Kolom Sosial Politik

TEROR Artificial Intelligence

279views

 

Oleh: Ridhazia

KATA  Stephen Hawking (1942- 2018) artificial intelligence (AI) selain sebagai keajaiban terbesar untuk kebaikan manusia untuk meningkatkan kehidupan yang lebih baik.

Juga berpotensi mengambil alih dan mengakhiri keberadaan manusia secara masif.

“Perkembangan AI bisa berarti akhir dari umat manusia.” kata profesor Kosmologi dan penulis buku sains populer A Brief History of Time (1988).

Demikian kata Elon Musk. Pebisnis asal Amerika dan pendiri OpenAI secara skeptis mengkhawatirkan perkembangan AI bagi masa depan manusia.

Pendiri Tesla dan Space X itu menganggap AI berpotensi menjadi ancaman eksistensial terbesar bagi umat manusia jika pada suatu saat kecerdasan AI melampaui batas kecerdasan manusia.

Hal serupa pernah dikemukakan Yuval Noah Harari, profesor sejarah dari Universitas Ibrani Yerusalem.

Katanya, jika AI sudah di luar kendali manusia berpotensi menimbulkan ancaman yang mematikan melampaui ancaman senjata nuklir ketika AI dimanfaatkan dalam aplikasi militer

Penulis buku Sapiens: Sejarah Singkat Umat Manusia (2014) dan Homo Deus: Masa Depan Umat Manusia (2015) itu berasumsi kalau AI bukan lagi alat. Tapi sudah berubah menjadi agen perubahan yang otonom dan bebas nilai.

Eksponensial

Meskipun istilah “Artificial Intelligence” baru muncul pada tahun 1956, akar pemikiran dan penelitian AI mesin berpikir sudah mampu melakukan peningkatan kemampuannya bersifat eksponensial.

Eksponensial adalah konsep matematika yang menggambarkan pertumbuhan dan perubahan yang sangat cepat dam berhasil meningkatkan kemampuan dirinya sendiri tanpa campur tangan manusia.
Malah memanipulasi manusia untuk melakukan kehendaknya. *

* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati Bandung, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.

Leave a Response