Kolom Sosial Politik

MANGLE Majalah Sunda Tertua Diakuisisi Unpad

677views

Oleh: Ridhazia

Mangle “diselamatkan” dari kepunahan oleh Pusat Budaya Sunda Unpad  untuk memastikan majalah berbahasa Sunda berusia 68 tahun itu bisa terjaga kelanjutan penerbitannya.

Apalagi Mangle telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kekayaan budaya literasi Sunda tertua. Terbit tahun 1957 di Bogor.

Relasi Emosional

Momentum akuisisi Mangle oleh Unpad  sejak 20 Mei 2025 berbarengan dengan adanya relasi emosional antara salah seorang pendiri majalah Mangle Sukanda Kartasasmita yang juga ayah dari Rektor Unpad Prof Arief S. Kartasasmita.

Juga, bersamaan dengan penunjukan budayawan Sunda yang juga mantan Rektor Prof Ganjar Kurnia sebagai Kepala Pusat Budaya Sunda Unpad.

Kesejarahan

Kesejarahan Mangle dimulai dari Bogor Jawa Barat. Terbit pada 21 Oktober 1957 di Bogor.

Kata Mangle  diambil dari bahasa Sunda yang berarti “ranggeuyan kembang” atau untaian bunga. Edisi perdananya dicetak 500 eksemplar dan dibagikan gratis.

Majalah Mangle terbit sekali sebulan selama 1957-1965 dan terbit mingguan dari 1965 hingga sekarang.

Tercatat dalam jajaran pendiri Mangle nama-nama sastrawan Sunda. Antara lain Oeton Moechtar, Rochamina Sudarmika, Wahyu Wibisana, Saleh Danasasmita, Sukanda Kartasasmita, Utay Muchtar, dan Alibasah Kartapranata.

Berubah Wajah

Majalah Mangle versi baru terbit dalam bentuk cetakan bukan media digital berbayar. Tapi perubahan tampak mencolok pada kaper Mangle terbitan baru perdana pada Mei 2025. Tidak lagi menampilkan lagi sosok perempuan.

Perubahan Mangle juga berbeda sepenuhnya dari visi dan misi utamanya dengan Mangle sebelumnya yang sastrawi ringan, menjadi majalah kebudayaan dan pengetahuan soal budaya dengan bobot ilmiah yang relatif menonjol. *

* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.

Leave a Response