Opini

Air Mata Marah dari Bawah

Jangan pamerkan kekayaan dan gaya hidup borjuis-elitis di ruang publik di tengah himpitan kemiskinan dan kelaparan. Semua itu membuat hati kami tersayat-sayat, perih.

239views

 

Oleh Uten Sutendy 

Jangan pamerkan kekayaan dan gaya hidup borjuis-elitis di ruang publik di tengah kemiskinan dan kemiskinan. Semua itu membuat hati kami tersayat-sayat, perih .

BERKALI-KALI — kami berkata, menulis, dan berteriak lantang.

“Kalian jangan sombong memiliki pangkat dan jabatan di tengah ketimpangan dan ketidakadilan. Semua itu sangat menjijikan dan membuat kami muak.”

Berkali kali-kali kami berpidato di bawah terik matahari dalam kehausan.

“Jangan pamerkan kekayaan dan gaya hidup borjuis-elitis di ruang publik di tengah himpitan kemiskinan dan kelaparan. Semua itu membuat hati kami tersayat-sayat, perih.”

Berkali kali juga kami mengingatkan lewat puisi yang ditulis dalam kesunyian malam.

“Jangan mengumbar tertawa dan senyum sinis di tengah kenaikan harga barang dan aneka kewajiban pajak. Semua itu membuat hati kami terpukul, tertekan.”

Tapi kalian tetap tampil pongah, berdiri dengan kami sambil menunjukkan baju pangkat, padahal pangkat itu kami yang beri.

Kalian tetap tuli dan buta membiarkan berkas aspirasi dan tuntutan kami agar tikus-tikus neger dihukum berat dan rampas semua asetnya. Tapi kalian biarkan menumpuk berdebu di ruang yang sunyi. Tak terasa apalagi palu diketuk.

malah kalian berjoget berpesta pora dalam kemewahan fasilitas dan macam – macam izin melangit seolah sudah bekerja keras dan berprestasi.

Sekarang, kami tak bisa lagi berkata dan menulis. Tangan kami gemetar dan penglihatan mata kami rabun tertutup oleh air mata.

Bukan lagi air mata kesedihan dan ketakberdayaan, melainkan air mata kemarahan.

Kami adalah rakyat yang tertindas dan terlindas.

Kemarahan kami sudah berubah menjadi kumpulan bara api yang menyebar dan membakar

Berubah menggunakan menjadi parang tajam menghunus yang siap dikurung.

Berubah menjad mata air yang mengalir deras ke hilir semua sudut kota dan kampung, menyatu menjadi air bah menerjang tanggul- tanggul sombong dan keangkuhan.

Jangan salahkan kami jika api akan terus membara, pedang tetap terhunus, dan air bah datang menerjang siapapun dan apapun yang menghalangi aliran mengungkapkan hati kami.

Sekali lagi, jangan salahkan kami jika kemarahan kami sudah menjadi api, parang dan air bah yang siap mengelilinginya. Kalianlah yang memulai! Dapatkan perasaan**

Leave a Response