Tata Kelola Yang Inklusif, Pasti Untung Banyak
Tata Kelola Yang Inklusif, Pasti Untung Banyak
KOTA BANDUNG, BANDUNGPOS–Dengan Danantara mengelola 844 BUMN dan potensi 1.073 BUMD yang mengelola lebih dari Rp961 triliun, Indonesia memiliki peluang historis untuk menjadikan keuangan inklusif sebagai standar, bukan merendahkan.
Demikian Diungkapkan President Dilans Indonesia, Farhan Helmy di Ruang Kerjanya, hari ini.
Menurut Helmy, Policy Brief terbaru menunjukkan apa yang sebenarnya dapat dilakukan oleh institusi dan perusahaan untuk menyelaraskan dengan Konvensi PBB tentang Hak Penyayang Disabilitas (UNCRPD), UU No. 8/2016 tentang Disabilitas, dan prinsip ESG—sejalan dengan pergeseran global dari nilai pemegang saham ke pemangku kepentingan.
“Jika Anda adalah pemimpin BUMN, BUMD, tim ESG, lembaga pemerintah, atau dewan investasi—posting ini untuk Anda, ” katanya.
Anda menurut Helmy, dapat melibatkan perwakilan kelompok rentan—termasuk penyandang disabilitas dan lansia—dalam komite ESG, di mana pengalaman hidup dan pengetahuan mereka membentuk tata kelola yang inklusif dan akuntabel, serta berpartisipasi dalam strategi untuk: Memantau indikator GEDSI (Kesetaraan Gender, Disabilitas, dan Inklusi Sosial) dalam setiap investasi. Mendorong rekrutmen inklusif: 2% di lembaga publik, 1% di sektor swasta.
Memberikan nasihat investasi sektor pertumbuhan inklusif: teknologi alat bantu, layanan geriatrik, kesehatan, dan lainnya. Menghapus hambatan akses dan memastikan partisipasi sejak awal.
Mengapa hal ini penting?:
Ini bukan sekedar isu hak asasi manusia—ini adalah keunggulan strategis.
Tata kelola yang inklusif menghasilkan keputusan yang lebih baik, kepercayaan yang lebih luas, dan institusi yang siap menghadapi masa depan.
Anda berada dalam posisi untuk mengubah kebijakan menjadi tindakan. Langkah-langkah ini bukan aspirasi semata—mereka nyata, berdasarkan hukum, dan selaras dengan arah pembangunan Indonesia yang berfokus pada pemangku kepentingan dan hak-hak warga negara.
Inklusi di tingkat atas menggerakkan inovasi di akar rumput. SG yang inklusif bukanlah masa depan—tapi standar yang harus kita bangun sekarang.** ( RM/BNN)





