Kolom Sosial Politik

“Media Darling” Ala Purbaya

313views

 

Oleh: Ridhazia

PURBAYA Yudhi Sadewa terus menerus masuk dalam radar pemberitaan publik begitu tampil di ruang publik. Ia menjadi sosok “media darling” setelah ditunjuk Presiden Prabowo sebagai Menteri Keuangan.

Alumni ITB dan Universitas Purdue AS seakan menjadi antitesis dari sejumlah menteri keuangan sebelumnya yang terkesan tertutup atau terlalu sangat berhati-hati.

Tampilan anak seorang profesor itu yang sebelumnya sebagai Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sering dilukiskan media sebagai sosok yang terbuka dan tidak angkuh dalam merespons media berita.

Apa itu Media Darling?

Istilah media darling pertama kali muncul pada 1977 di harian The Washington Post untuk melukiskan tokoh publik yang memikat hati. Bahkan menjadi sosok kesayangan.

Media darling itu hanya sebutan untuk merepresentasikan tokoh publik yang ramah pada jurnalis dan media berita yang mendorong para jurnalis senang hati meliput sosok tersebut.

Bahkan memberi nilai berita yang tinggi karena ia dianggap sebagai narasumber yang baik tanpa pretensi buruk.

Humble!

Dalam studi ilmu komunikasi publik media darling tidak sepenuhnya karena alasan popularitas. Apalagi gelar, pangkat dan kecerdasan. Tapi lahir dari kepribadian yang humble.

Seseorang yang humble lazim memiliki keyakinan jujur pada dirinya, bersedia belajar hal baru, dan tidak merasa lebih dari orang lain.

Ia bukan saja rendah hati juga sisi terbaik yang humble terbuka dan ramah terhadap pandangan orang lain karena tipe ini berhasil mengendalikan ego.

Bahasa Tubuh

Sosok media darling dipastikan sangat baik dalam bahasa tubuh. Ekspresi wajah dan seluruh badanya, seperti sorot mata, ekspresi wajah, intonasi suara, gerakan tangan dan cara ia duduk dan berjalan lazim mengungkap perasaan dan pikiran melebihi apa yang dikatakan.

Sebagaimana disebutkan dalam riset ilmiah komunikasi, bahas tubuh membentuk hingga 93% komunikasi nonverbal yang memudahkan orang lain menafsirkannya.

Sebab bahasa tubuh dapat memperkuat atau membantah pesan verbal dalam berbagai interaksi sosial. Melebihi keakuratan bahasa lisan. Bahkan berfungsi sebagai jendela ke dalam perasaan dan kebutuhan orang lain.*

 * Rodhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial pulitik, nganjrek di Bandung, Jawa Barat.

Leave a Response