Bandung Raya

Penelitian LPPM Unisba Tentang Pola Komunikasi dan Pengembangan Kosakata Dasar Anak Autis di SLB C Cipaganti

Penelitian ini mengangkat pentingnya strategi komunikasi efektif bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), khususnya dalam pengembangan kemampuan berbahasa.(foto: heru)
461views

METRO BANDUNG, bandungpos.id — Anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) seringkali mengalami hambatan dalam kemampuan berbahasa, khususnya saat mencoba mengucapkan kosakata sederhana yang sebenarnya umum digunakan. Gangguan pada aspek bahasa reseptif dan ekspresif membuat mereka kesulitan mengomunikasikan keinginan, kebutuhan, atau pendapat mereka. Akibatnya, interaksi sosial dan keterlibatan dalam pembelajaran menjadi terbatas.

Tak hanya itu, siswa ASD juga mengalami kesulitan dalam memahami konsep-konsep abstrak seperti waktu, emosi, atau makna kebahagiaan—berbeda dengan objek konkret yang bisa dilihat dan disentuh. Hal ini menjadi penghambat dalam pengembangan kognitif mereka, terutama saat materi pelajaran menuntut imajinasi atau pemikiran konseptual.

Berangkat dari tantangan tersebut, Dr. Masnipal, S.Pd., M.Pd. bersama tim melakukan penelitian dengan pendekatan yang inovatif. Penelitian berjudul “Identifikasi Kemampuan Pengucapan Bunyi Bahasa Kategori Kosakata Dasar pada Anak Autis Kelompok Mampu Didik melalui Pendekatan Musik Kontrol dan Permainan Tebak Kartu Bergambar” ini dibiayai oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Islam Bandung (Unisba).

Penelitian ini mengangkat pentingnya strategi komunikasi efektif bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), khususnya dalam pengembangan kemampuan berbahasa. Dua pendekatan utama yang digunakan tim peneliti adalah:

  1. Pendekatan Musik Kontrol – Strategi ini memanfaatkan kegiatan bernyanyi bersama untuk memperkaya kosakata serta memperjelas pelafalan siswa. Musik menciptakan suasana belajar yang nyaman, mengurangi tekanan, dan meningkatkan keterlibatan komunikasi.

  2. Metode Tebak Gambar – Strategi ini membantu siswa mengenal kata melalui bantuan visual yang menarik dan menyenangkan, memperkuat asosiasi antara gambar dan makna kata, termasuk untuk konsep-konsep abstrak.

Dr. Masnipal, yang juga merupakan dosen di Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Unisba, menyampaikan bahwa timnya melakukan tahapan yang sistematis. Dimulai dari penilaian awal kemampuan bahasa siswa, dilanjutkan dengan penerapan metode intervensi melalui musik dan gambar, serta pengamatan perkembangan siswa secara berkala. Semua data yang diperoleh kemudian dianalisis dan disusun ke dalam laporan ilmiah yang mencakup hasil temuan dan rekomendasi untuk praktik pembelajaran yang lebih baik di masa depan.

Temuan di Lapangan: Visualisasi Bantu Siswa Mengingat Kosakata

Salah satu anggota tim, Askurifai, S.Sos., M.Si., mengungkapkan bahwa pada tahap awal, saat siswa diminta menyebutkan kosakata tanpa bantuan gambar, tidak ada respon yang muncul. Ini menunjukkan rendahnya kemampuan recall tanpa rangsangan visual. Namun, setelah diperkenalkan gambar, siswa mulai mampu menyebutkan 8 dari 20 kata yang ditampilkan, menandakan efektivitas media visual dalam mendukung ingatan dan pengucapan mereka.

Eksplorasi Musik: Dari Diam hingga Mengenal Huruf

Pada hari kedua, pendekatan musik mulai diperkenalkan melalui lagu anak-anak populer seperti “Balonku”, “Pelangi”, dan “Burung Kakak Tua”. Lagu-lagu tersebut diputar lewat YouTube dan dinyanyikan bersama guru serta tim peneliti. Meski belum muncul respon verbal yang signifikan, siswa menunjukkan fokus tinggi pada elemen visual dalam video.

Menariknya, ketika lirik lagu “Balonku” ditulis di papan dengan baris awal “Balonku ada lima”, beberapa siswa mulai mencoba membaca lirik secara pelan meski tanpa melodi. Ini memperlihatkan perkembangan pada aspek literasi dasar.

Peningkatan Lewat Permainan Visual

Selanjutnya, metode gambar kembali digunakan secara langsung. Hasilnya positif: siswa mulai bisa menyebut dan bahkan menuliskan kosakata yang ditampilkan, meskipun masih dengan bantuan guru pendamping. Ini merupakan kemajuan signifikan dari sisi kemampuan berbahasa dan literasi mereka.

Pendekatan Bertahap: Konkret ke Abstrak

Heru Pratikno, S.S., M.A., yang juga terlibat dalam penelitian ini, menekankan perlunya wawancara dengan guru pendamping untuk menggali lebih dalam proses belajar siswa. Menurut guru, proses pembelajaran dibagi dalam tiga tahap:

  1. Konkret – Memperkenalkan benda nyata atau gambar yang akrab.

  2. Semi Abstrak – Menyebut nama benda dan meminta siswa menunjuk gambar.

  3. Abstrak – Siswa menuliskan nama benda tanpa melihat gambar.

Rangkaian penelitian ini dilakukan di SLB C Cipaganti, Bandung, yang berlokasi di Jalan Hegar Asih No. 1–3. Tak hanya melibatkan dosen dari berbagai fakultas di Unisba, penelitian ini juga menggandeng mahasiswa dari Prodi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sebagai bagian dari kontribusi akademik dan praktik di lapangan.(ask/bnn)

Leave a Response