Oleh: Entang Rukman, S.Pd Anggota Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN)
KRISIS-– karakter di kalangan remaja saat ini menjadi perhatian serius dalam dunia pendidikan. Tawuran, perilaku konsumtif, hingga rendahnya empati sosial menunjukkan perlunya pendekatan baru dalam pelatihan karakter siswa. Salah satu inspirasi yang belakangan mulai dipertimbangkan adalah pendekatan berdasarkan nilai-nilai kehidupan barak militer—bukan dalam bentuk kekerasan fisik, melainkan melalui struktur, kedisiplinan, ketangguhan, dan tanggung jawab kolektif.
Konsep barak militer dapat diterapkan dalam dunia pendidikan secara kontekstual, terutama dalam kerangka layanan bimbingan dan konseling (BK). Dalam pendekatan ini, konselor berperan bukan sebagai penegak aturan semata, melainkan sebagai fasilitator pembentukan karakter melalui sistem kehidupan yang tertib dan reflektif.
Kedisiplinan dan Struktur:
Barak militer dikenal sebagai tempat yang membentuk perilaku melalui rutinitas, kedisiplinan, dan ketaatan pada aturan. Prinsip-prinsip ini sebenarnya sangat sejalan dengan teori behavioristik dari BF Skinner, yang pembentukan perilaku melalui penguatan (reinforcement). Dalam praktik konseling, ini diwujudkan melalui pembiasaan positif, sistem tanggung jawab, serta rutinitas yang memperkuat keteraturan hidup siswa.
Anindya Paramita, M.Psi., Psikolog Pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia, menjelaskan dalam Jurnal Psikologi Pendidikan Nusantara (Vol. 9, No. 1, 2024):
“Remaja membutuhkan lingkungan yang memberi kejelasan dan konsistensi. Ketika sekolah mampu menghadirkan sistem yang menumbuhkan disiplin secara alami, siswa akan merasa aman, terarah, dan lebih mudah membentuk kontrol diri.”
Namun, Dr. Anindya juga menekankan pentingnya pendekatan humanis dalam penerapan disiplin. Kedisiplinan dalam pendidikan tidak boleh identik dengan hukuman keras, melainkan didampingi dengan empati dan refleksi psikologis.
Ketangguhan Mental dan Konseling Resiliensi:
Barak militer bukan hanya tentang kedisiplinan, tetapi juga membentuk mental tangguh (resilience). Di era pasca-pandemi, layanan konseling sekolah mengatasi tantangan besar: meningkatnya kasus gangguan kecemasan, stres akademik, dan rendahnya daya juang siswa.
Buku The Resilience Factor karya Karen Reivich dan Andrew Shatté (2002) menekankan bahwa ketangguhan emosional bisa terbentuk melalui pengalaman, pelatihan, dan pembiasaan menghadapi tekanan secara sehat. Prinsip ini dapat diterjemahkan di sekolah melalui kegiatan simulatif seperti latihan tanggung jawab kolektif, refleksi kelompok, hingga penguatan sosial yang konsisten.
Nilai-Nilai yang Ditanamkan Melalui Pengalaman:
Thomas Lickona, pakar pendidikan karakter dari State University of New York, dalam Educating for Character (1991) menekankan bahwa:
“Kita menjadi adil dengan melakukan tindakan yang adil. Karakter dikembangkan melalui tindakan, bukan hanya melalui instruksi.”
Artinya, nilai karakter tidak bisa ditanamkan hanya dengan ceramah atau imbauan moral, tetapi harus dihidupkan kembali dalam kegiatan sehari-hari. Konsep barak memberikan ruang bagi siswa untuk menanamkan nilai tanggung jawab, solidaritas, dan integritas melalui kebiasaan bersama.
Pendekatan pendekatan BK dapat bertransformasi: dari sekedar tempat “curhat”, menjadi ruang pelatihan karakter lewat simulasi nyata dalam kehidupan sekolah.
Kontekstual dan Adaptif:
Penting untuk ditegaskan bahwa sekolah bukan lembaga militer. Oleh karena itu, pendekatan militer tidak boleh diterima secara mentah-mentah. Perlunya adaptasi yang kontekstual, sesuai dengan perkembangan psikologis siswa dan prinsip-prinsip pendidikan ramah anak.
Program berbasis struktur barak dapat dikemas dalam bentuk kegiatan harian seperti tanggung jawab kelompok pagi, jurnal reflektif harian, hingga konseling kelompok tematik dengan fokus pada penguatan karakter. Pendekatan ini tetap mengedepankan prinsip non-kekerasan, empati, dan penguatan positif, sebagaimana nilai-nilai dasar layanan BK.
Ketika dunia pendidikan terus mencari cara mengatasi krisis karakter di sekolah, konsep kehidupan barak militer bisa menjadi inspirasi segar—bukan dalam bentuk kekakuan otoriter, tetapi dalam semangat keteraturan, keteguhan hati, dan pembentukan karakter yang nyata. Layanan bimbingan dan konseling memegang peran kunci untuk menerjemahkan pendekatan ini secara psikologis, edukatif, dan berkelanjutan.
Dengan pengawasan yang bijak dan pelaksanaan yang kontekstual, pendekatan berbasis barak bisa menjadi salah satu alternatif menjawab tantangan pembentukan karakter remaja masa kini.** Penulis: Entang Rukman, S.Pd adalah Praktisi dan Pendidik yang tercatat sebagai anggota ABKIN ( Asosiasi Bimbingan Konseling Indonesia





