Oleh: Ridhazia
DIBERITAKAN, seorang aktivis enggan menjadi saksi perkara pidana. Alih-alih memberi keterangan atas dugaan penghinaan, ia malah menolak untuk diperiksa. Sekaligus menyatakan kepada media kalau dirinya korban politik.
George K.Simon (1996) dalam bukunya In Sheep’s Clothing: Understanding and Dealing with Manipulative People pribadi yang melakukan playing victim serupaan manipulator. Kebenaran hanya menurut versinya sendiri.
Sekuatnya merebut simpati. Mengambil hati publik dengan mengetuk sisi rasa iba. Hingga mengumbar kisah dizalimi.
Playing Victim
Politik kesamaan nasib untuk merebut simpatik publik tapi manipulatif itu lazim disebut playing victim.
Pelaku berperan sebagai pihak protagonis. Sedangkan lawannya akan diposisikan sebagai antagonis.
BPD dan APD
Peran berlagak menjadi korban itu dalam psikologi terkait masalah gangguan psikotik antara lain Borderline Personality Disorder (BPD) dan Narcissistic Personality Disorder (NPD)
Jika BPD diidentifikasi sebagai gangguan mental serius ditandai citra diri yang jauh melampaui titik fungsi yang sehat.
Terutama, ketidakmampuan mempertahankan persepsi dirinya yang stabil. Kerap berubah-ubah. Nada bicaranya tidak terkontrol. Dan, kerap memaksakan kehendak sepihak.
Sedangkan NPD sebagai gangguan kepribadian dimana merasa dirinya sangat penting. Butuh pujian yang berlebihan hingga membanggakan pencapaiannya.
Entah itu kekuasaan, gelar, pangkat dan keahlian. Kegantengan dan kecantikan, hingga warisan sosial dan keturunan.*
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati Bandung, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.



