untuk lebih memperkenalkan silat di kancah dunia. Jadi olahraga itu sisi lainnya. Silat itu mengandung 4 aspek yakni mental spiritual, beladiri, seni dan olahraga. Nah kita sekarang mendorong aspek olahraganya,” papar Prof. Mulyana.

Saat ini pencak silat sudah ada di hampir 80 negara. Yang jadi masalah, federasinya belum diakui oleh IOC nya masing-masing negara. Saat ini organisasinya sudah ada yakni Persekutuan Pencak Silat Antarbangsa (Persilat) atau International Pencak Silat Federation (IPSF) yang didirikan olah tokoh pencak silat tanah air, almarhum Eddie .M Nalapraya.

Sementara itu pada  kesempatan pengukuhan Guru Besar tersebut, Rektor Universitas Pendidikan Indonesia Prof. Dr. Didi Sukyadi, M.A menyampaikan bahwa pengukuhan ini merupakan tonggak panjang dalam bidang keilmuan sekaligus momentum untuk meneguhkan kembali peran universitas dalan membangun peradaban bangsa.

“Pengukuhan guru besar adalah pengakuan tertinggi dalam jabatan akademik namun maknanya jauh melampaui dari sekedar gelar atau kedudukan, gelar tersebut adalah amanah moral dan intelektual untuk menjaga marwah pengetahuan serta tanggungjawab untuk menuntun generasi penerus menuju kebenaran dan kebijaksanaan,” kata Rektor UPI.

Rektor UPI mengingatkan sebagai guru besar ada kewajiban yang harus dijalankan untuk diri sendiri, diantaranya sebagai guru besar tentu akan memikul beban tanggungjawab yang besar khususnya dalam memajukan perkembangan ilmu pengetahuan sesuai bidangnya masing-masing.

Oleh karena itu, ia berpesan kepada para guru besar yang dikukuhkan jangan pernah berhenti melakukan riset, jangan berhenti mencari ilmu dan jangan berhenti memberikan pencerahan kepada para mahasiswanya. (den)

 

 

 

Leave a Response