BandungPos.id (26/01/2025). Bedah Buku Ekskursi Arsitektur UI 2024 IBAN membahas dokumentasi yang dihasilkan oleh Tim Ekskursi dari ekspedisi suku Iban, yang dikemas dalam sebuah buku yang dievaluasi berdasarkan alur penyampaian, isi, aspek teknis, dan akurasi informasi.
Acara bedah buku ini diselenggarakan di Galeri Emiria Soenassa, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada Jumat, 24 Januari 2025.
Bedah buku ini menampilkan diskusi dari pembicara seperti Ati Bachtiar dan Tim Ekskursi IBAN, termasuk Satrio Rafi Adirangga dan Salvia Claresta Aurel, yang dimoderatori oleh Nadia Fadilah. Diskusi ini bertujuan untuk memperluas perspektif dan membantu mempercepat verifikasi data yang diperoleh sebelum buku dapat diterbitkan dan disebarluaskan.
Diskusi bedah buku ini membahas bagaimana masyarakat Iban hidup selaras dengan alam, komunitas, dan arsitektur. Fokus utama adalah bagaimana arsitektur dapat ada dan terbentuk, serta bagaimana masyarakat hidup di dalamnya.
Arsitektur mereka terbentuk dari kebiasaan, budaya, dan ritual, sehingga rumah panjai (rumah panjang) menjadi bagian sentral dari kehidupan mereka.
“Tujuan utama dari buku ini adalah untuk menjadi dokumentasi dan catatan perjalanan kami dalam menceritakan kisah suku Iban dari perspektif arsitektur,” ujar Satrio Rafi.
Bedah Buku membahas hasil dokumentasi Tim Ekskursi pada ekspedisi Suku Dayak Iban yang dikemas dalam sebuah buku, yang dinilai dari alur penyampaian, isi, teknis, dan kebenaran informasinya.
Aspek-aspek tersebut didiskusikan menurut sudut pandang pembicara serta Tim Ekskursi Iban, guna memperluas dan menghadirkan perspektif baru untuk membantu mengakselerasi kebenaran data yang telah didapatkan sebelum buku dapat disebarluaskan.
Bertindak sebagai pembicara, Ati Bachtiar dan Prof. Kemas Ridwan Kurniawan, S.T., M.Sc., Ph.D.
Ati Bachtiar sangat mengapresiasi program ekskursi Arsitektur UI yang telah berupaya mendokumentasi dan menyebarluaskan kearifan lokal dan kekayaan budaya Indonesia khususnya yang berkaitan arsitektur.
Menurut Ati Bachtiar, Rumah Panjay suku Dayak Iban di desa Batu Bintang sungai Utik kecamatan Embaloh Hulu kabupaten Kapuas Hulu memang pantas dijadikan barometer kehidupan rumah adat di Indonesia secara umum dan rumah panjang suku Dayak secara khusus.
Suku Dayak Iban telah berhasil mempertahankan kelangsungan tradisi hidup bersama secara komunal dalan sebuah rumah adat Rumah Panjang. Berbeda dengan nasib rumah panjang diberbagai suku dayak yang telah ditinggalkan komunitasnya. Rumah adat atau rumah lamin Dayak yang dibangun pada saat ini lebih berfungsi sebagai Balai Pertemuan. Tidak sebagai rumah tinggal yang dihuni oleh puluhan keluarga.
Rumah Panjai Dayak Iban juga telah berhasil mempertahankan hutan adat warisan nenek moyangnya ditengah gempuran deforestasi di tanah Kalimantan hingga mendapat penghargaan dunia international.
Dengan adanya bedah buku tersebut diharapkan bisa memberikan informasi dan wawasan kepada masyarakat tentang Suku Iban dan suku Dayak secara luas yang berhasil mempertahankan kelangsungan tradisi hidup mereka. (Kin Sanubary/BandungPos.id)





