Ngopi Sewarung Edisi Baduy Tugas Cinta dan Investigasi
Ngopi Sewarung Edisi Baduy Tugas Cinta dan Investigasi
Ngopi Sewarung Edisi Baduy
Tugas Cinta dan Investigasi

Gejolak hati Mirsa seperti mempunyai kekuatan gelombang elektkromagnetik yang begitu kuat hingga bisa menembus ruang dan waktu dan bisa dirasakan oleh Suten yang berada di Jakarta, terhalang oleh gunung dan hutan serta jarak yang jauh.
Saat Suten baru terbangun dari tempat tidurnya, tiba-tiba ingatannya melayang ke Tanah Baduy dan kekasihnya Mirsa. Kerinduan pada Mirsa tiba-tiba menyergap seluruh perasaan dan pikiran.
Pucuk dicari ulam pun tiba.Telpon genggamnya di atas meja kecil di samping tempat tidur berdering. “Hai anak muda, ada kabar baik nih. Minggu ini kau harus balik lagi ke Baduy,” terdengar suara lelaki di ujung telpon.
Misalnya itu suara redaktur Karim yang meminta agar Suten masuk lagi ke tanah Baduy terkait info yang beredar ada perusahaan asing yang mulai melakukan ekplorasi penambangan minyak di sekitar Tanah Ulayat Baduy. Kabarnya, pemerintah pusat telah mengeluarkan ijin eksplorasi penambangan minyak seluas 4000 ha di wilayah yang disebut Blok Rangkas (Blok Rangkas).
“Ini masalah serius bro. Mengancam kelestarian Tanah Ulayat Baduy. Kamu harus melakukan investigasi di sana;” perintah Karim dari ujung telpon.
Suten pun bersama sahabatnya, Andrea, berangkat ke Baduy lagi.
Di tengah perjalanan, tepatnya di daerah Bojongmanik, bertabrakan dengan tanah adat Baduy, Suten melihat ada banyak mobil dumptruck ukuran besar membawa alat-alat berat, menderu -deru bergerak sepanjang jalan berkelok menuju puncak bukit. Tak jauh dari tempat itu Suten melihat ada kendaraan alat berat yang sudah beroperasi mengurug lembah dan membabat hutan. Burung-burung berterbangan dan suara mahluk hutan “berteriak-teriak” melihat wilayahnya kini terganggu dan diganggu.
Banyak pertanyaan yang muncul dalam pikiran dan hati Suten.Apa yang ingin mereka lakukan? Siapa sebenarnya mereka? Mau mencari apa di sekitar tanah Ulayat Baduy yang seharusnya semua orang ikut menjaga? Jangan-jangan ekplorasi tambang minyak itu benar-benar sudah berjalan?!
Pertanyaan pertanyaan itu terus bergulir di dalam hati dan pikiran Suten hingga tak terasa ia sudah sampai di Ciboleger (pintu masuk ke Baduy Luar).
Ketika Suten dan Andrea hendak naik ke Kampung Kaduketug, mereka berpapasan dengan Arji, Samani, dan Samin.
“Hai Suten, ngapain kamu balik lagi ke sini?” Hardik Arji dengan suara tinggi.
“Ada apa ini?!” Tanya Suten heran.
“Jangan banyak tanya. Kamu tidak boleh mendekati si Mirsa lagi! Itu melanggar adat!” ujar Arji lagi sambil mengarahkan telunjuk tangan ke arah wajah Suten.
“Mulai sekarang kamu harus jauh jauh dari Mirsa. Dia sudah dijodohkan sama Arji. Kalau tidak kamu bisa celaka..!”Samani mengancam. Mata menatap tajam menyorotkan Suten.
Dapatkan sensasi
Tuan Sepuluh





