Bandung Raya

Unisba Gelar High Level Meeting: Menyerap Aspirasi untuk Renstra 2025–2029

Acara ini menjadi ajang bertemunya berbagai pemangku kepentingan dari dalam dan luar kampus. Di antara peserta eksternal hadir Ketua LLDIKTI Wilayah IV Jabar-Banten, Dr. Lukman, S.T., M.Hum., Ketua Kadin Jabar Agung Suryamal Sutisna, Hafizh Nazhar Pahlevi dari Bappeda, dan Kepala Dinas Pendidikan Jabar Dr. H. Purwanto, S.Pd., M.Pd. Dari internal, tampak para Dekan, Ketua Lembaga dan Badan, Kaprodi, Kepala UPT, hingga Tim Penyusun Renstra.(foto: komhumas unisba)
468views

METRO BANDUNG, bandungpos.id Universitas Islam Bandung (Unisba) menggelar pertemuan strategis bertajuk “Harapan Stakeholders Terhadap Unisba” sebagai bagian dari proses penyusunan Rencana Strategis (Renstra) 2025–2029. Forum bergengsi ini dilaksanakan secara hybrid—menggabungkan kehadiran fisik di Ruang Rapat LPPM Unisba dengan partisipasi virtual melalui Zoom Meeting, Rabu (4/6).

Acara ini menjadi ajang bertemunya berbagai pemangku kepentingan dari dalam dan luar kampus. Di antara peserta eksternal hadir Ketua LLDIKTI Wilayah IV Jabar-Banten, Dr. Lukman, S.T., M.Hum., Ketua Kadin Jabar Agung Suryamal Sutisna, Hafizh Nazhar Pahlevi dari Bappeda, dan Kepala Dinas Pendidikan Jabar Dr. H. Purwanto, S.Pd., M.Pd. Dari internal, tampak para Dekan, Ketua Lembaga dan Badan, Kaprodi, Kepala UPT, hingga Tim Penyusun Renstra.

Dalam sambutannya, Rektor Unisba, Prof. Dr. H. Edi Setiadi, S.H., M.H., menekankan bahwa Renstra bukan sekadar dokumen, melainkan kompas yang akan menuntun institusi mencapai arah dan tujuan besarnya. Ia menyatakan, “Renstra adalah fondasi untuk menjalankan aktivitas, mengatur sumber daya, serta sebagai instrumen evaluasi dan pengawasan.”

Ia juga menggarisbawahi pentingnya sinergi antara institusi dan stakeholder. “Renstra harus dijalankan secara nyata, bukan dibentuk atas dasar ambisi pribadi. Ini adalah ruang komunikasi strategis antara Unisba dan para pemangku kepentingan.”

Wakil Rektor II, Prof. Dr. Atih Rohaeti Dariah, S.E., M.Si., menjelaskan bahwa penyusunan Renstra kali ini didasarkan pada evaluasi mendalam terhadap capaian Renstra sebelumnya (2021–2025) serta ditopang oleh Rencana Induk Pengembangan (RIP) 2017–2033. Ia menambahkan bahwa momen pergantian kepemimpinan rektor turut menjadi penentu arah strategi ke depan.

Menurutnya, Renstra 2025–2029 berada dalam fase ketiga dari peta jalan RIP—yakni masa membangun reputasi melalui capaian akademik dan non-akademik yang konsisten dengan nilai-nilai Islam. “Kita tengah merancang transformasi Unisba yang berdampak dan berkelanjutan, fokus pada tata kelola, inovasi, adaptasi, dan spiritualitas Islam,” jelas Prof. Atih.

Menariknya, arah strategis ini juga mengadopsi visi Rektor baru yang dikemas dalam tagline “IMAN” (Islamic Spirit, Maintaining Sustainability, Adaptability, National & Global Excellence). Strategi ini dibentuk melalui analisis TOWS dengan mempertimbangkan kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan yang relevan dengan dinamika nasional dan global.

Sebagai keynote speaker, Dr. Berry Juliandi dari Direktorat Belmawa Kemendikbudristek mengapresiasi langkah Unisba. Ia menyebut forum ini sebagai pijakan awal untuk membentuk kampus yang berdampak nyata. “Mari jadikan momen ini awal dari kolaborasi yang lebih solid dan terarah. Kita perlu kampus yang tidak hanya mencetak lulusan, tetapi juga menghadirkan perubahan bagi masyarakat dan bangsa,” ujarnya.

Dr. Berry juga menekankan pentingnya keselarasan antara kebijakan kampus dengan kebutuhan masyarakat serta dunia usaha, sembari tetap menjaga identitas keislaman Unisba.

Pertemuan ini menjadi ruang diskusi terbuka untuk menggali pandangan stakeholder, memperkuat substansi Renstra, menetapkan indikator kinerja utama dan tambahan, hingga menyusun program-program konkret untuk empat tahun ke depan. Prof. Atih menegaskan bahwa dekan dan pimpinan fakultas memiliki peran strategis dalam merumuskan program yang akan dituangkan dalam Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) 2025.

“Renstra bukan hanya catatan di atas kertas, tapi peta jalan seluruh keluarga besar Unisba. Lewat masukan para stakeholder, dokumen ini akan menjadi lebih tajam, kontekstual, dan aplikatif,” tutup Prof. Atih.(sani/bnn)

Leave a Response